Selasa, 08 Juli 2014

Tale of The Rainbow Rose - #2

why you can’t understand me, i love you so much~

“Hentikan lagumu itu, Leo…” bentakku yang mencoba berkonsentrasi dengan tugas-tugas sekolahnya.

“Aku kan hanya bernyanyi, mencurahkan isi hatiku melalui lagu ?” tanya Leo merengut kesal dari atas pohon. “Aku bosan melihatmu mengerjakan tugas-tugas itu, menjawab soal-soal tentang sejarah kerajaan ini dan sejarah tentang bagaimana penyihir begitu dibenci di kerajaan ini.”

Aku tidak mempedulikan Leo yang terus mengeluh di atas pohon. Terus mencoba menjawab semua pertanyaan di buku yang tebal dan berdebu, yang dipinjam di perpustakaan sekolah.

Di kerajaan mereka memang didirikan sebuah sekolah untuk seluruh rakyat, akan tetapi tidak semua anak yang bisa sekolah di sana. Contohnya Leo, orang tua angkatnya tidak peduli dengan pendidikan anak mereka tersebut sehingga Leo tidak berhenti untuk mengintip suasana kelas untuk ikut belajar. Walaupun begitu, terkadang jika ketahuan anak-anak para petinggi kerajaan, dia akan dipukuli dan langsung diusir dari sekolah. Anehnya, dia tidak marah, hanya tersenyum.

Aku termasuk salah satu yang tidak menyukai tingkah laku Leo yang menurutku itu hal yang sia-sia. Tapi dia tidak pernah menyerah untuk ikut belajar walaupun hanya melalui jendela kelasku. Terkadang aku prihatin melihatnya. Dia seharusnya juga sekolah seperti kami, bukannya berkeliaran tidak jelas. Setidaknya sekarang dia menjadi temanku, teman baik.

“Leo…”

“Hmm ?” jawab Leo sambil memandang ke awan-awan yang kelabu, yang setia menaungi kerajaan mereka. Dia berpikir keras, mencoba memecahkan suatu persoalan yang sama sekali tidak ingin ku ketahui.

“Menurutmu mengapa awan-awan ini hanya kelabu ? Mengapa tidak menurunkan hujan ? Semua orang sedih, jika terus begini kerajaan kita akan mengalami masa paceklik…”
tanyaku serius.

“Aku tidak tahu, Susan..” dia terkekeh. “Kau ingin hujan turun sekarang ?”

“Apa maksudmu, anak balon ?” kataku merasa bahwa perkataanku sama sekali tidak lucu.
“Berhentilah memanggilku anak balon. Jika kau ingin melihat hujan turun hari ini segera masukkan buku-buku itu ke dalam tas dan pejamkan matamu…” Dia tertawa melirik Susan. “Aku sungguh-sungguh…”

Aku pun menuruti perkataannya dengan terpaksa, aku tahu dia cuma ingin menghiburku, tapi memanggil hujan ? Tentu saja dia tidak bisa, dia bukan pesulap atau pun pawang hujan. Aku tersenyum geli, aku yakin dia hanya mengkhayal menjadi pemanggil hujan.

Tiba-tiba setetes air membasahi wajahku. Aku pun mencoba membuka mataku. Aku terperangah. Hujan telah turun. Semua orang mulai keluar dari rumah dan bersorak bahagia. Mawar-mawar yang layu kembali memancarkan keindahannya. Aku segera menoleh kepada Leo, menatapnya dengan seribu pertanyaan. Lagi-lagi senyum kembali terlukis di bibirku. Dia tersenyum balik kepadaku dan berlari-lari serta ikut menari bersama orang-orang, sangat bahagia.

“Bagaimana bisa ?” tanyaku pada langit.

“Anak itu unik, perhatikanlah dia mulai sekarang nona…” jawab langit.

