Selasa, 29 April 2014

vakum duluu yaa xD

haloo temaan-temaaaan !
rasanya udah lama banget ga nulis di sini hihihihii
kayaknya selama bulan mei ga bisa update tulisan dulu di sini yaa, apalagi kalian yang suka baca dan penasaran dengan cerbung aku "Be With You, My Skyscraper" hehe
aku ga bakal ngelanjutin cerbungnya soalnyaa... *jeng jeeng !
cerbung itu bakal aku lanjutin ke bentuk novel, naaaah cerbungnya itu bakal aku selesain ceritanya dan ikutin #LombaNarasi so...
mohon doanyaa, moga aku bisa nyelesain ceritanya dalam 1 bulan, makasih semuanyaa !
lovee youu muaah muaah <3 <3 <3

semangaaaat ! semangaaaaat !!! xD


Kamis, 03 April 2014

kakak baru dari Cisadane



“Pokoknya aku tidak mau makan semeja dengan orang miskin seperti dia,ma !!!” bentak Karel.
“Karel ! Dia kakakmu bukan orang miskin !” tegur mama sambil memandang ke arah Maru yang tertunduk sedih.
“Pokoknya Karel tidak mau tahu,Karel tidak mau makan semeja dengan orang itu ! Dia bukan kakak Karel ! Karel makan di kamar aja deh..” kata Karel ketus.
“Ma...biar aku yang makan di tempat lain. Permisi...” kataku sambil pergi membawa piring dan segelas air putih ke halaman belakang. Aku masih mendengar mama memarahi Karel. Dia sebenarnya tidak salah. Aku berasal dari keluarga yang tinggal di bawah kolong jembatan Cisadane. Mereka mengangkatku karena aku pandai. Akan tetapi Karel tdak mau menerimaku sebagai kakak angkatnya. Ini sungguh menyakitkan.
Buuk ! “Aduuh,” kataku meringis. Aku melihat Karel yang berlari-lari naik ke mobil. Aku pun menyusulnya naik ke mobil. Di tengah perjalanan ke sekolah,tiba-tiba mobil berhenti. Pintu mobil pun terbuka. Tanpa sempat mengelak,Karel mendorongku ke jalanan. Aku terkejut.
“Aku tidak mau satu mobil denganmu,jadi kau ke sekolah jalan kaki saja ya ! Orang sepertimu tidak pantas menaiki mobil mewah seperti ini. Daah !” katanya sambil melambaikan tangannya padaku. Mobil itupun melaju. Meninggalkanku sendirian di tengah jalan.

“Apa salahku ? Apa aku memang tidak pantas tinggal bersama keluarga ini ? Mengapa Karel begitu membenciku...” batinku. Aku satu sekolah dengan Karel. Dia kelas 1 SMP sedangkan aku kelas 3 SMP di SMPN 1 Bogor. Saat tiba disana,aku bingung dengan semua orang. Mereka berbisik-bisik sambil memandang ke arahku seolah-olah aku adalah seorang teroris yang sedang diburu Densus 88.
“Hei lihaat !!! Itu dia orang yang ku maksud ! Dia orang miskin yang ingin memeras kekayaan orangtuaku dengan membujuk orangtuaku menjadi orangtua asuhnya. Kasihan sekali yaa,dia orang yang jahat. Berhati-hatilah teman-teman,” kata Karel lantang.
Aku memilih diam dan terus berjalan ke kelasku. Mungkin ini Ujian dari Tuhan untukku.  Aku menyabari diriku sendiri dan pura-pura membaca buku hingga menutupi wajahku.
Baru saja aku ingin memakan bekalku. Tiba-tiba ada seseorang yang melempar bola ke arahku. Kotak makananku pun jatuh. Aku menghela napas dan menatap lurus ke depan. “Karel...”
“Kenapa ??? Mau marah ???” tanya dia lantang.
“Tidak,ini bolanya...” kataku sambil menyodorkan bola itu ke arahnya. Bukannya menyambut,dia malah melempar bola itu ke tempat lain dan melap tangannya. Aku hanya bisa mengelus dada.
“Aku tidak sudi memegang bola bekas tanganmu,Maru... Nanti tanganku terkontaminasi,iya tidak teman-teman ???” katanya sambil diringi riuh teman-temannya. Daripada menanggapi mereka,aku pun pergi menjauh dari sana.


Di rumah,aku memandang kosong ke arah halaman belakang yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang cantik. Baru tinggal beberapa hari disini,aku sudah merasa tidak betah. Aku mengutuki sikapku sendiri yang mau-mau saja menerima tawaran mamanya Karel untuk menjadi anak angkatnya.
“Hei ! Sedang apa kau ???” tanya Karel yang mengagetkanku hingga bukuku terlempar.
“Karel ??? Ada apa ???” tanyaku pelan.
Dia duduk di sampingku dan ikut memandang ke arah halaman belakang. “Aku tidak ingin kau jadi kakakku. Kau orang miskin. Aku malu. Kau tidak pantas jadi kakakku. Dan jangan pernah berani berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak,mengerti ???”
“Memangnya kenapa ??? Apa kita tidak bisa bersaudara ???” tanyaku lagi. Seketika matanya melotot dan bangkit dari duduknya.
“Jangan mimpi !!!” katanya sambil membanting pintu di belakangku.
“Begitu yaa...” gumamku sambil tertunduk lemas.
Setiap hari,aku harus makan di dalam kamarku. Karel sama sekali tidak mau makan semeja denganku. Walaupun mama dan papa sudah memarahinya,dia tetap seperti itu. Ini semua salahku. Aku pun membereskan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam ransel. Diam-diam aku melangkah keluar.
“Maru ! Mau kemana kau malam-malam begini ???” tanya mama lembut. Aku pun menoleh ke belakang dengan gugup. Beliau pun menghampiriku. “Mau kemana,sayang ???”
“Aku mau pulang,ma...”
“Pulang kemana ??? Di sini kan rumahmu juga ???” kata mama sambil mengelus lembut rambutku. Aku mengepalkan tanganku,berusaha menahan tangis. Mama Karel sungguh terlalu baik padaku.
“Maru ingin pulang ke rumah Maru,Ma... Maru ingin kembali menjadi pemulung seperti dulu,Maru tidak kerasan disini,mohon mengertilah...” kataku sambil membungkukkan badanku.
 “Biarkan aku pergi,ma..”
“Tidaak ! Mama tidak mau ! Mama sudah terlanjur sayang dengan Maru. Mama sudah menganggap Maru sebagai anak mama sendiri,jangan tinggalkan mama ya ??? Mama mohon maaf dengan semua perlakuan kasar Karel. Mau ya ???” tawar mama lagi.
“Tapi...”
“Sudah,ayo kembali ke kamarmu ya ? Tinggallah disini,demi mama ya ? Mama mohon. Maru ingin ya melihat mama sedih ? Tidak,kan ???” kata mama sambil tersenyum. Aku pun menganggukkan kepalaku dan memeluk mama. Rasanya hatiku sangat tenang. Aku sangat bahagia mama menyayangiku.
Aku pun memasukkan baju-bajuku ke lemari. Wajahku berseri-seri. Sudah lama aku ingin merasakan bagaimana dipeluk oleh seorang ibu.
“Seharusnya kau meneruskan saja niatmu,kau harus pulang ke tempat asalmu. Itu jauh lebih baik untuk ketenanganku di rumah ini,” kata Karel ketus.
“Sejak kapan kau ada di depan pintu kamarku ???”


“Kamarmu ??? Jangan sombong,seandainya saja kau pergi dari rumah ini. aku akan menjadi orang pertama yang akan berterima kasih padamu. Lihat saja nanti...” katanya lagi sambil keluar dari kamarku. Aku menghela napas dan merebahkan diriku di kasur yang empuk itu.
“Maru sabarlah...sabarlah...kamu pasti bisa melewati semua ini. dia pasti mau menerimamu sebagai kakaknya....”
* * *
Beberapa hari kemudian,saat sepulang sekolah. Seperti biasa,aku pulang sambil berjalan kaki. Tiba-tiba aku melihat Karel di ujung jalan sana. Dia bersama teman-temannya sedang asyik bercanda ria di tepi jalan. Aku pun meneruskan perjalananku.
“Hei anak miskin ! Hati-hati yaa !” kata Karel lantang yang diikuti teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku menutup telingaku rapat-rapat dan terus melewati mereka. Baru beberapa langkah aku berjalan,terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu. Aku pun menoleh ke belakang dan terkejut.
“Karel !!!” teriakku sambil menghampiri Karel yang bersimbah darah dan terkapar di jalanan. Aku merogoh sakuku. Kosong. Aku yang panik pun meminta bantuan kepada orang-orang untuk menaikkan Karel ke punggungku. Aku pun berlari kencang menuju rumah sakit sambil menggendong Karel.
“Kau...” kata Karel lirih.
“Tenang saja,aku akan menolongmu,oke ? Bersabarlah sedikit...” kataku sambil tersenyum kepadanya.

‘Kenapa ? Kenapa ?  Kenapa kau menolongku ? Kau-bisa-sajakan meninggalkanku... terkapar... di jalanan...hingga kehabisan...darah ???” katanya terbata-bata.
“Kau kan adikku...” kataku lantang dan terus berlari. Karena kehabisan darah,dia pun pingsan. Aku menarik napas dan menghembuskannya.
“Ya Tuhan,selamatkan adikku...”
Setiba di rumah sakit,Karel langsung dibawa ke ruang UGD. Aku pun menunggunya dengan was-was. Mama dan Ayah juga sudah datang ke rumah sakit. Tiba-tiba Dokter keluar dan menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan anak saya,Dok ??? Baik-baik saja,kan ???” tanya mama panik.
“Dia kehabisan banyak darah. Dan kebetulan stok darah AB rhesus negatif sedang tidak ada. Apa ada diantara kalian yang memiliki golongan darah sama dengannya ???”
“Darah saya dan istri saya berbeda. Bagaimana ini ???” kata Ayah bingung.
“Bagaimana dengan darah saya,Dok ???” kataku.
“Berapa umurmu,nak ???” tanya Dokter itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
“15 tahun,pak...”
“Tidak bisa,kamu terlalu muda,nak...” kata Dokter itu. Aku pun segera berlutut di hadapan pak Dokter itu dan menangis.

