Selasa, 08 Juli 2014

Tale of The Rainbow Rose - #2

why you can’t understand me, i love you so much~

“Hentikan lagumu itu, Leo…” bentakku yang mencoba berkonsentrasi dengan tugas-tugas sekolahnya.

“Aku kan hanya bernyanyi, mencurahkan isi hatiku melalui lagu ?” tanya Leo merengut kesal dari atas pohon. “Aku bosan melihatmu mengerjakan tugas-tugas itu, menjawab soal-soal tentang sejarah kerajaan ini dan sejarah tentang bagaimana penyihir begitu dibenci di kerajaan ini.”

Aku tidak mempedulikan Leo yang terus mengeluh di atas pohon. Terus mencoba menjawab semua pertanyaan di buku yang tebal dan berdebu, yang dipinjam di perpustakaan sekolah.

Di kerajaan mereka memang didirikan sebuah sekolah untuk seluruh rakyat, akan tetapi tidak semua anak yang bisa sekolah di sana. Contohnya Leo, orang tua angkatnya tidak peduli dengan pendidikan anak mereka tersebut sehingga Leo tidak berhenti untuk mengintip suasana kelas untuk ikut belajar. Walaupun begitu, terkadang jika ketahuan anak-anak para petinggi kerajaan, dia akan dipukuli dan langsung diusir dari sekolah. Anehnya, dia tidak marah, hanya tersenyum.

Aku termasuk salah satu yang tidak menyukai tingkah laku Leo yang menurutku itu hal yang sia-sia. Tapi dia tidak pernah menyerah untuk ikut belajar walaupun hanya melalui jendela kelasku. Terkadang aku prihatin melihatnya. Dia seharusnya juga sekolah seperti kami, bukannya berkeliaran tidak jelas. Setidaknya sekarang dia menjadi temanku, teman baik.

“Leo…”

“Hmm ?” jawab Leo sambil memandang ke awan-awan yang kelabu, yang setia menaungi kerajaan mereka. Dia berpikir keras, mencoba memecahkan suatu persoalan yang sama sekali tidak ingin ku ketahui.

“Menurutmu mengapa awan-awan ini hanya kelabu ? Mengapa tidak menurunkan hujan ? Semua orang sedih, jika terus begini kerajaan kita akan mengalami masa paceklik…”
tanyaku serius.

“Aku tidak tahu, Susan..” dia terkekeh. “Kau ingin hujan turun sekarang ?”

“Apa maksudmu, anak balon ?” kataku merasa bahwa perkataanku sama sekali tidak lucu.
“Berhentilah memanggilku anak balon. Jika kau ingin melihat hujan turun hari ini segera masukkan buku-buku itu ke dalam tas dan pejamkan matamu…” Dia tertawa melirik Susan. “Aku sungguh-sungguh…”

Aku pun menuruti perkataannya dengan terpaksa, aku tahu dia cuma ingin menghiburku, tapi memanggil hujan ? Tentu saja dia tidak bisa, dia bukan pesulap atau pun pawang hujan. Aku tersenyum geli, aku yakin dia hanya mengkhayal menjadi pemanggil hujan.

Tiba-tiba setetes air membasahi wajahku. Aku pun mencoba membuka mataku. Aku terperangah. Hujan telah turun. Semua orang mulai keluar dari rumah dan bersorak bahagia. Mawar-mawar yang layu kembali memancarkan keindahannya. Aku segera menoleh kepada Leo, menatapnya dengan seribu pertanyaan. Lagi-lagi senyum kembali terlukis di bibirku. Dia tersenyum balik kepadaku dan berlari-lari serta ikut menari bersama orang-orang, sangat bahagia.

“Bagaimana bisa ?” tanyaku pada langit.

“Anak itu unik, perhatikanlah dia mulai sekarang nona…” jawab langit.

“Unik…” Aku memandang Leo. Aku merasa dia mempunyai sesuatu yang dia sembunyikan. Aku akan menyelidikinya, pasti…

* * *

“Miss Thompson, aku ingin mengembalikan buku ini…”

“Baiklah, nona Lipton…” jawab Miss Thompson tersenyum lebar. Usianya tahun ini akan menginjak 105 tahun, tapi dia sama sekali tidak terlihat tua dan lemah. Aku memandanginya lekat-lekat, berharap mendapatkan tips awet mudanya.

“Ada apa, nona Lipton ?”