“Unik…” Aku memandang Leo. Aku merasa dia mempunyai sesuatu yang dia sembunyikan. Aku akan menyelidikinya, pasti…

* * *

“Miss Thompson, aku ingin mengembalikan buku ini…”

“Baiklah, nona Lipton…” jawab Miss Thompson tersenyum lebar. Usianya tahun ini akan menginjak 105 tahun, tapi dia sama sekali tidak terlihat tua dan lemah. Aku memandanginya lekat-lekat, berharap mendapatkan tips awet mudanya.

“Ada apa, nona Lipton ?”

“Tidak, tidak ada apa-apa…” Aku tersentak dan lari ke rak-rak buku fiksi. Saat aku berbalik, aku terkejut. Leo sedang membaca sebuah buku dengan penuh penghayatan. aku mendekatinya, mencari tahu apa yang dibacanya.

“Aku tahu kau ada di sini, Susan…” dia menoleh padaku dan tersenyum lebar.

“Oke, aku ketahuan. Sedang apa kau di sini ? bagaimana bisa kau masuk dan membaca di sini sedangkan hanya anak-anak sekolah saja yang bisa masuk ke sini ?”

“Kau tidak tahu ?” Leo menutup bukunya. “Setiap hari aku berada di sini, aku membantu nyonya Thompson merapikan buku-buku dan melapnya hingga bersih. Belia sangat baik, aku sering diberi makan. Aku juga diperbolehkan untuk membaca sepuasnya di sini. Aku jadi sedikit tahu dengan balon…” dia menghentikan ucapannya. “Setidaknya nyonya Thompson adalah orang kedua yang bersikap baik padaku setelah kau.”

“Leo…” Aku jadi merasa bersalah dengannya, jika saja dia tahu aku hanya terpaksa berteman dengannya selama ini. Apa yang akan dia lakukan ? Apa dia akan melakukan hal-hal buruk ?

“Susan ?” panggil Leo pelan.

“Ya ?”

“Suatu hari nanti aku akan menemukan balon udara, aku akan menggunakannya untuk mencari orang tua kandungku, setidaknya aku harus tahu mengapa aku ditempatkan di rumah mereka, menjadi pelayan mereka, makan pun hanya diberi roti basi, tidak disekolahkan dan seribu pertanyaan lainnya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa balon udara itu ada…” dia tersenyum lalu kembali fokus dengan bacaannya.

“Kau membaca tentang penyihir ?”

“Tentu saja, aku sangat ingin tahu segala hal tentang penyihir.” Leo menghela napasnya. “Karena aku tahu, tidak semua penyihir itu jahat…”

Aku tertegun mendengar perkataannya. Dia mengatakan seolah para penyihir itu baik. Dia tidak tahu sama sekali apa yang telah menimpa keluargaku akhir-akhir ini, terutama tentang kakakku yang semalam telah disihir menjadi patung es. Oh, aku sangat benci dengan penyihir.

* * *

Aku terpaku melihat selebaran yang ditempel pada semua tembok. Pesta dansa kerajaan. Pangeran akan memilih siapa saja yang akan menjadi permaisurinya saat pesta dansa tersebut. Aku tersenyum sendiri. Mungkinkah aku bisa menjadi permaisuri pangeran Glen ? Mungkin. Tidak mungkin. Mungkin saja…

“Masih berharap pangeran akan memilihmu ?” tanya Leo tiba-tiba.

“Tentu saja ! Aku tidak akan menyerah ! Aku yakin pangeran akan memilihku !” kataku sambil mengepalkan tanganku.

“Tidak salah tuh ? Sudah jelas pangeran tidak akan memilih gadis dengan gaun usang sepertimu, jangan mimpi terlalu tinggi…” celetuk seorang gadis, dia tesenyum licik dan menghilang.

Gadis itu bernama Lena, dia adalah saingan terberatku untuk mendapatkan pangeran Glen. Dia memang cantik, terlahir dari keluarga kaya, pintar dan sangat lemah lembut *tidak jika di depanku* aku sangat membencinya. Aku harus mengalahkannya, akan tetapi… aku tidak punya gaun yang cantik, semuanya gaun lama ibuku, lagipula semua uang sudah digunakan untuk penyembuhan kakakku. Apa yang harus ku lakukan ? Haruskah aku menyerah sekarang ?