“Dokter,saya mohon...biarkan saya mendonorkan darah saya...saya akan tanggung resikonya walaupun nyawa saya sebagai imbalannya. Tolong selamatkan adik saya,Dok... saya mohon...”
“Baiklah,ikuti saya,” kata Dokter itu. Aku pun mengikuti beliau dan ternyata darah kami sama. Ini sungguh ajaib !
* * *
“Bagaimana keadaan Karel,ma ???” tanyaku.
“Dia belum siuman tetapi kondisinya mulai stabil kok,”
“Ma,setelah memikirkannya berhari-hari. Maru ingin pergi dan pulang ke rumah Maru di kolong jembatan itu,” kataku hati-hati.
“Lhoo ??? Kenapa lagi,Maru ???”
“Maru tinggal disini hanya nyusahin mama dan ayah. Dan Karel tidak pernah menyukai keberadaan Maru. Dulu,Maru ingin sekali punya adik dan dipanggil dengan sebutan kakak. Tapi sejak kejadian ini Maru sadar. Maru tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang melimpah ini dari mama dan ayah. Tolong kali ini mengertilah keputusan Maru,Ma...” kataku sambil menunduk.
“Tapi,Maru...”
“Terima kasih karena Mama telah menyayangiku. Dan membuatku seperti anak-anak yang lain serta diperlakukan dengan baik disini. Maru tidak akan sanggup membayar semua kebaikan mama.”
“Maru,jangan begini terhadap mama...” kata mama sambil menangis.
“Maru ! Ada apa ini ??? Kenapa kau membawa ranselmu ???” kata Ayah tiba-tiba.

“Maru ingin pergi,Ayah....” kata mama sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku,Ma ? Yah ? Maru pergi dulu...” kataku sambil melangkahkan kakiku keluar rumah. Ini memang sungguh pemandangan yang menyakitkan bagiku. Tapi ini demi kebaikan semua orang. Sebelum pergi,aku menjenguk Karel di rumah sakit. dia masih belum siuman.
“Karel,kakak pergi dulu ya ? Sesuai permintaan kamu,kakak Maru akan pergi jauuh dari kehidupan Karel. Tenang, kehidupan Karel akan kembali seperti sedia kala lagi kok. Jaga kesehatanmu,jangan sampai sakit dan membuat mama dan ayah khawatir lagi ya ??? Daah Karel...” kataku dan keluar dari ruangan sambil menahan tangis.
Tiba-tiba mata Karel terbuka. Tanpa pikir panjang lagi,dia pun melepas semua infus  di badannya dan bergegas lari keluar rumah sakit. Dia menoleh kesana kemari tapi nihil. Orang yang dicarinya tidak ada di manapun.
“Ini semua salahku...salahku....” katanya sambil menangis.
Dan akhirnya matanya tertuju pada sebuah halte tak jauh dari sana. Dia melihat orang yang dicari-carinya sedang duduk membelakanginya. Dia bernapas lega.
“KAKAAAAK !!! KAK MARUUU !!! JANGAAAN PERGIIII !!!” teriaknya keras.
Spontan aku menoleh. Aku melihat Karel dengan baju pasiennya berteriak ke arahku dn memanggilku “kakak”. Aku mengucek-ngucek mataku. Aku tidak berani bermimpi setinggi ini. Sungguh. Dia pun berlari menghampiriku dan memelukku sambil menangis.


“Kak Maru,maafkan Karel yaa. Karel sudah jahat sekali dengan kakak. Karel selalu menyusahkan kakak. Karel....” katanya sesenggukan.
“Sudahlah,aku sudah memaafkanmu. Jangan cengeng seperti itulah,” kataku sambil tertawa dan mengacak-ngacak rambutnya. “Dan yang lebih membuat aku senang,kamu sudah baikan.”
“Kakak jangan pergi ! Ku mohooooon,mulai hari ini aku akan jadi adik yang baik untuk Kak Maru,mau ya ? mau ya ???” kata Karel dengan tatapan memelas. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan terharu. Setelah itu,dia pun melompat-lompat kegirangan.
Beberapa hari setelah kejadian itu,kami siap-siap sarapan seperti biasa untuk ke sekolah. Seperti biasa,aku pun ingin membawa nampanku ke halaman belakang lagi.
“Kak Maru,aku mau kok makan semeja dengan kakak,” katanya sambil tersenyum.
“Serius niih ???” kataku tak percaya.
“Tentu saja,aku kan adik kaka...” katanya sambil tersenyum lagi.
“Waah,baiklah kalau seperti itu...” kataku dan duduk di sampingnya sambil memakan sarapanku. Mama dan Ayah tersenyum melihat kami sudah rukun kembali. Aku juga senang bisa diterima sepenuhnya di keluarga ini. Terima Kasih,Tuhan. Terima kasih telah mempertemukanku dengan keluarga ini. Terima kasih untuk semuanya. :)

                                          selesai

Selasa, 01 April 2014

Review The Raid 2 : Berandal


Beberapa hari yang lalu, aku nonton film ini nih, The Raid 2 : Berandal, pastinya kalian yang udah tau dan udah pernah liat film pertamanya tau dong sama sekuel film ini ? hahaha
Film yang disutradai oleh Gareth Evans ini sukses mmeukau penonton dengan aksi-aksinya yang keren dan sangat menantang. Masih dibintangi oleh Iko uwais sebagai Rama, film ini pun semakin kereen ditambah bintang2 baru dan 3 aktor jepang yang tak kalah sadis dari film pertama xD



Cerita dimulai dengan pemandangan sawah yang indah, dan mulai terlihat Andi yang tangannya sedang diikat dari belakang dan dibunuh oleh sekelompok orang. Dua jam setelah film pertamanya, di suatu tempat di tepi danau, terlihat Rama, wahyu dan Bowo yang terluka duduk di hadapan Bunawar. Bunawar menyuruh anak buahnya untuk membawa Bowo pergi sementara wahyu ditembak di tempat oleh anak buah Bunawar yang lain di hadapan Rama. Rama yang terkejut dengan kejadian tersebut marah dan tidak mau menerima tawaran dari Bunawar.

