"Siapa gadis di sketsamu ini, Doku ? Cantik sekali dia…" tanya Lim.
Dokujin terus menggambar sketsa. “Namanya Mituna, dia satu-satunya temanku, Bu…”
"Mituna, anak kepala desa kita itu ?" Lim terkejut.
"Hmm… iya…"
"Dokujin, tidak seharusnya kamu berteman dengannya. Apalagi sampai jatuh cinta dengannya."
"Kenapa bu ?" Dokujin menghentikan sketsanya dan memandang heran kepada ibunya tersebut.
"Mituna memang anak yang baik, dia cantik, kaya, apapun yang dia
inginkan pasti diwujudkan. Bukan ibu bermaksud menyakitimu, ibu hanya
tidak ingin kamu terluka, nak… Karena orangtua Mituna pasti akan
menjodohkan dia dengan orang yang lebih kaya dan sehat daripada kamu.
Ibu tidak mau kamu terluka terlalu jauh, Dokujin…"
"Ya, aku memang tidak pantas untuk Mituna."
Dokujin mengambil semua peralatan sketsanya dan pergi ke kamarnya
dengan gontai. Dia merebahkan tubuhnya dan memandang langit-langit
kamarnya hampa. Lim memandang anaknya dari balik pintu dan tertunduk
sedih.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, nak…"
* * *
Dokujin memasang maskernya dan berangkat ke sekolah. Jalan setapak
yang dilaluinya sangat membutuhkan tenaga ekstra untuk pergi ke sekolah
karena cuaca sedang tidak bersahabat. Dari kejauhan terlihat MItuna
sedang mengayuh sepedanya pelan. Dia tersenyum dan menghentikan
sepedanya di samping Dokujin yang terkejut dengan kehadirannya.
"Mituna…"
"Naik ke sepedaku, kita berangkat ke sekolah bersama. Mau kan ?"
"Tidak bisa, Mituna. Aku sedang sakit…" Dokujin mencari-cari alasan
untuk menghindari Mituna dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Begitukah ? Ya sudah, aku duluan ya ? Sampai jumpa…" Mituna tersenyum dan mengayuh sepedanya dengan cepat.
Dunia memang kadang tak adil. Saat dia ingin menjauh, Mituna semakin
dekat dengannya. Saat dia ingin mendekat, rasanya seribu jarak
terbentang di depannya. Dokujin menghela napas dan merapatkan jaketnya.
Tiba-tiba dia melihat Mituna diganggu orang tak dikenal. Mitun
menjerit dan meminta tolong. Dokujin pun berlari dengan cepat
menyusulnya.
"Lepaskan temanku !"
"Anak bawang sepertimu mau apa ? Mau cepat mati ?"
"Lepaskan temanku ! Cepat !" bentak Dokujin. "Uhuk ! Uhuk ! Uhuk !"
"Lihat orang sakit seperti dia mau jadi pahlawan kesiangan !
Pulanglah, kembali pada ibumu dan diam di rumah sampai kau sembuh."
orang itu mengibas-ngibaskan tangannya ke Dokujin.
Merasa tersinggung, Dokujin menatap ke kakinya dan melihat
botol-botol berserakan. Dia pun memungut dan memukulkannya keras
terhadap orang tersebut. Darah mengucur deras dari kepala orang
tersebut, saat lengah, Dokujin pun menarik tangan Mituna yang ketakutan
dan membawanya lari dari sana.
"Dokujin…"
"Hmm…"
"Terima kasih…"
"Ya…" jawab Dokujin pendek dan bergegas masuk ke kelas.
Mituna memandang Dokujin sambil tersenyum. Baru kali ini dia
diselamatkan laki-laki yang kata teman-temannya mengidap penyakit TBC
dan sangat berbahaya. Dia memutuskan, dia akan selalu berusaha menjadi
teman yang baik untuk Dokujin.
Pelajaran telah dimulai, Dokujin yang duduk di dekat jendela menatap
Mituna yang sedang berlari-lari di lapangan dengan gembira. Dia
menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum. Tangannya pun tak henti
menorehkan sketsa wajah Mituna di bukunya.
"Kau masih berani menyukai Mituna ?" ledek Khun.
"Apa maksudmu ?" Dokujin menutup buku sketsanya dan memandang tajam kepada Khun yang tersenyum tak bersahabat.
"Sebagai temanmu yang baik, aku hanya menyarankan kepadamu,
seharusnya… kamu sadar, anak pengidap penyakit berbahaya dan anak
seorang wanita penghibur itu tidak pantas bersanding dengan Mituna,
apalagi berteman dengannya… satu lagi, apa kau tahu kalau kau itu bukan
anak kandung ibumu ?"
"Ibuku seorang wanita penghibur ? Aku bukan anak kandung ibuku ? Apa maksudmu ? Tahu darimana kamu tentang berita tersebut ?"
"Kau tidak tahu ? kasihan sekali kau… lebih baik tanyakan
kepastiannya dengan ibumu sendiri…" Khun tersenyum kembali dan menjauhi
Dokujin.
Dokujin merapatkan maskernya dan memasukkan semua bukunya ke dalam
tas. Dia berlari ke arah pintu. Dia terus berlari tanpa mempedulikan
Mituna yang menyapanya. Dia kalut. Apa benar semua yang dikatakan Khun ?
Apa dia bukan anak kandung ibunya ? Jika benar mengapa ibunya tidak
pernah mengatakan hal tersebut ? Dia sudah besar, dia berhak tahu segala
hal tentangnya.
Di rumahnya, Eric meminum teh hangatnya pelan. Lim terlihat gelisah
di depannya. Dia pun meletakkan cangkir tehnya dan memandang Lim
lekat-lekat.
"Benar. Benar kata semua orang, Dokujin memang bukan anak kandungku,
dia ku temukan di tempat sampah saat aku pulang bekerja. Sejak saat itu,
aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti dari pekerjaan kotor
seperti itu. Aku hanya ingin membuka lembaran baru hidupku bersama
Dokujin, dia cahayaku. Dia membuat hidupku lebih berwarna lagi. Aku
sangat menyayanginya seperti anakku sendiri…"
"Aku tahu…"
"Jadi benar aku bukan anak kandung ibu ? Mengapa Ibu tidak mengatakannya dari dulu kepadaku ?" potong Dokujin terengah-engah.
"Dokujin !" Lim terkejut. "Ibu… bukan maksud ibu untuk…"
"Aku kecewa dengan ibu…" Dokujin berbalik dan berlari tak tentu arah.
"Dokujin ! Dokujin ! Tunggu ibu, nak ! Ibu mohon…" Lim menangis dan berusaha mengejarnya, akan tetapi dihalangi oleh Eric.
"Biarkan aku yang menjelaskannya, aku yakin dia pasti akan mengerti
dengan keadaanmu, Lim. Tunggulah di sini…" Eric tersenyum tulus.
"Mohon bantuannya…bawa dia kembali untukku."
"Pasti…"
Eric berlari tak tentu arah dan bertanya kepada semua orang mengenai
keberadaan Dokujin. Nihil. Tak ada yang tahu di mana sebenarnya Dokujin
berada.
Dia menghentikan langkahnya di tepi danau. Sesosok bayangan terlihat
menatap lurus ke depan dan sesekali menyeka air matanya. Eric berjalan
mendekat dan duduk di samping sosok yang tak lain adalah Dokujin.
Dokujin menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak seharusnya kau begitu dengan ibumu, Dokujin… Dia sangat
menyayangimu, kau adalah harapan untuknya hidup selama ini. Kamu marah
karena tahu tentang pekerjaan masa lalu ibumu atau tentang kau bukan
anak kandung Lim ?"
"Aku tidak marah dengan ibu, paman… aku hanya kesal, mengapa aku
begitu lemah saat tahu masa lalu ibu menjadi buah bibir. Aku… tidak
merasa malu dengan pekerjaan ibu di masa lalu, aku juga tidak malu saat
tahu aku hanya anak yang dipungut ibu di tempat sampah…"
"Begitu ya… baguslah kalau begitu…"
"Apa paman benar-benar menyukai ibuku ? Kalau jawabannya iya, aku
sebagai anaknya sangat merestui paman dengan ibuku. Ungkapkanlah
perasaanmu paman, menikahlah dengan ibuku. Bukannya paman sangat
mencintai ibuku ?"
"Tidak semudah itu, Dokujin. Berjanjilah dengan paman, jika kau
mencintai seseorang kau tidak boleh menyerah untuk mendapatkannya.
Jangan seperti paman yang dulu menyerah mendapatkan ibumu dan
membiarkannya pergi. Paman tidak mau kau mengalami hal yang sama seperti
yang paman alami… Mau berjanji ?"
"Meskipun fisikku tidak seperti kebanyakan orang ? Oke, aku berjanji
asalkan paman setelah ini langsung melamar ibuku. Dia juga sangat
mencintai paman, aku tidak berbohong…"
"Baiklah. Ayo kita pulang." Eric tersenyum dan mengacak-acak rambut Dokujin.
Saat mereka berjalan kembali, seisi jalan sedang kacau. Barang-barang
berbahaya dilemparkan. Aksi bakar-membakar terjadi dimana-mana. Dokujin
yang melihatnya langsung memasang kembali maskernya. Tawuran antar
kampung tak dapat dihindari.
Semua orang saling melempar botol dan kayu. Banyak orang tak bersalah
yang menjadi korban. Eric yang panik pun berusaha melindungi Dokujin
sebisa mungkin dari tawuran tersebut. Dia tidak ingin kehilangan Dokujin
yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri hingga…
"Pamaaan !!!" teriak Dokujin.
Darah segar mengalir dari kepala Eric. Ternyata karena berusaha
melindungi Dokujin, sebuah peluru menuju ke arahnya dan mengenai
kepalanya. Eric pun jatuh tak sadarkan diri. Dokujin tertunduk lemas.
Tangannya gemetar hebat. Darah membuat baju putihnya menjadi berwarna
merah. Dia menghela napasnya dalam-dalam.
"Jaga ibumu baik-baik, Dokujin… Maaf paman tidak bisa membahagiakan ibumu, maaf.."
Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap dari bibir Eric. Tawuran
telah berakhir dan menyisakan luka dalam bagi Dokujin. Hanya dia yang
tersisa utuh dari peristiwa tersebut. Orang-orang yang menjadi korban
tergeletak tak bernyawa lagi di sekelilingnya. Suasana sunyi senyap. Tak
ada suara..
Dokujin menatap kosong kepada Eric.
Tak akan ada lagi yang dia anggap seperti ayah.
Tak akan ada lagi yang membuat ibunya tersenyum.
Tak akan ada lagi seseorang yang membuat keluarganya merasa utuh.
"Kau berjanji, paman…"
"Kau telah berjanji…"
Bersambung
Kamis, 27 Maret 2014
Be with you, my skycraper (chapter 1)
Seorang wanita berjalan tak tentu arah sambil menangis. jalanan sunyi senyap. Bunyi anjing yang menggonggong terdengar keras dari sana. Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi. Dia memandang ke segala arah dengan ketakutan. Dia semakin merapatkan mantelnya.
"Suara apa itu ? Sepertinya dari sana…"
Wanita yang bernama Lim itu pun berjalan menuju tempat sampah. Langkahnya perlahan namun pasti.
"Ya ampun ?! Siapa yang tega membuang bayi lucu ini di sini ???" Lim mencubit pipi bayi yang terus menangis itu. "Anak manis, mulai hari ini„, kau akan jadi anakku, aku janji akan berhenti dari pekerjaanku sebagai wanita penghibur. Hmm„, akan ku beri nama kamu…Dokujin…."
Lim tersenyum dan menggendong bayi tersebut pergi. Dia seolah merasa hidup kembali. Akan tetapi dia tidak akan tahu apa yang akan menimpanya di kemudian hari…
* * *
17 tahun kemudian….
Phuket, tahun 1950…
“Dokujin ! badanmu panas ! keringatmu juga sangat banyak, dan apa itu… darah di mana-mana… kau kenapaa ??? jawab ibu nak…”
"Aku tidak apa-apa, bu… aku hanya…"
"Ikut ibu ke rumah sakit, ayoo !!! Ibu takut kamu kenapa-kenapa…"
"Tapi, bu…. aku tak bisa berlari, rasanya kakiku mati rasa…. aku…. uhuk uhuk…"
"Dokujin ! Kau batuk darah…" Lim panik. "Ayo naik ke punggung ibu, ibu masih kuat untuk membawamu ke rumah sakit ! Ayo !!!"
"Baiklah…" Dokujin menatap sedih.
Mereka tiba di rumah sakit, Dokujin terlihat lemah. Dia tidak berdaya lagi dan langsung dibawa ke ruang UGD. Lim menunggu dengan harap-harap cemas. Dokter pun keluar dari ruangan itu dan menghampiri Lim, dia terkejut dan melangkah mundur.
"Lim ??? Kaukah itu ???"
"Kamu… kamu… Eric…" Lim tak kalah terkejut.
"Teman sekolah dulu, akhirnya kita bertemu kembali… anak laki-laki itu.."
"Dia anakku." jawab Lim ketus.
"Anakmu… jadi kau sudah menikah ? Mengapa kau tak memberiku undangan ? Sebagai orang yang pernah ditolak olehmu, aku merasa…"
"Bagaimana keadaan Dokujin ? Apa dia sakit parah ???" potong Lim.
"Well, apa berat badannya mulai menurun ? apa dia tidak selera makan ? Apa dia sering demam di malam hari ?"
"Ya, kenapa ???"
"Apa dia juga pernah batuk hingga mengeluarkan darah ?"
"Apa penyakitnya parah ???" Lim panik.
"Dia kena penyakit TBC, memang belum parah, tapi masih bisa menular. Aku sarankan dia untuk dirawat di sini selama 2 minggu untuk pengobatan.. itu pun jika kau tak ingin, anakmu menularkan penyakitnya ke orang lain…"
Lim terduduk dan menutup wajahnya. Eric pun duduk di sampingnya. Dia menyodorkan sapu tangannya ke Lim.
"Apa Dokujin masih bisa sembuh ???"
"Kemungkinannya masih ada, jika dia dirawat secara intensif…"
"Dokujin… dia tidak punya teman di sekolahnya, dia dianggap orang aneh, dia… dia tak bisa mengingat begitu banyak hal yang terjadi, jadi dia hanya bisa menuangkan apa yang ingin dia kenang selama hari itu di buku sketsanya. Aku tidak tahu dia mengidap penyakit apa.. dan sekarang ? Kau memberitahuku kalau dia menderita TBC ? Apa aku… apa aku cepat atau lambat akan kehilangannya ??? Aku hanya seorang kasir di kedai kecil, aku tidak punya cukup uang untuk pengobatannya di sini…"
"Kau tahu, Lim ? Kadang kau harus membuka diri dengan orang lain, kita ini makhluk sosial, aku akan membayar semua biaya pengobatan anakmu, aku akan merangkap sebagai dokter spesialis anakmu… kamu tidak perlu khawatir lagi…"
"Bagaimana dengan istri dan anakmu ?"
"Istri ? Anak ? Aku belum menikah, tanyakan saja dengan semua rekanku, aku hanya tinggal dengan orang tuaku. Aku masih menunggu seseorang, tapi ternyata dia sudah menikah, bahkan punya anak…"
"Jangan bilang, kau… kau menungguku ???" mata Lim berkaca-kaca.
"Lupakan saja, Lim… temui anakmu, mungkin dia sudah siuman sekarang. Aku harus pergi…" Eric tersenyum tipis dan meninggalkan Lim yang termenung tak percaya.
* * *
"Aku sakit apa, bu ???"
"Kamu sakit TBC, nak… tapi kamu masih bisa sembuh asalkan kamu dirawat di sini selama 2 minggu…"
"Ibu, aku sungguh tidak ingin membebani ibu… kita pulang saja…"
"Tapi…"
"Aku ingin sekolah, bu… aku ingin normal seperti anak-anak lainnya. Aku ingin punya teman, aku tidak ingin seperti ini, aku tidak mau…"
Lim memeluk anaknya dan menangis.
"Ibu tidak ingin kehilanganmu… jangan pernah tinggalkan ibu, berjanjilah…"
"baiklah…"
* * *
beberapa minggu kemudian..
"Jauhi anak itu, dia penyakitan…"
"Dia pembawa bencana di sekolah kita…"
Dokujin membawa buku sketsanya dan pergi menuju danau. Dia melihat seorang gadis menatap kosong ke danau tersebut. Dia pun menggambar gadis itu di bukunya sambil tersenyum dan lalu menghampirinya.
* * *
"Sedang apa ???" tanya Dokujin.
"Entahlah, aku juga tidak tahu…"
"Namaku Dokujin… salam kenal…"
"Mituna. Nama yang aneh, seaneh orangnya yang selalu membawa buku sketsa di tangannya…"
"Nama yang indah…Mituna… akan aku ingat itu baik-baik…"
"Dasar aneh…" Mituna tersenyum geli dan menatap Dokujin yang sedang menulis di buku sketsanya.
Pertemuan yang menjadi awal sebuah cerita, pertemuan yang tidak akan diketahui apa akhirnya.
Pertemuan yang akan diabadikan…
bersambung
Waiting for True Love
Kadang kau merasa senang saat cintamu bersambut. tapi tidak untukku...
aku,Kang Dong Ae,aku merasa menjadi orang yang paling malang di dunia ini. sifatku yang pendiam,cengeng dan takuut dengan cowok membuatku merasa terkucilkan. sejak SD,aku selalu mengalami sakit hati karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Samdong,cinta pertamaku,aku memendam perasaanku selama 7 tahun ke dia. Dia selalu ada disisiku saat suka maupun duka. Saat aku menangis,dia selalu bisa menghiburku dengan bermacam-macam cara. Saat smp pun,aku sengaja masuk ke smp yang sama dengannya. ya Tuhan,aku begitu mencintainya Ku kira dia menyukaiku,ternyata salah,dia hanya menganggapku sebagai adik. Aku masih ingat kata-katanya yang pertama kali membuatku patah hati.
Samdong : apa kau tau,aku menyukai hye ri sejak kelas 1-8 yaa sampai sekarang,dukung aku yaa ? haha
Aku : ouh yaa ? yaa hye ri memang cantik,pintar lagi,kalian sangat cocok haha :)
Samdong : makasih,kamu jga harus bisa berani bicara dgn cowok yaa,jangan takuut,ga semua cowok itu jahat :)
Aku : iyaa,kamu harus dapetin dia yaa :) semangaat >,<
ya,dia hanya tersenyum. Saat itu,aku merasa sakit,sakit karena harus membohongi perasaanku sendiri. sakit karena ini pertamakalinya aku patah hati karena cinta. Entah aku harus bahagia atau sedih. Tapi ya sudahlah,yang penting bisa tetap dekat dengan dia. Aku akan melupakan semuanya dan perasaanku ke dia. Sejak itu,aku mulai mengubur perasaanku dalam-dalam untuk kata cinta. aku tidak mau jatuh cinta lagi.
Sekarang aku sudah masuk ke sma,bertemu orang-orang baru,lingkungan baru dan semua hal. Kata orang sih,masa sma itu adalah masa-masa yang sangat indah. Tapi... bagiku tidak. aku masih terbayang-bayang dengan samdong,dia sedang apa yaa sekarang ? hmm...
pada suatu hari,saat di kelas
Nami : hei,tidak ke kantin ?
Aku : tidaak,aku di kelas saja,makasih :)
Nami : yaah,kalo gitu,aku ke kantin yaa,dadaah :D
Aku hanya melambaikan tanganku,aku pun mendengarkan lagu di hp. Tiba-tiba perhatianku teralihkan kepada SooBin,ketua kelasku. Dia duduk sendirian di depan kelas,dia termasuk orang yang paling pendiam di kelas. Karena bosan,aku pun ikut berdiri tak jauh dari dia di depan kelas.
SooBin : haloo,Dong ae kan ?
Aku : haloo,i..iyaa...
SooBin : ga ikut Nami ke kantin ?
Aku : lagi males,hhehe *garuk2 kepala
SooBin : ouh...
Aku : kamu sendiri ga ke kantin ?
SooBin : sama denganmu,lagi males,lagi pengen sendiri... *tersenyum
Aku : ouh gtu...