“Apa sih yang kalian berdua dan semua gadis itu lihat dari pangeran Glen ? Tidakkah kau tahu, hidup di dalam kerajaan itu tidak enak, terlalu banyak aturan, kalo aku jadi kamu, aku akan bersyukur dengan hidupku sekarang…” kata Leo, memecah lamunanku.

“Apa yang kau tahu dariku ? Kau tidak tahu apa-apa, Leo !” bentakku. Aku marah sekali padanya, aku tidak tahu mengapa dia sangat membenci pangeran. Dia juga suka ikut campur dengan urusanku, menyebalkan.

Leo terdiam. Dia mengeluarkan sebuah jarum dan benang. “Aku bisa membuatmu terlihat sangat cantik saat pesta dansa nanti, membuat pangeran terpesona padamu, aku akan membuatkanmu gaun yang sangat indah dari semua gadis di kerajaan ini. Aku janji…jika itu memang membuatmu bahagia…”

“Benarkah ? Kau tidak bohong kan ?” tanyaku penuh semangat. “Tunggu dulu, memangnya kau bisa menjahit ?”

“Kita lihat saja nanti, gaun itu akan tiba di rumahmu tepat sebelum pesta dansa akan dimulai…” Leo tersenyum tipis, menyimpan jarum dan benangnya, menghembuskan napas dan pergi secara misterius.

bersambung

Tale of the Rainbow Rose - #1

Aku membuka mata. Menoleh ke kanan dan kiriku. Sama saja. Aku masih berada di rumah, di sebuah negeri yang mewajibkan seluruh warganya untuk memakai gaun (untuk cewek). Ya, inilah negeri Rosetalia, negeri yang ditumbuhi dengan bunga-bunga mawar dengan bermacam warna yang indah. Aku meloncat dari ranjang dan langsung memakai bajuku, berlari menuruni tangga, berharap orangtuaku telah pulang dari pekerjaannya.

Namaku Susan Princessa Lipton. Orangtuaku bekerja sebagai pemburu penyihir. Pada zaman dahulu kala, negeri kami dikuasai oleh sebuah sihir hitam yang sangat jahat. Akan tetapi, berkat keahlian orangtuaku dan seluruh warga yang membantunya, para penyihir itu pun dapat ditangkap dan dilenyapkan. Sejak saat itu, orangtuaku menjadi sangat terkenal begitupula kakakku, Iskandar. Dia juga memiliki keahlian untuk memburu para penyihir jahat itu. Sedangkan aku ? Aku hanyalah gadis biasa, yang juga hobi berburu… bukan, bukan berburu penyihir seperti mereka, aku hanya berburu hewan untuk makanan kami sehari-hari.

“Mama, apa kalian berhasil memburu penyihir itu ?”

“Tidak, sayang.” Marie membelai lembut rambut anak kesayangannya itu dan tersenyum. “Para penyihir itu kemungkinan sudah melarikan diri dan sedang bersembunyi. Asalkan mereka tidak menyerang negeri kita lagi, tidak ada perburuan penyihir lagi dan keluarga kita bisa berkumpul lagi.”

Aku tersenyum. Aku melirik ayah dan kakakku yang sedang terlelap kelelahan. Aku mengambil wadah anak panah dan busur, menggantungkannya di bahuku, siap untuk berburu hari ini.

“Aku pergi sebentar, ma…”

“Hati-hati, Susan…” Marie tersenyum lembut.

Aku menepuk dadaku tiga kali dan tersenyum. Ya, itu merupakan kebiasaan dalam keluarga kami yang mengartikan bahwa kami akan baik-baik saja. Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Bersiul merdu kepada burung-burung yang hinggap di dahan pohon beringin kami. Saat aku siap untuk membidikkan panahku ke salah satu ranting pohon tersebut, aku tidak mahir memanjat pohon apel, jadi lebih baik memanahnya.

“Hai, Susan…”

Aku terkejut, membalikkan badanku dan siap untuk membidik siapa saja yang berada di belakangku. Orang itu tersenyum geli. Aku pun menurunkan busurku dan cemberut. “Leo, jangan membuatku terkejut lagi…”

Laki-laki yang bernama Leo itu pun menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menggaruk kepalanya. Dia memang orang yang aneh. Dia selalu mengimpikan untuk menemukan balon udara, entah apa yang membuatnya begitu tergila-gila pada sebuah balon. Dia tidak pernah sekolah seperti kami, orangtua angkatnya tidak pernah bersikap baik padanya dan menganggapnya hanya sebagai pelayan. Semua orang meremehkannya, mengucilkannya, bahkan sering melemparinya dengan apa saja karena keanehannya. Aku juga mungkin tidak akan mau berteman dengannya jika saja dia tidak menolong dan mengobatiku saat aku digigit beruang 7 tahun yang lalu.

Pernah dulu saat kami sekolah, dia mengintip dari balik jendela dan ikut belajar. Seperti itu terus setiap hari, hingga dia ketahuan dan langsung diusir dari sekolah tersebut. Dia memandangku sekilas dan berlari menuju pohon kesayangannya, memanjat pohon tersebut dan tidur seharian di sana. Aku sering merasa bersalah dengannya tapi aku memang tidak bisa membantunya, aku juga hanyalah rakyat biasa.

“Mau berburu lagi ?” tanya Leo dengan polosnya.

“Kau lihat aku membawa apa, kan ? Sudah pasti aku berburu…” jawabku sambil merengut kesal.
“Boleh aku ikut ? Mungkin aku bisa melihat balon udara atau aku bisa membuat balon dari tanaman gelembung. Boleh kan ? Aku mohon, Susan…” mohon Leo dengan tatapan memelasnya.

Aku menghembuskan napas dan menganggukkan kepalaku. Dia melompat gembira dan segera saja mengambil tas kecilnya dan berjalan di belakangku. Kadang aku merasa tidak seusia dengannya, aku merasa berjalan dengan seorang anak kecil yang tergila-gila pada sebuah balon. Tapi dia tidak peduli, dia terus mengagumi keindahan mawar-mawar yang sedang mekar dan mengatakan hal-hal yang tidak ku mengerti.

“Beri jalan kepada pangeran Glen !”

Aku terkesiap dan segera menarik Leo untuk menyingkir. Pangeran Glen dengan kudanya melenggang gagah melewati kami. Aku tersenyum walaupun dia tidak menoleh kepadaku. Dia selalu tampan dan membuat jantungku berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tapi aku sadar, aku hanyalah warga biasa, dia adalah seorang pangeran. Cinta kami tidak akan pernah bisa bersatu. Setidaknya perasaanku kepadanya tidak akan pernah terbalas, dia pasti sudah ditunangkan dengan putri kerajaan lain yang sangat cantik dan lemah lembut, tidak sepertiku.

“Kau tahu ? Aku mungkin jauh lebih tampan dari pangeran itu…”

“Diamlah kau…”

“Mengapa semua gadis di negeri kita begitu tergila-gila pada pangeran pesolek itu ?” tanya Leo sambil memetik setangkai mawar biru dan memandanginya.

“Kau ingin tahu ? Itu sama saja dengan mengapa kau bisa begitu tergila-gila pada sebuah balon. Jelas ?” jawabku ketus.

“Balon ? Dimana balon ? Kau melihatnya ? Dimana, Susan ?” tanyanya histeris dan berlari tak tentu arah.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mencoba tetap tenang menghadapi tingkah laku Leo. Aku seringkali merasa risih harus menghadapi tatapan orang-orang terhadapku yang mau berteman dengan anak balon tersebut, jika saja mereka semua tahu aku terpaksa. Aku merasa ikut aneh. Andaikan saja aku tidak berhutang nyawa padanya, mungkin aku tidak akan merasa seperti ini.