“Tidak, tidak ada apa-apa…” Aku tersentak dan lari ke rak-rak buku fiksi. Saat aku berbalik, aku terkejut. Leo sedang membaca sebuah buku dengan penuh penghayatan. aku mendekatinya, mencari tahu apa yang dibacanya.

“Aku tahu kau ada di sini, Susan…” dia menoleh padaku dan tersenyum lebar.

“Oke, aku ketahuan. Sedang apa kau di sini ? bagaimana bisa kau masuk dan membaca di sini sedangkan hanya anak-anak sekolah saja yang bisa masuk ke sini ?”

“Kau tidak tahu ?” Leo menutup bukunya. “Setiap hari aku berada di sini, aku membantu nyonya Thompson merapikan buku-buku dan melapnya hingga bersih. Belia sangat baik, aku sering diberi makan. Aku juga diperbolehkan untuk membaca sepuasnya di sini. Aku jadi sedikit tahu dengan balon…” dia menghentikan ucapannya. “Setidaknya nyonya Thompson adalah orang kedua yang bersikap baik padaku setelah kau.”

“Leo…” Aku jadi merasa bersalah dengannya, jika saja dia tahu aku hanya terpaksa berteman dengannya selama ini. Apa yang akan dia lakukan ? Apa dia akan melakukan hal-hal buruk ?

“Susan ?” panggil Leo pelan.

“Ya ?”

“Suatu hari nanti aku akan menemukan balon udara, aku akan menggunakannya untuk mencari orang tua kandungku, setidaknya aku harus tahu mengapa aku ditempatkan di rumah mereka, menjadi pelayan mereka, makan pun hanya diberi roti basi, tidak disekolahkan dan seribu pertanyaan lainnya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa balon udara itu ada…” dia tersenyum lalu kembali fokus dengan bacaannya.

“Kau membaca tentang penyihir ?”

“Tentu saja, aku sangat ingin tahu segala hal tentang penyihir.” Leo menghela napasnya. “Karena aku tahu, tidak semua penyihir itu jahat…”

Aku tertegun mendengar perkataannya. Dia mengatakan seolah para penyihir itu baik. Dia tidak tahu sama sekali apa yang telah menimpa keluargaku akhir-akhir ini, terutama tentang kakakku yang semalam telah disihir menjadi patung es. Oh, aku sangat benci dengan penyihir.

* * *

Aku terpaku melihat selebaran yang ditempel pada semua tembok. Pesta dansa kerajaan. Pangeran akan memilih siapa saja yang akan menjadi permaisurinya saat pesta dansa tersebut. Aku tersenyum sendiri. Mungkinkah aku bisa menjadi permaisuri pangeran Glen ? Mungkin. Tidak mungkin. Mungkin saja…

“Masih berharap pangeran akan memilihmu ?” tanya Leo tiba-tiba.

“Tentu saja ! Aku tidak akan menyerah ! Aku yakin pangeran akan memilihku !” kataku sambil mengepalkan tanganku.

“Tidak salah tuh ? Sudah jelas pangeran tidak akan memilih gadis dengan gaun usang sepertimu, jangan mimpi terlalu tinggi…” celetuk seorang gadis, dia tesenyum licik dan menghilang.

Gadis itu bernama Lena, dia adalah saingan terberatku untuk mendapatkan pangeran Glen. Dia memang cantik, terlahir dari keluarga kaya, pintar dan sangat lemah lembut *tidak jika di depanku* aku sangat membencinya. Aku harus mengalahkannya, akan tetapi… aku tidak punya gaun yang cantik, semuanya gaun lama ibuku, lagipula semua uang sudah digunakan untuk penyembuhan kakakku. Apa yang harus ku lakukan ? Haruskah aku menyerah sekarang ?

“Apa sih yang kalian berdua dan semua gadis itu lihat dari pangeran Glen ? Tidakkah kau tahu, hidup di dalam kerajaan itu tidak enak, terlalu banyak aturan, kalo aku jadi kamu, aku akan bersyukur dengan hidupku sekarang…” kata Leo, memecah lamunanku.

“Apa yang kau tahu dariku ? Kau tidak tahu apa-apa, Leo !” bentakku. Aku marah sekali padanya, aku tidak tahu mengapa dia sangat membenci pangeran. Dia juga suka ikut campur dengan urusanku, menyebalkan.

