Kamis, 27 Maret 2014
Be with you, my skycraper (chapter 1)
Seorang wanita berjalan tak tentu arah sambil menangis. jalanan sunyi senyap. Bunyi anjing yang menggonggong terdengar keras dari sana. Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi. Dia memandang ke segala arah dengan ketakutan. Dia semakin merapatkan mantelnya.
"Suara apa itu ? Sepertinya dari sana…"
Wanita yang bernama Lim itu pun berjalan menuju tempat sampah. Langkahnya perlahan namun pasti.
"Ya ampun ?! Siapa yang tega membuang bayi lucu ini di sini ???" Lim mencubit pipi bayi yang terus menangis itu. "Anak manis, mulai hari ini„, kau akan jadi anakku, aku janji akan berhenti dari pekerjaanku sebagai wanita penghibur. Hmm„, akan ku beri nama kamu…Dokujin…."
Lim tersenyum dan menggendong bayi tersebut pergi. Dia seolah merasa hidup kembali. Akan tetapi dia tidak akan tahu apa yang akan menimpanya di kemudian hari…
* * *
17 tahun kemudian….
Phuket, tahun 1950…
“Dokujin ! badanmu panas ! keringatmu juga sangat banyak, dan apa itu… darah di mana-mana… kau kenapaa ??? jawab ibu nak…”
"Aku tidak apa-apa, bu… aku hanya…"
"Ikut ibu ke rumah sakit, ayoo !!! Ibu takut kamu kenapa-kenapa…"
"Tapi, bu…. aku tak bisa berlari, rasanya kakiku mati rasa…. aku…. uhuk uhuk…"
"Dokujin ! Kau batuk darah…" Lim panik. "Ayo naik ke punggung ibu, ibu masih kuat untuk membawamu ke rumah sakit ! Ayo !!!"
"Baiklah…" Dokujin menatap sedih.
Mereka tiba di rumah sakit, Dokujin terlihat lemah. Dia tidak berdaya lagi dan langsung dibawa ke ruang UGD. Lim menunggu dengan harap-harap cemas. Dokter pun keluar dari ruangan itu dan menghampiri Lim, dia terkejut dan melangkah mundur.
"Lim ??? Kaukah itu ???"
"Kamu… kamu… Eric…" Lim tak kalah terkejut.
"Teman sekolah dulu, akhirnya kita bertemu kembali… anak laki-laki itu.."
"Dia anakku." jawab Lim ketus.
"Anakmu… jadi kau sudah menikah ? Mengapa kau tak memberiku undangan ? Sebagai orang yang pernah ditolak olehmu, aku merasa…"
"Bagaimana keadaan Dokujin ? Apa dia sakit parah ???" potong Lim.
"Well, apa berat badannya mulai menurun ? apa dia tidak selera makan ? Apa dia sering demam di malam hari ?"
"Ya, kenapa ???"
"Apa dia juga pernah batuk hingga mengeluarkan darah ?"
"Apa penyakitnya parah ???" Lim panik.
"Dia kena penyakit TBC, memang belum parah, tapi masih bisa menular. Aku sarankan dia untuk dirawat di sini selama 2 minggu untuk pengobatan.. itu pun jika kau tak ingin, anakmu menularkan penyakitnya ke orang lain…"
Lim terduduk dan menutup wajahnya. Eric pun duduk di sampingnya. Dia menyodorkan sapu tangannya ke Lim.
"Apa Dokujin masih bisa sembuh ???"
"Kemungkinannya masih ada, jika dia dirawat secara intensif…"
"Dokujin… dia tidak punya teman di sekolahnya, dia dianggap orang aneh, dia… dia tak bisa mengingat begitu banyak hal yang terjadi, jadi dia hanya bisa menuangkan apa yang ingin dia kenang selama hari itu di buku sketsanya. Aku tidak tahu dia mengidap penyakit apa.. dan sekarang ? Kau memberitahuku kalau dia menderita TBC ? Apa aku… apa aku cepat atau lambat akan kehilangannya ??? Aku hanya seorang kasir di kedai kecil, aku tidak punya cukup uang untuk pengobatannya di sini…"
"Kau tahu, Lim ? Kadang kau harus membuka diri dengan orang lain, kita ini makhluk sosial, aku akan membayar semua biaya pengobatan anakmu, aku akan merangkap sebagai dokter spesialis anakmu… kamu tidak perlu khawatir lagi…"
"Bagaimana dengan istri dan anakmu ?"
"Istri ? Anak ? Aku belum menikah, tanyakan saja dengan semua rekanku, aku hanya tinggal dengan orang tuaku. Aku masih menunggu seseorang, tapi ternyata dia sudah menikah, bahkan punya anak…"
"Jangan bilang, kau… kau menungguku ???" mata Lim berkaca-kaca.
"Lupakan saja, Lim… temui anakmu, mungkin dia sudah siuman sekarang. Aku harus pergi…" Eric tersenyum tipis dan meninggalkan Lim yang termenung tak percaya.
* * *
"Aku sakit apa, bu ???"
"Kamu sakit TBC, nak… tapi kamu masih bisa sembuh asalkan kamu dirawat di sini selama 2 minggu…"
"Ibu, aku sungguh tidak ingin membebani ibu… kita pulang saja…"
"Tapi…"
"Aku ingin sekolah, bu… aku ingin normal seperti anak-anak lainnya. Aku ingin punya teman, aku tidak ingin seperti ini, aku tidak mau…"
Lim memeluk anaknya dan menangis.
"Ibu tidak ingin kehilanganmu… jangan pernah tinggalkan ibu, berjanjilah…"
"baiklah…"
* * *
beberapa minggu kemudian..
"Jauhi anak itu, dia penyakitan…"
"Dia pembawa bencana di sekolah kita…"
Dokujin membawa buku sketsanya dan pergi menuju danau. Dia melihat seorang gadis menatap kosong ke danau tersebut. Dia pun menggambar gadis itu di bukunya sambil tersenyum dan lalu menghampirinya.
* * *
"Sedang apa ???" tanya Dokujin.
"Entahlah, aku juga tidak tahu…"
"Namaku Dokujin… salam kenal…"
"Mituna. Nama yang aneh, seaneh orangnya yang selalu membawa buku sketsa di tangannya…"
"Nama yang indah…Mituna… akan aku ingat itu baik-baik…"
"Dasar aneh…" Mituna tersenyum geli dan menatap Dokujin yang sedang menulis di buku sketsanya.
Pertemuan yang menjadi awal sebuah cerita, pertemuan yang tidak akan diketahui apa akhirnya.
Pertemuan yang akan diabadikan…
bersambung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar