why you can’t understand me, i love you so much~
“Hentikan lagumu itu, Leo…” bentakku yang mencoba berkonsentrasi dengan tugas-tugas sekolahnya.
“Aku kan hanya bernyanyi, mencurahkan isi hatiku melalui lagu ?” tanya Leo merengut kesal dari atas pohon. “Aku bosan melihatmu mengerjakan tugas-tugas itu, menjawab soal-soal tentang sejarah kerajaan ini dan sejarah tentang bagaimana penyihir begitu dibenci di kerajaan ini.”
Aku tidak mempedulikan Leo yang terus mengeluh di atas pohon. Terus mencoba menjawab semua pertanyaan di buku yang tebal dan berdebu, yang dipinjam di perpustakaan sekolah.
Di kerajaan mereka memang didirikan sebuah sekolah untuk seluruh rakyat, akan tetapi tidak semua anak yang bisa sekolah di sana. Contohnya Leo, orang tua angkatnya tidak peduli dengan pendidikan anak mereka tersebut sehingga Leo tidak berhenti untuk mengintip suasana kelas untuk ikut belajar. Walaupun begitu, terkadang jika ketahuan anak-anak para petinggi kerajaan, dia akan dipukuli dan langsung diusir dari sekolah. Anehnya, dia tidak marah, hanya tersenyum.
Aku termasuk salah satu yang tidak menyukai tingkah laku Leo yang menurutku itu hal yang sia-sia. Tapi dia tidak pernah menyerah untuk ikut belajar walaupun hanya melalui jendela kelasku. Terkadang aku prihatin melihatnya. Dia seharusnya juga sekolah seperti kami, bukannya berkeliaran tidak jelas. Setidaknya sekarang dia menjadi temanku, teman baik.
“Leo…”
“Hmm ?” jawab Leo sambil memandang ke awan-awan yang kelabu, yang setia menaungi kerajaan mereka. Dia berpikir keras, mencoba memecahkan suatu persoalan yang sama sekali tidak ingin ku ketahui.
“Menurutmu mengapa awan-awan ini hanya kelabu ? Mengapa tidak menurunkan hujan ? Semua orang sedih, jika terus begini kerajaan kita akan mengalami masa paceklik…”
tanyaku serius.
“Aku tidak tahu, Susan..” dia terkekeh. “Kau ingin hujan turun sekarang ?”
“Apa maksudmu, anak balon ?” kataku merasa bahwa perkataanku sama sekali tidak lucu.
“Berhentilah memanggilku anak balon. Jika kau ingin melihat hujan turun hari ini segera masukkan buku-buku itu ke dalam tas dan pejamkan matamu…” Dia tertawa melirik Susan. “Aku sungguh-sungguh…”
Aku pun menuruti perkataannya dengan terpaksa, aku tahu dia cuma ingin menghiburku, tapi memanggil hujan ? Tentu saja dia tidak bisa, dia bukan pesulap atau pun pawang hujan. Aku tersenyum geli, aku yakin dia hanya mengkhayal menjadi pemanggil hujan.
Tiba-tiba setetes air membasahi wajahku. Aku pun mencoba membuka mataku. Aku terperangah. Hujan telah turun. Semua orang mulai keluar dari rumah dan bersorak bahagia. Mawar-mawar yang layu kembali memancarkan keindahannya. Aku segera menoleh kepada Leo, menatapnya dengan seribu pertanyaan. Lagi-lagi senyum kembali terlukis di bibirku. Dia tersenyum balik kepadaku dan berlari-lari serta ikut menari bersama orang-orang, sangat bahagia.
“Bagaimana bisa ?” tanyaku pada langit.
“Anak itu unik, perhatikanlah dia mulai sekarang nona…” jawab langit.
“Unik…” Aku memandang Leo. Aku merasa dia mempunyai sesuatu yang dia sembunyikan. Aku akan menyelidikinya, pasti…
“Miss Thompson, aku ingin mengembalikan buku ini…”
“Baiklah, nona Lipton…” jawab Miss Thompson tersenyum lebar. Usianya tahun ini akan menginjak 105 tahun, tapi dia sama sekali tidak terlihat tua dan lemah. Aku memandanginya lekat-lekat, berharap mendapatkan tips awet mudanya.
“Ada apa, nona Lipton ?”
“Tidak, tidak ada apa-apa…” Aku tersentak dan lari ke rak-rak buku fiksi. Saat aku berbalik, aku terkejut. Leo sedang membaca sebuah buku dengan penuh penghayatan. aku mendekatinya, mencari tahu apa yang dibacanya.