Leo terdiam. Dia mengeluarkan sebuah jarum dan benang. “Aku bisa membuatmu terlihat sangat cantik saat pesta dansa nanti, membuat pangeran terpesona padamu, aku akan membuatkanmu gaun yang sangat indah dari semua gadis di kerajaan ini. Aku janji…jika itu memang membuatmu bahagia…”

“Benarkah ? Kau tidak bohong kan ?” tanyaku penuh semangat. “Tunggu dulu, memangnya kau bisa menjahit ?”

“Kita lihat saja nanti, gaun itu akan tiba di rumahmu tepat sebelum pesta dansa akan dimulai…” Leo tersenyum tipis, menyimpan jarum dan benangnya, menghembuskan napas dan pergi secara misterius.

bersambung

Tale of the Rainbow Rose - #1

Aku membuka mata. Menoleh ke kanan dan kiriku. Sama saja. Aku masih berada di rumah, di sebuah negeri yang mewajibkan seluruh warganya untuk memakai gaun (untuk cewek). Ya, inilah negeri Rosetalia, negeri yang ditumbuhi dengan bunga-bunga mawar dengan bermacam warna yang indah. Aku meloncat dari ranjang dan langsung memakai bajuku, berlari menuruni tangga, berharap orangtuaku telah pulang dari pekerjaannya.

Namaku Susan Princessa Lipton. Orangtuaku bekerja sebagai pemburu penyihir. Pada zaman dahulu kala, negeri kami dikuasai oleh sebuah sihir hitam yang sangat jahat. Akan tetapi, berkat keahlian orangtuaku dan seluruh warga yang membantunya, para penyihir itu pun dapat ditangkap dan dilenyapkan. Sejak saat itu, orangtuaku menjadi sangat terkenal begitupula kakakku, Iskandar. Dia juga memiliki keahlian untuk memburu para penyihir jahat itu. Sedangkan aku ? Aku hanyalah gadis biasa, yang juga hobi berburu… bukan, bukan berburu penyihir seperti mereka, aku hanya berburu hewan untuk makanan kami sehari-hari.

“Mama, apa kalian berhasil memburu penyihir itu ?”

“Tidak, sayang.” Marie membelai lembut rambut anak kesayangannya itu dan tersenyum. “Para penyihir itu kemungkinan sudah melarikan diri dan sedang bersembunyi. Asalkan mereka tidak menyerang negeri kita lagi, tidak ada perburuan penyihir lagi dan keluarga kita bisa berkumpul lagi.”

Aku tersenyum. Aku melirik ayah dan kakakku yang sedang terlelap kelelahan. Aku mengambil wadah anak panah dan busur, menggantungkannya di bahuku, siap untuk berburu hari ini.

“Aku pergi sebentar, ma…”

“Hati-hati, Susan…” Marie tersenyum lembut.

Aku menepuk dadaku tiga kali dan tersenyum. Ya, itu merupakan kebiasaan dalam keluarga kami yang mengartikan bahwa kami akan baik-baik saja. Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Bersiul merdu kepada burung-burung yang hinggap di dahan pohon beringin kami. Saat aku siap untuk membidikkan panahku ke salah satu ranting pohon tersebut, aku tidak mahir memanjat pohon apel, jadi lebih baik memanahnya.

“Hai, Susan…”

Aku terkejut, membalikkan badanku dan siap untuk membidik siapa saja yang berada di belakangku. Orang itu tersenyum geli. Aku pun menurunkan busurku dan cemberut. “Leo, jangan membuatku terkejut lagi…”

Laki-laki yang bernama Leo itu pun menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menggaruk kepalanya. Dia memang orang yang aneh. Dia selalu mengimpikan untuk menemukan balon udara, entah apa yang membuatnya begitu tergila-gila pada sebuah balon. Dia tidak pernah sekolah seperti kami, orangtua angkatnya tidak pernah bersikap baik padanya dan menganggapnya hanya sebagai pelayan. Semua orang meremehkannya, mengucilkannya, bahkan sering melemparinya dengan apa saja karena keanehannya. Aku juga mungkin tidak akan mau berteman dengannya jika saja dia tidak menolong dan mengobatiku saat aku digigit beruang 7 tahun yang lalu.