Berita terbunuhnya Andi, kakak dari Rama pun terdengar di telinganya. Rama mencoba mencari tahu siapa yang membunuh kakaknya kepada Bunawar, yang tak lain adalah Bejo, Seorang kepala gang baru di Jakarta. Rama yang mengira hidupnya akan normal kembali setelah peristiwa di bangunan yang penuh dengan penjahat dan gangster, ternyata dia harus kembali berjuang demi keselamatan anak dan istrinya yang terancam.

Dia pun menerima tawaran dari Bunawar untuk menyingkap para polisi korup yang terlibat rantai dunia hitam. Dengan menyamar sebagai Yuda, dia pun masuk ke penjara yang sama dengan Ucok (Arifin Putra), anak kepala gang yang bekerjasama dengan Goto, yakni Bangun yang dibintangi oleh Tio pakusadewo). Dia harus mendapat kepercayaan dari Ucok dengan mendekati dan menyelamatkan hidup Ucok selama di penjara untuk mendapatkan akses ke polisi2 korup dan mengetahui dimana Bejo, pembunuh kakaknya.

Ucok yang ingin sekali menjadi pemimpin gang dan menggantikan ayahnya pun memilih jalan pintas dengan mengkhianati ayahnya. Pertama dengan membunuh Prakoso (Yayan Ruhian) yang merupakan pembunuh bayaran dan paling dekat dengan ayahnya, dengan bantuan Bejo and the gang. Kedua dengan memicu perkelahian antara kubu ayahnya dan kubu Goto dengan bantuan Hammer Girl (Julie Estelle), Bat man (Very Tri Yulisman) dan Pembunuh bayaran utama dari gang Bejo (cecep arif rahman). Serta Ucok yang membunuh ayahnya sendiri di depan Bejo cs dan Eka, kakaknya sendiri.

Perkelahian-perkelahian tak terelakkan pun terjadi, antara Rama, yang ingin dibunuh oleh kelompok Bejo serta aksi kebut-kebutan Eka (Oka Antara) untuk menyelamatkan Rama yang ditangkap sangat keren untuk dilihat. Pokoknya ga rugi deh menontonnya xD
Akankah Rama berhasil menyingkap tabir para polisi yang korup seperti Reza (Roy Marten) ? Apakah dia berhasil mengalahkan Hammer Girl, Bat man, dan pembunuh bayaran utamanya Bejo ? Akankah Rama berhasil membalaskan dendam kematian kakaknya kepada Bejo ? Lihat selengkapnya di filmnya yang sedang beredar di bioskop2 kesayangan kalian yaa ! xD














Setetes Hujan di Lembang (my hidden collection)



Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sekolah ini,di sebuah kota yang bernama Lembang. Mungkin bagi semua orang kepindahanku disaat kelas 12 ini sangat tanggung tetapi mau bagaimana lagi ? Aku tidak bisa membantah perintah orangtuaku,lagipula disini udaranya segar dan baik untukku. Perhatianku pada pemandangan teralihkan oleh seseorang yang memakai payung hitam tak jauh di depanku.
“Cuaca hari ini kan cerah ? Kenapa dia memakai payung ? Hitam lagi,seperti habis dari pemakaman saja,” gumamku dan terus melangkah menuju kelas baruku.
Baru saja aku masuk ke kelas itu,pandanganku langsung terpaku pada gadis itu. Yaa dia adalah orang yang ku lihat memakai payung hitam tadi. Entah kenapa,aku merasa pandangannya terhadapku itu seperti tatapan seorang anak yang berhadapan dengan pembunuh berantai seperti Jack The Riper.
“Baiklah,ayo perkenalkan dirimu..” kata Ibu Guru yang seketika memecahkan lamunanku.
“Selamat pagi ! Perkenalkan nama saya Rizki Adipati,panggil saja Rizki. Mohon bantuannya teman-teman,” kataku sambil membungkukkan badanku.
“Rizki ! Kamu pindahan darimana ??? Kok bisa pengen sekolah disini ? Tanggung lho,udah mau lulusan nih. Apalagi ini kan sekolah yang agak terpencil ?” kata seorang gadis yang ku dengar namanya Sasha dari kegaduhan kelas ini.
“Saya pindahan dari Jakarta,saya pindah ke sini karena mengikuti orangtua saya yang bertugas di daerah ini,”
Tiba-tiba suasana kelas langsung riuh dan heboh,aku juga tidak tahu mengapa. Yang pasti aku terus memperhatikan gadis itu. Dia tak mengucapkan sepatah katapun. Tersenyum saja tidak,apalagi ikut riuh seperti teman-temannya. Ada apa dengannya ?
“Biar Ibu lihat dulu,kamu duduk dengan siapa... Hmm,kursi kosong yang tersisa hanya ada di samping Maura. Apa kau mau duduk dengannya,Rizki ?” tanya Ibu sambil memandang penuh kekhawatiran terhadapku dan gadis berpayung hitam yang bernama Maura itu.
“Tentu saja,saya mau,Bu...” kataku sambil tersenyum ke arah Maura yang langsung memalingkan wajahnya ke buku.
“Baiklah,silahkan duduk Rizki. Semoga kau betah sekolah disini ya,nak,”
“Iyaa,makasih Bu,” kataku lagi dan melangkah ke arahnya. Aku pun duduk di sampingnya. Aku bisa mendengar jelas bisik-bisik seisi kelas gara-gara aku duduk di samping Maura. Mengapa ya ? Ada yang salah ?
“Hai,namamu Maura ya ? Salam kenal ya ?” sapaku sambil tersenyum. Bukannya menjawab sapaanku,dia malah mengambil jarak dan duduk menjauhiku. Aku terhenyak. Baru kali ini ada yang menghindariku tanpa sebab. Apa jangan-jangan gadis ini tahu sesuatu tentangku ? Semoga saja tidak.
Bel istirahat telah berbunyi. Kontan saja,seisi kelas langsung menghampiriku dan menginterogasiku. Aku bahagia sekali bisa diterima di sekolah ini tetapi gadis itu. Dia tanpa berkata apapun langsung keluar kelas dan hilang dalam sekejab mata. Sepertinya aku jadi mulai penasaran dengannya.
“Hei Ki,kok kamu mau-mau aja sih duduk dengan gadis penyihir itu ? Kamu tidak takut dengannya,” tanya temanku yang bernama Todi.
“Penyihir ? Apa maksud kalian ? Aku tidak mengerti sama sekali,” jawabku polos.
“Dia itu misterius. Tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Berbicara juga jarang sekali. Sekali berbicara,kata-katanya kasar sekali. Apalagi dia selalu membawa payung hitam kemana-mana. Tatapannya kepada kita seperti tatapan ingin membunuh atau mengutuk kita menjadi katak,” temanku,Anto menjelaskan.
“Huuuu,takuuuut...” kata Todi. Aku hanya garuk-garuk kepala mendengar penjelasan mereka. Masa ada orang seperti itu ? seperti manusia tanpa jiwa ? Seperti zombie ?
“Maka dari itu,berhati-hatilah padanya. Jangan mendekatinya apalagi berteman dengannya ! Bahaya ! Sayangi nyawamu,temaan,” tukas Anto sambil menepuk pundakku. “Ayo ke kantin,kau pasti lapar.”
Aku pun menganggukkan kepalaku dan mengikuti mereka ke kantin. Sekilas di lorong,aku melihat gadis itu. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu memandang lurus ke danau. Aku bisa merasakan betapa kelam hidupnya tapi aku tidak bisa memastikan itu. Tatapannya ke danau itu sangat menyakitkan.
“Aduh,kenapa harus lupa membawa cat air ? bagaimana aku bisa mengerjakan tugas praktikum ini ?!” gumamku tak jelas. Akan tetapi gumamanku terhenti,tatapanku terpaku dengan sekotak cat air di depanku. Aku pun memandang Maura. Dia sedang asyik melukis di kertas gambarnya dan tak memperdulikanku.
“Kau mau meminjamkan ini padaku ? Makasih...Maura,” kataku sambil tersenyum. Dia menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan gambarannya. Aku mencoba mengintip apa yang digambarnya. Tapi apa yang ku lihat ? dia menggambar payung hitam.
“Maaf jika aku lancang,tetapi mengapa kau suka sekali dengan payung hitam ? Ku lihat kau kemana-mana selalu membawa payung hitam ? Kau menyukainya ? Wah,biar ku tebak kau menyukai warna hitam ya ? apalagi sekarang kau menggambar payung hitam. Maukah kau menceritakannya padaku.”
“Bukan urusanmu,Rizki,” jawabnya pelan dan langsung pergi keluar kelas. Aku bengong. Ini pertamakalinya aku mendengar suaranya. Hatiku sangat senang. Rasanya seperti menjelajahi samudra pasifik dan terbang dengan paus akrobatik. Mungkin ini akan menjadi awal dari pertemanan kami. Yah,semoga saja. Setidaknya aku berharap.
* * *
Maura meringkuk di kamarnya yang sangat kecil itu. Dia memandang foto keluarganya. Ada ayah,Ibu,Kakak dan adiknya yang tersenyum di foto tersebut. Tak disangka,air matanya menetes. Saat dia memandang fotonya dengan sahabat-sahabatnya kala dia smp,dia menyeka airmatanya. Dan ketika pandangannya terpaku dengan sebuah foto. Foto dia dengan orang yang disukainya. Mereka semua meninggalkannya tanpa mengucapkan salam perpisahan lebih dahulu. Itu semua membuatnya semakin perih.
“Mengapa ? Payung hitam ? Ada apa dengan orang itu ? Mengapa dia menanyakan hal itu. Hal yang tak ada gunanya sekali untuk dipikirkan. Memangnya dia siapa ? Mentang-mentang orang kaya jadi ingin tahu semua urusan orang,” batinnya.
~~~
“Bagaimana sekolahmu,Adipati sayang ??? Sudah punya banyak teman,tidak ?” tanya Bu Wina sambil membelai lembut rambut anaknya.
“Lumayan,aku punya banyak teman. Semuanya baik-baik kok,ma...”
“Minggu depan,harus kontrol ke dokter lagi,jangan lupa yaa,” kata Bu Wina lagi dengan tegas.
“Baiklah,” jawabnya sambil tersenyum.
Setelah Ibunya keluar dari kamarnya,tak sengaja matanya tertuju ke luar jendela. Dia melihat sosok yang dikenalnya itu berjalan sendirian sambil memakai payung hitam.
“Apa yang dia lakukan malam-malam begini ? Sendirian lagi. Apa aku ikutin ya ? Boleh juga...” serunya sambil meraih jaket di mejanya dan berlari keluar rumah.
Tak lama kemudian,dia pun sudah berjalan pelan di belakang Maura. Gadis itu sedang menenteng belanjaan yang bisa dibilang hanya untuk sekali makan saja. Tiba-tiba saja,gadis itu berbalik dan membuat Rizki terkejut dan jatuh.
“Mau apa kau mengikutiku ?”
“Aku tidak mengikutimu,aku habis jalan-jalan dengan temanku. Tidak sengaja aku melihatmu ya jadi aku mengikutimu saja. Aku kan orang baru jadi tidak begitu tahu jalan disini.”
Maura mengerutkan keningnya lalu berbalik dan meneruskan langkahnya. Rizki pun bangkit dan tiba-tiba terbatuk. Darah segar keluar dari mulutnya. Dia terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Maura terus berjalan tanpa melihat ke arahnya dan menghilang di persimpangan jalan.
“Maura...”
Sebuah mobil tepat berhenti di sampingnya. Dia pun menoleh. Keluarlah Bu Wina dan langsung menghampiri Rizki. Tepat saat beliau tiba di depannya,Rizki langsung tak sadarkan diri. Bu Wina sangat panik dan langsung membawanya ke mobil.
Beberapa jam kemudian,Rizki membuka matanya. Dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan terkejut sudah ada ibunya di sana.
“Mama...”
“Kemana saja kau tadi ? Mama khawatir sekali,kau tahu ? Apalagi saat melihat kau muntah darah tadi di jalan. Mama takut kehilanganmu,sayaang... Jangan seperti ini dengan mamamu,” kata Bu Wina terisak sambil memeluknya.
“Maafkan,Adipati...Ini semua salah Adipati. Adipati tidak mematuhi aturan mama,dan sekarang malah membuat mama khawatir. Maafkan Adipati,ma...” jawabnya lirih. “Adipati janji,ma ! Adipati tidak akan membuat mama sedih lagi. Adipati tidak akan berjalan kemana-mana tanpa memberitahu mama lagi.”
“Makasih,sayang.” Kata Bu Wina sambil terus menangis.
* * *
Pagi itu,Maura kembali berjalan ke sekolah dengan payung hitamnya. Hujan turun sangat deras. Dia tak melihat ada sebuah kendaraan bermotor yang melaju ke arahnya. Tiba-tiba  tangannya ditarik sehingga payungnya terlepas dan terjatuh di tepi jalan. Dia meringis. Dan sangat terkejut saat melihat siapa yang menolongnya.
“Kamu...”
“Maura ? Kamu tidak apa-apa,kan ? Kamu baik-baik saja,kan ? Ada yang luka ?” tanya Rizki beruntun.
Maura menepis tangannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Rizki. Lalu dia menatap payungnya yang rusak parah karena tersangkut di pohon. “Kau ! Kau tidak tahu seberapa pentingnya payung hitam itu bagiku. Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Seharusnya kau tak menolongku tadi. Dasar bodoh ! Aku benci padamu.”
“Tapi aku...”
Tanpa mendengar kelanjutan kata-kata Rizki,Maura pun berlari sambil terisak dan terus berlari meninggalkannya sendirian di tengah hujan.
“Gadis berpayung hitam itu,kenapa aku selalu salah dimatanya ? Aku sungguh tidak mengerti dengannya.”
“Mengapa ? Mengapa ? Mengapa ? Mengapa dia menolongku ? Seharusnya dia membiarkanku meninggal. Harapanku untuk hidup sudah musnah. Apa gunanya aku hidup kembali ! Mengapaa !!!” kata Maura sambil terus menangis. “Kenapa dia harus peduli denganku ? Disaat hidupku yang selalu sendiri ini menyenangkan, kenapa dia harus muncul dan menunjukkan kebaikannya padaku ?! Kenapa...”
Jam pelajaran pertama sudah lama dimulai,tetapi Rizki tak juga muncul batang hidungnya. Semua berbisik-bisik dan mengatakan bahwa Rizki menghilang karena sihir gadis berpayung hitam yang tak lain adalah Maura. Saat Maura menoleh ke mereka,secara otomatis suasana kelas langsung sunyi senyap. Tiba-tiba...
“Maaf,Bu ! Saya terlambat...”
Semua orang terpana dengan kemunculan Rizki yang basah kuyup dengan sebuah payung hitam baru di tangan kanannya. Dia pun heran dan menghampiri Maura.
“Maura,ini ku ganti payungmu. Maafkan aku,yaa,” katanya sambil tersenyum dan menyodorkan payung itu ke Maura. “Bu,saya izin ganti baju ke belakang,permisi.”
“Silahkan,Rizki. Baiklah lanjutkan pekerjaan kalian,anak-anak.” Kata Ibu guru tegas. Maura terdiam di tempat duduknya. Dia memandang Rizki dari belakang,matanya berkaca-kaca. Apalagi bisik-bisik teman-temannya semakin menjadi-jadi saja. Saking asyiknya melamun,dia tak sadar tiba-tiba sebuah headset terpasang di kedua telinganya. Spontan dia pun menoleh.
“Rizki...”
“Jangan dengarkan kata-kata mereka. Aku tahu kau lebih menyeramkan dari mereka. Maaf cuma bercanda,aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya ingin melucu dan membuatmu tertawa,” kata Rizki sambil ketawa kecil.
“Tidak perlu...”
“Hah ? Apa ???”
“Berhentilah bersikap baik padaku,kau hanya membuatku semakin benci terhadapmu. Hentikanlah dari sekarang,aku mohon. Ini semua demi kebaikanmu...”
“Tapi...”
Maura memalingkan wajahnya dan kembali tekun mengerjakan tugasnya. Rizki terdiam seketika. Tak tahu harus berkata apa. Kepalanya sangat pusing saat itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana bersikap di depan Maura. Dia tidak mau Maura salah paham dengannya. “Ya Tuhan,jangan lagi,” gumamnya sambil memegang dahinya.
Saat pulang sekolah,hujan kembali turun dengan deras. Rizki terdiam memandangi hujan. Dia terus kepikiran kata-kata Maura. Hingga tiba-tiba sebuah payung hitam menaunginya. Dia terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Lalu menoleh ke samping.
“Maura..”
“Anggap saja ini balas budiku karena kamu telah menolongku. Aku tidak mau berhutang budi lama-lama dengan orang sepertimu,”  kata Maura ketus.
“Bagaimana kalau ku traktir makan ? mau ?” tanya Rizki hati-hati. Aku  memandang Maura dengan was-was. Berharap Maura tidak meninggalkanku lagi dan membenci kehadiranku. Dia  mau bicara denganku saja,aku sudah bersyukur sekali.
“Baiklah,”
“Tunggu sebentar,aku pergi dulu,” kataku sambil berlari ke tempat penyewaan sepeda dan secepatnya kembali di depannya. “Ayo naik,kita akan pergi dengan sepeda ini.”
Tanpa pikir panjang,dia langsung naik di pedal boncengan sepedaku dan entah ini cuma khayalanku belaka atau apa,aku melihatnya tersenyum. Tapi,mungkin ini hanya mimpi atau harapanku belaka. Aku pun mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga.
“Kita makan di sini ???”
“Kau tidak suka ya ? ya udah,kita pergi ke tempat lain saja,” kataku sambil kembali ke sepedaku.
“Jangan,disini saja...”
Setelah selesai makan,kami pun duduk-duduk di tepi sebuah danau kecil. Tak ku sangka,dia sesenggukan di sampingku.
“Maura,aku tidak bermaksud seperti itu,aku hanya ingin berteman denganmu, aku...aku..” kataku gelagapan. “Ku mohon, jangan menangis seperti ini,apa aku menyakitimu ? Apa salahku ? Ku mohon,katakanlah..”

“Mengapa kau baik sekali padaku ? Kenapa kau tidak seperti teman-teman lainnya ? Mengacuhkanku dan tidak menganggapku ada ? Kenapa ?! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku ? Aku bukan siapa-siapa,aku hanya remaja yang memendam duka bertahun-tahun. Terluka oleh semua orang. Kau tidak bisa membayangkan sakitnya kehilangan orangtua di usia dini. Harus menjadi beban kakakmu hingga dia meninggal di tahun berikutnya karena menderita kanker. Kami bangkrut dan semua orang bahkan sahabatku mulai menjauhiku,” jelasnya sambil menangis.
Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pun memandang lurus ke danau dan terus mendengarkannya.
“Setelah itu,aku bekerja membanting tulang di warung-warung sebagai pencuci piring. Beberapa hari kemudian adikku sakit. Karena ketidaksediaan biaya,aku hanya merawatnya di rumah. Tak ada satupun yang mau menolongku dan akhirnya...adikku meninggal. Tak lama kemudian,aku dekat dengan seseorang. Dan aku menyukainya. Tapi...tak lama kemudian dia dikabarkan meninggal karena suatu kecelakaan. Menyedihkan,bukan ?”
“Setelah itu,aku berpikir. Semua derita ini harus diakhiri. Sejak itu aku mulai memakai payung hitam. Hidupku hampa. Hidupku berubah 180 derajat. Aku tidak mau berbicara dengan siapapun,aku tidak percaya dengan semua orang. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang ku sayangi lagi. Mungkin dengan memakai payung hitam itu dan bersikap dingin pada semua orang dapat membuat hidupku tenang. Jadi,lebih baik biarkan aku hidup menyendiri seperti ini. Aku mohon...” katanya sambil memandangku.
“Aku tidak peduli,aku hanya ingin berteman denganmu. Tidak bisakah kau coba kembali untuk bergembira seperti teman-teman lainnya. Kau harusnya bersyukur bisa hidup lebih lama. Aku iri denganmu,” kataku sambil terbatuk.
“Rizki,itu ada apa di bawah bibirmu ? Darah ?” tanyanya was-was.
Aku pun menyeka bibirku. Ya Tuhan,kenapa lagi-lagi muncul. Aku harus bilang apa dengan Maura. Dia tidak boleh tahu tentangku. Selamanya. Mungkin. “Oh ini,ini gara-gara saos tomat. Aku makannya terlalu cepat tadi makanya sampai mengenai bibir.”
“Jangan berbohong,Rizki...” desahnya pelan.
“Maura,maukah kau menerimaku sebagai temanmu ? Aku akan selalu ada untukmu. Kita bisa belajar bersama bareng. Dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Maukah kau membuka hatimu sedikit untukku ? Aku ingin menjadi sahabatmu...” tukasku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Aku mau kok,tak ada salahnya,kan ? Kau juga sudah baik sekali padaku. Ku mohon jangan kecewakan aku.”
“Tentu saja ! Janji pramuka !” kataku bersemangat sambil tertawa kesenangan. Dia tersenyum padaku. Dan kali ini aku benar-benar melihatnya. Bagiku,ini adalah mukjizat terindah yang pernah diberikan Allah padaku. Setidaknya selama aku hidup. Aku tidak akan pernah melupakan hal ini. Takkan pernah selamanya.
* * *
Besok paginya,sekolah heboh. Semua sibuk berkumpul di depan papan pengumuman. Aku yang baru datang pun mencoba mencari tahu. Tiba-tiba saja Maura menghampiriku dan langsung menamparku. Aku mematung di tempat.
“Kau ! Ku pikir kau berbeda dengan yang lainnya. Ku pikir kau tulus mau berteman denganku ! Nyatanya ?! Selama ini kau mendekatiku karena ingin tahu semua rahasiaku lalu menyebarkannya ke semua orang ?! Kau tega sekali padaku ! Kau...”
“Maura,ini bukan aku. Ini cuma salah paham...”
“Diam ! Aku tidak mau lagi mendengar semua kata-katamu ! Menjauhlah dariku ! Dan ku peringati kau ya ! Tidak usah berlagak menjadi pahlawan kesiangan di mataku ! Aku tidak perlu orang sepertimu ! Enyahlah dari kehidupanku !” katanya lantang dan langsung meninggalkanku dengan beribu tatapan tak menyenangkan dari semua orang.
Sungguh,hatiku perih. Serasa tertusuk ribuan paku yang terhampar di lautan. Seperti kertas yang dipotong kecil-kecil hingga menjadi serpihan debu. Dan ini pertama kalinya ada orang yang berkata kasar padaku. Yang lebih membuatku sakit,Maura yang mengatakan semua itu langsung padaku.
Benar saja,sejak kejadian itu. Dia menghindariku seperti aku ini wabah penyakit yang menular. Dan dia masih suka memakai payung hitamnya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Mungkin,ini memang takdirku.
“Riz,kamu kan sudah UAN nih. Gimana kalau kamu ikut mama berobat ke Singapura ? Ini semua demi kamu juga. Mau ya ?”
“Tapi,ma...”
“Mama tidak mau tahu,mama beri kamu waktu 3 hari untuk mengucapkan salam perpisahan untuk teman-temanmu,oke ?”
“Baiklah...” kataku sambil tersenyum simpul. Mungkin,inilah saatnya untuk memperbaiki semuanya. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maura. Dia harus tahu yang sebenarnya. Aku pun berlari ke sekolah dan mendapati dia sedang melamun dengan menenteng payung hitamnya. Lagi.
“Maura..”
Dia menoleh dan buru-buru ingin pergi dari situ.
“Aku tunggu kau besok jam 8 pagi di tepi danau tempo hari itu,aku akan menunggumu sampai kapanpun. Jadi,ku mohon datanglah. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu,” kataku tegas. Tapi dia tak menghiraukannya dan terus melangkah pergi. “Aku harap kau datang.”
Hujan turun sangat deras. Sesekali Maura menengok ke luar jendela. Dia terlihat gundah. Dia pun merebahkan badannya ke kasur. Dia memandang langi-langit kamarnya.
“Apa yang harus ku lakukan ? Apa dia masih menungguku sekarang ??? Tak mungkin,dia pasti pulang ke rumah.”
Tapi tak berapa lama kemudian,Maura mengambil mantelnya dan payung hitamnya lalu berlari menerobos hujan. Dia tak peduli lagi. Dia ingin tahu apa yang ingin dikatakan Rizki padanya. Setidaknya kali ini dia mencoba berharap.
Tapi apa yang terjadi ? Setibanya di danau itu,tak ada seorangpun di sana. Dia terus menunggu hingga malam pun tiba tetapi Rizki tidak muncul juga. Air matanya kembali mengalir.
“Dia membohongiku..”
Sepanjang perjalanan pulang,dia melihat ke langit. Bintang-bintang menghiasi langit malam itu dengan kecantikannya. Tapi tetap saja tidak bisa mengubah perasaannya yang terlalu kecewa.
“Seharusnya aku tidak mempercayainya,seharusnya aku tidak berharap banyak padanya,harusnya aku...”
* * *
Besok paginya,Maura tidak sengaja melewati sebuah kios. Di saat, air hujan menetes dengan derasnya. Dia pun mampir dan mengambil sebuah koran lalu membacanya. Tangannya bergetar. Dia sangat terpukul dan langsung menutup koran itu dan mengembalikannya.
“Ternyata aku salah selama ini...”
Dia pun mengembangkan payung hitamnya. Lalu kembali melangkah sambil memakainya walaupun saat itu sang mentari sedang bersinar dengan gagahnya. Langkahnya pelan namun pasti. Namun pandangannya kosong. Dia terus melangkah hingga menghilang di persimpangan jalan dan hingga yang dapat terlihat darinya,hanyalah sebuah payung hitam dari kejauhan.
selesai