Sejak hari itu,aku mulai dekat dengan dia. Aku pun mencari nama fb-nya dan mencari tahu segala tentang dia. Dia selalu membantuku di saat sulit,aku juga sering minta ajarin dia soal pelajaran. Entah kenapa perasaan itu muncul,ya perasaan kagum. Hari berganti hari,aku mulai menyukainya tapi karena kecerobohan teman-temanku,semua orang pun tahu kalau aku menyukai dia. Awalnya,aku merasa senang,karena sepertinya semua sahabat dan teman-temanku setuju aku dengan dia. Akan tetapi,semua pemikiranku salah. SooBin mulai menjauhiku,dia bahkan meremove pertemanan kami di facebook. Oh Tuhan,apa maksud dari semua ini ? aku sudah berhasil terlepas dari bayang-bayang Samdong,sekarang apa lagi ?
Beberapa hari kemudian,karena ada bukuku yang tertinggal di kelas. Aku pun mutusin untuk kembali,tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan antara Nami dan SooBin. Aku pun mutusin untuk nguping pembicaraan mereka.
Nami : SooBin,ada apa denganmu ? kenapa kau menjauhi dong ae ? apa salah dia ?
SooBin : dia sudah buat aku malu di depan semua orang,asal kau tau saja aku hanya menganggap dia teman saja,Nami...
Nami : tapi kasihan dia,dia masih terlalu awal untuk mengerti semua ini,tidak bisakah kau mencoba mencintai dia ??? ku mohon~
SooBin : aku tidak bisa,mi... jangan paksa aku untuk mencintainya... perasaan itu ga bisa dipaksakan !
Nami : tidak bisakah ? cobalah dulu...
SooBin : DEMI TUHAN,NAMI... DEMI TUHAN AKU TIDAK MENCINTAINYA !!! TOLONG MENGERTI PERASAANKU !!! *lantang
Nami : Apa ada cewek lain yang kau sukai ? jawab !
SooBin : ada... dan dia ada di depanku sekarang...
Nami : apa maksudmu ? aku tidak mengerti...
SooBin : aku mencintaimu,nami... aku mulai menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu... tidakkah kau merasakannya ??? aku harap kau menjawabnya...
Nami : *terdiam
Aku terdiam di tempat. Air mataku berjatuhan,aku terus menyeka air mataku,ternyata selama ini hanya harapku saja. Dia mendekatiku karena menyukai Nami,sahabatku sendiri ! aku berbalik dan lari sekuat tenaga. Lari kemanapun asal aku bisa menjauh dari mereka. kemudian,aku mengayuh kencang sepedaku menuju rumah. Setibanya,aku menangis dan menangis tersedu-sedu. Lagi-lagi,aku tertipu. Tertipu dengan sebuah harapan kosong. Harapan untuk memiliki seseorang yang tak pernah memikirkanmu sekalipun.
Ya Tuhan,tegarkanlah aku... :')
Besoknya,aku dengar gosip bahwa Nami dan SooBin jadian. Awalnya aku syok,akan tetapi aku coba bersikap seolah semua baik-baik saja.
Aku ; selamat yaa,,,
Nami : untuk ?
Aku : kamu kn jadian dengan SooBin,hehe...
Nami : ouh i... iy..iya,makasih Dong ae :D
Aku : yaa,sama-sama... :)
Beberapa menit kemudian,aku pun lari ke wc. Aku menangis lagi,rasanya aku tidak sanggup melihat kebersamaan mereka. Ini sungguh berat rasanya,aku... aku... merasa tak ada semangat hidup lagi. Aku menjalani hari-hariku dengan suram. Aku ingin cepat-cepat naik kelas dan berpisah dengan mereka. Wahai waktu,cepatlah berjalan...
Hari berganti bulan,bulan berganti tahun,tak terasa aku sudah kelas 2 sma. Ouh tidak,sekarang aku mulai kagum dengan sunbae (kakak kelas) ku,namanya Dongho. Dia cool sekali,aku senang melihat wajahnya. bahkan aku rela ikut organisasi yang sama dengan Dongho oppa. Aku juga punya sahabat baru bernama Boram,yup ! dia teman sebangkuku di kelas sekaligus sahabat dekatku sekarang. Setiap hari,aku terus memperhatikannya,siapa lagi kalo bukan Dongho oppa ?
aku senang,aku sudah mulai berhasil melupakan SooBin,dan ini semua berkat Dongho oppa :D
gara-gara melihat oppa,aku jadi suka cowok berkacamata. Terlihat sangat keren dan berkharisma. Untuk sementara rasa ini hanya kagum,entah nanti ? akan berubah menjadi cinta atau tetap. Hanya Tuhan yang tau,setidaknya aku coba untuk berharap.
aku,Kang Dong Ae,aku merasa menjadi orang yang paling malang di dunia ini. sifatku yang pendiam,cengeng dan takuut dengan cowok membuatku merasa terkucilkan. sejak SD,aku selalu mengalami sakit hati karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Samdong,cinta pertamaku,aku memendam perasaanku selama 7 tahun ke dia. Dia selalu ada disisiku saat suka maupun duka. Saat aku menangis,dia selalu bisa menghiburku dengan bermacam-macam cara. Saat smp pun,aku sengaja masuk ke smp yang sama dengannya. ya Tuhan,aku begitu mencintainya Ku kira dia menyukaiku,ternyata salah,dia hanya menganggapku sebagai adik. Aku masih ingat kata-katanya yang pertama kali membuatku patah hati.
Samdong : apa kau tau,aku menyukai hye ri sejak kelas 1-8 yaa sampai sekarang,dukung aku yaa ? haha
Aku : ouh yaa ? yaa hye ri memang cantik,pintar lagi,kalian sangat cocok haha :)
Samdong : makasih,kamu jga harus bisa berani bicara dgn cowok yaa,jangan takuut,ga semua cowok itu jahat :)
Aku : iyaa,kamu harus dapetin dia yaa :) semangaat >,<
ya,dia hanya tersenyum. Saat itu,aku merasa sakit,sakit karena harus membohongi perasaanku sendiri. sakit karena ini pertamakalinya aku patah hati karena cinta. Entah aku harus bahagia atau sedih. Tapi ya sudahlah,yang penting bisa tetap dekat dengan dia. Aku akan melupakan semuanya dan perasaanku ke dia. Sejak itu,aku mulai mengubur perasaanku dalam-dalam untuk kata cinta. aku tidak mau jatuh cinta lagi.
Sekarang aku sudah masuk ke sma,bertemu orang-orang baru,lingkungan baru dan semua hal. Kata orang sih,masa sma itu adalah masa-masa yang sangat indah. Tapi... bagiku tidak. aku masih terbayang-bayang dengan samdong,dia sedang apa yaa sekarang ? hmm...
pada suatu hari,saat di kelas
Nami : hei,tidak ke kantin ?
Aku : tidaak,aku di kelas saja,makasih :)
Nami : yaah,kalo gitu,aku ke kantin yaa,dadaah :D
Aku hanya melambaikan tanganku,aku pun mendengarkan lagu di hp. Tiba-tiba perhatianku teralihkan kepada SooBin,ketua kelasku. Dia duduk sendirian di depan kelas,dia termasuk orang yang paling pendiam di kelas. Karena bosan,aku pun ikut berdiri tak jauh dari dia di depan kelas.
SooBin : haloo,Dong ae kan ?
Aku : haloo,i..iyaa...
SooBin : ga ikut Nami ke kantin ?
Aku : lagi males,hhehe *garuk2 kepala
SooBin : ouh...
Aku : kamu sendiri ga ke kantin ?
SooBin : sama denganmu,lagi males,lagi pengen sendiri... *tersenyum
Aku : ouh gtu...
Sejak hari itu,aku mulai dekat dengan dia. Aku pun mencari nama fb-nya dan mencari tahu segala tentang dia. Dia selalu membantuku di saat sulit,aku juga sering minta ajarin dia soal pelajaran. Entah kenapa perasaan itu muncul,ya perasaan kagum. Hari berganti hari,aku mulai menyukainya tapi karena kecerobohan teman-temanku,semua orang pun tahu kalau aku menyukai dia. Awalnya,aku merasa senang,karena sepertinya semua sahabat dan teman-temanku setuju aku dengan dia. Akan tetapi,semua pemikiranku salah. SooBin mulai menjauhiku,dia bahkan meremove pertemanan kami di facebook. Oh Tuhan,apa maksud dari semua ini ? aku sudah berhasil terlepas dari bayang-bayang Samdong,sekarang apa lagi ?
Beberapa hari kemudian,karena ada bukuku yang tertinggal di kelas. Aku pun mutusin untuk kembali,tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan antara Nami dan SooBin. Aku pun mutusin untuk nguping pembicaraan mereka.
Nami : SooBin,ada apa denganmu ? kenapa kau menjauhi dong ae ? apa salah dia ?
SooBin : dia sudah buat aku malu di depan semua orang,asal kau tau saja aku hanya menganggap dia teman saja,Nami...
Nami : tapi kasihan dia,dia masih terlalu awal untuk mengerti semua ini,tidak bisakah kau mencoba mencintai dia ??? ku mohon~
SooBin : aku tidak bisa,mi... jangan paksa aku untuk mencintainya... perasaan itu ga bisa dipaksakan !
Nami : tidak bisakah ? cobalah dulu...
SooBin : DEMI TUHAN,NAMI... DEMI TUHAN AKU TIDAK MENCINTAINYA !!! TOLONG MENGERTI PERASAANKU !!! *lantang
Nami : Apa ada cewek lain yang kau sukai ? jawab !
SooBin : ada... dan dia ada di depanku sekarang...
Nami : apa maksudmu ? aku tidak mengerti...
SooBin : aku mencintaimu,nami... aku mulai menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu... tidakkah kau merasakannya ??? aku harap kau menjawabnya...
Nami : *terdiam
Aku terdiam di tempat. Air mataku berjatuhan,aku terus menyeka air mataku,ternyata selama ini hanya harapku saja. Dia mendekatiku karena menyukai Nami,sahabatku sendiri ! aku berbalik dan lari sekuat tenaga. Lari kemanapun asal aku bisa menjauh dari mereka. kemudian,aku mengayuh kencang sepedaku menuju rumah. Setibanya,aku menangis dan menangis tersedu-sedu. Lagi-lagi,aku tertipu. Tertipu dengan sebuah harapan kosong. Harapan untuk memiliki seseorang yang tak pernah memikirkanmu sekalipun.
Ya Tuhan,tegarkanlah aku... :')
Besoknya,aku dengar gosip bahwa Nami dan SooBin jadian. Awalnya aku syok,akan tetapi aku coba bersikap seolah semua baik-baik saja.
Aku ; selamat yaa,,,
Nami : untuk ?
Aku : kamu kn jadian dengan SooBin,hehe...
Nami : ouh i... iy..iya,makasih Dong ae :D
Aku : yaa,sama-sama... :)
Beberapa menit kemudian,aku pun lari ke wc. Aku menangis lagi,rasanya aku tidak sanggup melihat kebersamaan mereka. Ini sungguh berat rasanya,aku... aku... merasa tak ada semangat hidup lagi. Aku menjalani hari-hariku dengan suram. Aku ingin cepat-cepat naik kelas dan berpisah dengan mereka. Wahai waktu,cepatlah berjalan...
Hari berganti bulan,bulan berganti tahun,tak terasa aku sudah kelas 2 sma. Ouh tidak,sekarang aku mulai kagum dengan sunbae (kakak kelas) ku,namanya Dongho. Dia cool sekali,aku senang melihat wajahnya. bahkan aku rela ikut organisasi yang sama dengan Dongho oppa. Aku juga punya sahabat baru bernama Boram,yup ! dia teman sebangkuku di kelas sekaligus sahabat dekatku sekarang. Setiap hari,aku terus memperhatikannya,siapa lagi kalo bukan Dongho oppa ?
aku senang,aku sudah mulai berhasil melupakan SooBin,dan ini semua berkat Dongho oppa :D
gara-gara melihat oppa,aku jadi suka cowok berkacamata. Terlihat sangat keren dan berkharisma. Untuk sementara rasa ini hanya kagum,entah nanti ? akan berubah menjadi cinta atau tetap. Hanya Tuhan yang tau,setidaknya aku coba untuk berharap.
Langganan:
Postingan (Atom)