Pernah dulu saat kami sekolah, dia mengintip dari balik jendela dan ikut belajar. Seperti itu terus setiap hari, hingga dia ketahuan dan langsung diusir dari sekolah tersebut. Dia memandangku sekilas dan berlari menuju pohon kesayangannya, memanjat pohon tersebut dan tidur seharian di sana. Aku sering merasa bersalah dengannya tapi aku memang tidak bisa membantunya, aku juga hanyalah rakyat biasa.

“Mau berburu lagi ?” tanya Leo dengan polosnya.

“Kau lihat aku membawa apa, kan ? Sudah pasti aku berburu…” jawabku sambil merengut kesal.
“Boleh aku ikut ? Mungkin aku bisa melihat balon udara atau aku bisa membuat balon dari tanaman gelembung. Boleh kan ? Aku mohon, Susan…” mohon Leo dengan tatapan memelasnya.

Aku menghembuskan napas dan menganggukkan kepalaku. Dia melompat gembira dan segera saja mengambil tas kecilnya dan berjalan di belakangku. Kadang aku merasa tidak seusia dengannya, aku merasa berjalan dengan seorang anak kecil yang tergila-gila pada sebuah balon. Tapi dia tidak peduli, dia terus mengagumi keindahan mawar-mawar yang sedang mekar dan mengatakan hal-hal yang tidak ku mengerti.

“Beri jalan kepada pangeran Glen !”

Aku terkesiap dan segera menarik Leo untuk menyingkir. Pangeran Glen dengan kudanya melenggang gagah melewati kami. Aku tersenyum walaupun dia tidak menoleh kepadaku. Dia selalu tampan dan membuat jantungku berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tapi aku sadar, aku hanyalah warga biasa, dia adalah seorang pangeran. Cinta kami tidak akan pernah bisa bersatu. Setidaknya perasaanku kepadanya tidak akan pernah terbalas, dia pasti sudah ditunangkan dengan putri kerajaan lain yang sangat cantik dan lemah lembut, tidak sepertiku.

“Kau tahu ? Aku mungkin jauh lebih tampan dari pangeran itu…”

“Diamlah kau…”

“Mengapa semua gadis di negeri kita begitu tergila-gila pada pangeran pesolek itu ?” tanya Leo sambil memetik setangkai mawar biru dan memandanginya.

“Kau ingin tahu ? Itu sama saja dengan mengapa kau bisa begitu tergila-gila pada sebuah balon. Jelas ?” jawabku ketus.

“Balon ? Dimana balon ? Kau melihatnya ? Dimana, Susan ?” tanyanya histeris dan berlari tak tentu arah.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mencoba tetap tenang menghadapi tingkah laku Leo. Aku seringkali merasa risih harus menghadapi tatapan orang-orang terhadapku yang mau berteman dengan anak balon tersebut, jika saja mereka semua tahu aku terpaksa. Aku merasa ikut aneh. Andaikan saja aku tidak berhutang nyawa padanya, mungkin aku tidak akan merasa seperti ini.

“Dengarkan aku, anak balon. Diamlah… aku tidak berkonsentrasi untuk berburu sementara kau terus membicarakan hal yang tidak jelas tentang balonmu itu. Aku akan mencarikanmu balon, tapi tidak sekarang, oke ?”

“Jika itu lebih baik…” Leo tersenyum. Dia memanjat pohon yang berada tidak jauh dariku dan bergelantungan dengan gembira. Kadang aku kagum juga dengannya, saat dia mulai bernyanyi dan dikelilingi semua burung yang cantik. Seolah ada sebuah kekuatan yang membuatnya terlihat begitu istimewa.

“Balon, dimanakah dikau berada ? Tidak tahukah dikau bahwa daku sangat merindukan dikau ? Daku sangat ingin bertemu denganmu, apa yang harus daku lakukan ? Dikau meninggalkan daku bersama gadis aneh yang bisanya hanya cemberut dan berburu, daku merasa tidak betah…”

“Kau bicara dengan siapa ? Dengan kumpulan burung ini ? Mereka tidak bisa berbicara…” kataku kesal.

“Apa maksudmu ? Aku bisa berbicara, nona membosankan…” jawab salah satu burung berparuh biru menoleh ke arahku.

“Apa-apaan itu !” Aku terlonjak dan mundur ke belakang dengan tanganku yang siap siaga untuk membidikkan panahku ke arah burung itu. Mana mungkin burung itu bisa berbicara, aku pun memejamkan mataku. Berharap semua ini hanyalah mimpi. Aku pun membuka mataku kembali. Leo dan sekumpulan burung itu masih berada di tempatnya semula.