“Dengarkan aku, anak balon. Diamlah… aku tidak berkonsentrasi untuk berburu sementara kau terus membicarakan hal yang tidak jelas tentang balonmu itu. Aku akan mencarikanmu balon, tapi tidak sekarang, oke ?”

“Jika itu lebih baik…” Leo tersenyum. Dia memanjat pohon yang berada tidak jauh dariku dan bergelantungan dengan gembira. Kadang aku kagum juga dengannya, saat dia mulai bernyanyi dan dikelilingi semua burung yang cantik. Seolah ada sebuah kekuatan yang membuatnya terlihat begitu istimewa.

“Balon, dimanakah dikau berada ? Tidak tahukah dikau bahwa daku sangat merindukan dikau ? Daku sangat ingin bertemu denganmu, apa yang harus daku lakukan ? Dikau meninggalkan daku bersama gadis aneh yang bisanya hanya cemberut dan berburu, daku merasa tidak betah…”

“Kau bicara dengan siapa ? Dengan kumpulan burung ini ? Mereka tidak bisa berbicara…” kataku kesal.

“Apa maksudmu ? Aku bisa berbicara, nona membosankan…” jawab salah satu burung berparuh biru menoleh ke arahku.

“Apa-apaan itu !” Aku terlonjak dan mundur ke belakang dengan tanganku yang siap siaga untuk membidikkan panahku ke arah burung itu. Mana mungkin burung itu bisa berbicara, aku pun memejamkan mataku. Berharap semua ini hanyalah mimpi. Aku pun membuka mataku kembali. Leo dan sekumpulan burung itu masih berada di tempatnya semula.

“Susan, kau baik-baik saja ?” tanya Leo cemas. “Tuan Flicker hanya bermaksud menyapamu, dia tidak beniat jahat padamu. Turunkan busurmu itu…”

“Tuan Flicker ? Maksudmu nama burung biru yang berbicara padaku ini adalah Flicker ? Kau gila, Leo ! Aku gila !”

“Tenanglah nona, jika aku ingin, mungkin aku akan menggigit tanganmu itu atau mematahkan busurmu itu jika saja…”

“Tuan Flicker !” potong Leo.

“Baiklah…”

Aku menurunkan busurku dan menenangkan diriku. Ini pertama kalinya aku melihat burung bisa bebicara, bersama Leo. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Well, walaupun dia selalu melakukan hal-hal yang aneh tapi bukan dia kan yang membuat burung ini bisa berbicara ? Leo hanyalah remaja laki-laki biasa dengan matanya yang coklat dan sayu serta rambut yang selalu berantakan. Siapa dia sebenarnya ?

“Susan…aku merasa sangat mengantuk, jika kau ingin berburu, pergilah… Aku mau tidur di sini saja, jangan khawatirkan aku. Tidak akan ada yang menyakitiku, bahkan pangeran itu…”

“Leo…” gumamku datar.

“Tidak, aku sudah lelah. Aku akan duduk di sini untuk melihat matahari terbenam. Aku akan melindungimu…”

"Terserah kau saja, anak balon..." jawabku heran dengan perkataannya.

Leo sudah terlelap dalam tidurnya. Aku tersenyum. Dia memang terkadang menyebalkan tapi dia juga satu-satunya teman yang bisa mengerti aku. Aku masih ingat 7 tahun yang lalu, saat aku masih berusia 9 tahun dan mencoba untuk berburu pertama kalinya. Itu adalah pertama kalinya aku ditinggalkan orangtuaku untuk bekerja. Dan aku merasa, sebentar lagi hidupku tidak akan sedamai ini lagi. Perang mungkin akan segera dimulai, antara kami dan para penyihir itu. Tidak akan lama lagi…

Bersambung