“Aku tahu kau ada di sini, Susan…” dia menoleh padaku dan tersenyum lebar.
“Oke, aku ketahuan. Sedang apa kau di sini ? bagaimana bisa kau masuk dan membaca di sini sedangkan hanya anak-anak sekolah saja yang bisa masuk ke sini ?”
“Kau tidak tahu ?” Leo menutup bukunya. “Setiap hari aku berada di sini, aku membantu nyonya Thompson merapikan buku-buku dan melapnya hingga bersih. Belia sangat baik, aku sering diberi makan. Aku juga diperbolehkan untuk membaca sepuasnya di sini. Aku jadi sedikit tahu dengan balon…” dia menghentikan ucapannya. “Setidaknya nyonya Thompson adalah orang kedua yang bersikap baik padaku setelah kau.”
“Leo…” Aku jadi merasa bersalah dengannya, jika saja dia tahu aku hanya terpaksa berteman dengannya selama ini. Apa yang akan dia lakukan ? Apa dia akan melakukan hal-hal buruk ?
“Susan ?” panggil Leo pelan.
“Ya ?”
“Suatu hari nanti aku akan menemukan balon udara, aku akan menggunakannya untuk mencari orang tua kandungku, setidaknya aku harus tahu mengapa aku ditempatkan di rumah mereka, menjadi pelayan mereka, makan pun hanya diberi roti basi, tidak disekolahkan dan seribu pertanyaan lainnya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa balon udara itu ada…” dia tersenyum lalu kembali fokus dengan bacaannya.
“Kau membaca tentang penyihir ?”
“Tentu saja, aku sangat ingin tahu segala hal tentang penyihir.” Leo menghela napasnya. “Karena aku tahu, tidak semua penyihir itu jahat…”
Aku tertegun mendengar perkataannya. Dia mengatakan seolah para penyihir itu baik. Dia tidak tahu sama sekali apa yang telah menimpa keluargaku akhir-akhir ini, terutama tentang kakakku yang semalam telah disihir menjadi patung es. Oh, aku sangat benci dengan penyihir.
Aku terpaku melihat selebaran yang ditempel pada semua tembok. Pesta
dansa kerajaan. Pangeran akan memilih siapa saja yang akan menjadi
permaisurinya saat pesta dansa tersebut. Aku tersenyum sendiri.
Mungkinkah aku bisa menjadi permaisuri pangeran Glen ? Mungkin. Tidak
mungkin. Mungkin saja…
“Masih berharap pangeran akan memilihmu ?” tanya Leo tiba-tiba.
“Tentu saja ! Aku tidak akan menyerah ! Aku yakin pangeran akan memilihku !” kataku sambil mengepalkan tanganku.
“Tidak salah tuh ? Sudah jelas pangeran tidak akan memilih gadis dengan gaun usang sepertimu, jangan mimpi terlalu tinggi…” celetuk seorang gadis, dia tesenyum licik dan menghilang.
Gadis itu bernama Lena, dia adalah saingan terberatku untuk mendapatkan pangeran Glen. Dia memang cantik, terlahir dari keluarga kaya, pintar dan sangat lemah lembut *tidak jika di depanku* aku sangat membencinya. Aku harus mengalahkannya, akan tetapi… aku tidak punya gaun yang cantik, semuanya gaun lama ibuku, lagipula semua uang sudah digunakan untuk penyembuhan kakakku. Apa yang harus ku lakukan ? Haruskah aku menyerah sekarang ?
“Apa sih yang kalian berdua dan semua gadis itu lihat dari pangeran Glen ? Tidakkah kau tahu, hidup di dalam kerajaan itu tidak enak, terlalu banyak aturan, kalo aku jadi kamu, aku akan bersyukur dengan hidupku sekarang…” kata Leo, memecah lamunanku.
“Apa yang kau tahu dariku ? Kau tidak tahu apa-apa, Leo !” bentakku. Aku marah sekali padanya, aku tidak tahu mengapa dia sangat membenci pangeran. Dia juga suka ikut campur dengan urusanku, menyebalkan.
Leo terdiam. Dia mengeluarkan sebuah jarum dan benang. “Aku bisa membuatmu terlihat sangat cantik saat pesta dansa nanti, membuat pangeran terpesona padamu, aku akan membuatkanmu gaun yang sangat indah dari semua gadis di kerajaan ini. Aku janji…jika itu memang membuatmu bahagia…”
“Benarkah ? Kau tidak bohong kan ?” tanyaku penuh semangat. “Tunggu dulu, memangnya kau bisa menjahit ?”
“Kita lihat saja nanti, gaun itu akan tiba di rumahmu tepat sebelum pesta dansa akan dimulai…” Leo tersenyum tipis, menyimpan jarum dan benangnya, menghembuskan napas dan pergi secara misterius.
bersambung
“Hentikan lagumu itu, Leo…” bentakku yang mencoba berkonsentrasi dengan tugas-tugas sekolahnya.
“Aku kan hanya bernyanyi, mencurahkan isi hatiku melalui lagu ?” tanya Leo merengut kesal dari atas pohon. “Aku bosan melihatmu mengerjakan tugas-tugas itu, menjawab soal-soal tentang sejarah kerajaan ini dan sejarah tentang bagaimana penyihir begitu dibenci di kerajaan ini.”
Aku tidak mempedulikan Leo yang terus mengeluh di atas pohon. Terus mencoba menjawab semua pertanyaan di buku yang tebal dan berdebu, yang dipinjam di perpustakaan sekolah.
Di kerajaan mereka memang didirikan sebuah sekolah untuk seluruh rakyat, akan tetapi tidak semua anak yang bisa sekolah di sana. Contohnya Leo, orang tua angkatnya tidak peduli dengan pendidikan anak mereka tersebut sehingga Leo tidak berhenti untuk mengintip suasana kelas untuk ikut belajar. Walaupun begitu, terkadang jika ketahuan anak-anak para petinggi kerajaan, dia akan dipukuli dan langsung diusir dari sekolah. Anehnya, dia tidak marah, hanya tersenyum.
Aku termasuk salah satu yang tidak menyukai tingkah laku Leo yang menurutku itu hal yang sia-sia. Tapi dia tidak pernah menyerah untuk ikut belajar walaupun hanya melalui jendela kelasku. Terkadang aku prihatin melihatnya. Dia seharusnya juga sekolah seperti kami, bukannya berkeliaran tidak jelas. Setidaknya sekarang dia menjadi temanku, teman baik.
“Leo…”
“Hmm ?” jawab Leo sambil memandang ke awan-awan yang kelabu, yang setia menaungi kerajaan mereka. Dia berpikir keras, mencoba memecahkan suatu persoalan yang sama sekali tidak ingin ku ketahui.
“Menurutmu mengapa awan-awan ini hanya kelabu ? Mengapa tidak menurunkan hujan ? Semua orang sedih, jika terus begini kerajaan kita akan mengalami masa paceklik…”
tanyaku serius.
“Aku tidak tahu, Susan..” dia terkekeh. “Kau ingin hujan turun sekarang ?”
“Apa maksudmu, anak balon ?” kataku merasa bahwa perkataanku sama sekali tidak lucu.
“Berhentilah memanggilku anak balon. Jika kau ingin melihat hujan turun hari ini segera masukkan buku-buku itu ke dalam tas dan pejamkan matamu…” Dia tertawa melirik Susan. “Aku sungguh-sungguh…”
Aku pun menuruti perkataannya dengan terpaksa, aku tahu dia cuma ingin menghiburku, tapi memanggil hujan ? Tentu saja dia tidak bisa, dia bukan pesulap atau pun pawang hujan. Aku tersenyum geli, aku yakin dia hanya mengkhayal menjadi pemanggil hujan.
Tiba-tiba setetes air membasahi wajahku. Aku pun mencoba membuka mataku. Aku terperangah. Hujan telah turun. Semua orang mulai keluar dari rumah dan bersorak bahagia. Mawar-mawar yang layu kembali memancarkan keindahannya. Aku segera menoleh kepada Leo, menatapnya dengan seribu pertanyaan. Lagi-lagi senyum kembali terlukis di bibirku. Dia tersenyum balik kepadaku dan berlari-lari serta ikut menari bersama orang-orang, sangat bahagia.
“Bagaimana bisa ?” tanyaku pada langit.
“Anak itu unik, perhatikanlah dia mulai sekarang nona…” jawab langit.
“Unik…” Aku memandang Leo. Aku merasa dia mempunyai sesuatu yang dia sembunyikan. Aku akan menyelidikinya, pasti…
* * *
“Baiklah, nona Lipton…” jawab Miss Thompson tersenyum lebar. Usianya tahun ini akan menginjak 105 tahun, tapi dia sama sekali tidak terlihat tua dan lemah. Aku memandanginya lekat-lekat, berharap mendapatkan tips awet mudanya.
“Ada apa, nona Lipton ?”
“Tidak, tidak ada apa-apa…” Aku tersentak dan lari ke rak-rak buku fiksi. Saat aku berbalik, aku terkejut. Leo sedang membaca sebuah buku dengan penuh penghayatan. aku mendekatinya, mencari tahu apa yang dibacanya.
“Aku tahu kau ada di sini, Susan…” dia menoleh padaku dan tersenyum lebar.
“Oke, aku ketahuan. Sedang apa kau di sini ? bagaimana bisa kau masuk dan membaca di sini sedangkan hanya anak-anak sekolah saja yang bisa masuk ke sini ?”
“Kau tidak tahu ?” Leo menutup bukunya. “Setiap hari aku berada di sini, aku membantu nyonya Thompson merapikan buku-buku dan melapnya hingga bersih. Belia sangat baik, aku sering diberi makan. Aku juga diperbolehkan untuk membaca sepuasnya di sini. Aku jadi sedikit tahu dengan balon…” dia menghentikan ucapannya. “Setidaknya nyonya Thompson adalah orang kedua yang bersikap baik padaku setelah kau.”
“Leo…” Aku jadi merasa bersalah dengannya, jika saja dia tahu aku hanya terpaksa berteman dengannya selama ini. Apa yang akan dia lakukan ? Apa dia akan melakukan hal-hal buruk ?
“Susan ?” panggil Leo pelan.
“Ya ?”
“Suatu hari nanti aku akan menemukan balon udara, aku akan menggunakannya untuk mencari orang tua kandungku, setidaknya aku harus tahu mengapa aku ditempatkan di rumah mereka, menjadi pelayan mereka, makan pun hanya diberi roti basi, tidak disekolahkan dan seribu pertanyaan lainnya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa balon udara itu ada…” dia tersenyum lalu kembali fokus dengan bacaannya.
“Kau membaca tentang penyihir ?”
“Tentu saja, aku sangat ingin tahu segala hal tentang penyihir.” Leo menghela napasnya. “Karena aku tahu, tidak semua penyihir itu jahat…”
Aku tertegun mendengar perkataannya. Dia mengatakan seolah para penyihir itu baik. Dia tidak tahu sama sekali apa yang telah menimpa keluargaku akhir-akhir ini, terutama tentang kakakku yang semalam telah disihir menjadi patung es. Oh, aku sangat benci dengan penyihir.
* * *
“Masih berharap pangeran akan memilihmu ?” tanya Leo tiba-tiba.
“Tentu saja ! Aku tidak akan menyerah ! Aku yakin pangeran akan memilihku !” kataku sambil mengepalkan tanganku.
“Tidak salah tuh ? Sudah jelas pangeran tidak akan memilih gadis dengan gaun usang sepertimu, jangan mimpi terlalu tinggi…” celetuk seorang gadis, dia tesenyum licik dan menghilang.
Gadis itu bernama Lena, dia adalah saingan terberatku untuk mendapatkan pangeran Glen. Dia memang cantik, terlahir dari keluarga kaya, pintar dan sangat lemah lembut *tidak jika di depanku* aku sangat membencinya. Aku harus mengalahkannya, akan tetapi… aku tidak punya gaun yang cantik, semuanya gaun lama ibuku, lagipula semua uang sudah digunakan untuk penyembuhan kakakku. Apa yang harus ku lakukan ? Haruskah aku menyerah sekarang ?
“Apa sih yang kalian berdua dan semua gadis itu lihat dari pangeran Glen ? Tidakkah kau tahu, hidup di dalam kerajaan itu tidak enak, terlalu banyak aturan, kalo aku jadi kamu, aku akan bersyukur dengan hidupku sekarang…” kata Leo, memecah lamunanku.
“Apa yang kau tahu dariku ? Kau tidak tahu apa-apa, Leo !” bentakku. Aku marah sekali padanya, aku tidak tahu mengapa dia sangat membenci pangeran. Dia juga suka ikut campur dengan urusanku, menyebalkan.
Leo terdiam. Dia mengeluarkan sebuah jarum dan benang. “Aku bisa membuatmu terlihat sangat cantik saat pesta dansa nanti, membuat pangeran terpesona padamu, aku akan membuatkanmu gaun yang sangat indah dari semua gadis di kerajaan ini. Aku janji…jika itu memang membuatmu bahagia…”
“Benarkah ? Kau tidak bohong kan ?” tanyaku penuh semangat. “Tunggu dulu, memangnya kau bisa menjahit ?”
“Kita lihat saja nanti, gaun itu akan tiba di rumahmu tepat sebelum pesta dansa akan dimulai…” Leo tersenyum tipis, menyimpan jarum dan benangnya, menghembuskan napas dan pergi secara misterius.
bersambung