“Susan, kau baik-baik saja ?” tanya Leo cemas. “Tuan Flicker hanya bermaksud menyapamu, dia tidak beniat jahat padamu. Turunkan busurmu itu…”

“Tuan Flicker ? Maksudmu nama burung biru yang berbicara padaku ini adalah Flicker ? Kau gila, Leo ! Aku gila !”

“Tenanglah nona, jika aku ingin, mungkin aku akan menggigit tanganmu itu atau mematahkan busurmu itu jika saja…”

“Tuan Flicker !” potong Leo.

“Baiklah…”

Aku menurunkan busurku dan menenangkan diriku. Ini pertama kalinya aku melihat burung bisa bebicara, bersama Leo. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Well, walaupun dia selalu melakukan hal-hal yang aneh tapi bukan dia kan yang membuat burung ini bisa berbicara ? Leo hanyalah remaja laki-laki biasa dengan matanya yang coklat dan sayu serta rambut yang selalu berantakan. Siapa dia sebenarnya ?

“Susan…aku merasa sangat mengantuk, jika kau ingin berburu, pergilah… Aku mau tidur di sini saja, jangan khawatirkan aku. Tidak akan ada yang menyakitiku, bahkan pangeran itu…”

“Leo…” gumamku datar.

“Tidak, aku sudah lelah. Aku akan duduk di sini untuk melihat matahari terbenam. Aku akan melindungimu…”

"Terserah kau saja, anak balon..." jawabku heran dengan perkataannya.

Leo sudah terlelap dalam tidurnya. Aku tersenyum. Dia memang terkadang menyebalkan tapi dia juga satu-satunya teman yang bisa mengerti aku. Aku masih ingat 7 tahun yang lalu, saat aku masih berusia 9 tahun dan mencoba untuk berburu pertama kalinya. Itu adalah pertama kalinya aku ditinggalkan orangtuaku untuk bekerja. Dan aku merasa, sebentar lagi hidupku tidak akan sedamai ini lagi. Perang mungkin akan segera dimulai, antara kami dan para penyihir itu. Tidak akan lama lagi…

Bersambung

Minggu, 01 Juni 2014

Akdong Musician (AKMU) - 200 % Lyrics + Translate English







Nareul bwa nareul bwa nareul bwa
Nal barabwa barabwa barabwa

Neoreul bon nae maeumsoge sarangi
Nae bonneungi gobaek ppallihara hae
Ne juwireul dulleossan sumanheun gyeongjaengja
Yes, i’m a soldier for you
Sweet menteu jangjeon balsahagi jeone
Jegundeul ip pureona(yet wanjeon)
Ganjangkungjangkongjangjang equalt gan kungjangjang
(yeah i’m ready)

Achimi kkaeneun sori morning
Baramdeureun maket harmony
Jeomureoganeun dalbicceun let it go
Yeomureoganeun romance kkumkkugo(good night)
Hey baby it’s comin’ new day
Saeroun neukkimiya igeon
Hey wae irae it’s common lovesick
Amuraedo igeoneun igeoneun

It must be L.O.V.E
200 percent, sure of that
I want you really
I mean really

Jeongmal iya neol johahaneunde
Ppalgahge igeun nae eolguri geugeol jeungmyeonghae

Nareul bwa nareul bwa nareul bwa
Nal barabwa barabwa barabwa
Nan strawbelly cheoreom (very very)
Sangkeumhan saram don’t (wolly wolly)
Eoribeori han geudae juwi saramdeureun
Modu da igijuui
Bam najeul georeumyeo (neol jikyeojul) nawa dalli
(geudeureun chakireul) gwasihajiman
Bad guy jadaga ireona
Jamkkodaerodo neol chajne

Achimi kkaeneun sori morning baramdeureun makes harmony
Jeomureoganeun dalbicceun let it go yeomureoganeun romance kkumkkugo
Hello eodi ganeun geoni(where you)
I’ll be there nega ineun geu geori(that way)
Ajik uri sai seomeokhaedo
Geuraedo tryneun haebwayaji narado

It must be L.O.V.E
200 percent, sure of that
I want you really
I mean really

Jeongmal iya neol johahaneunde
Ppalgahge igeun nae eolguri geugeol jeungmyeonghae
Cheoeumiya ireon gibun
Meomchujil mot hagesseo mak neomchyeo
Nuga jamga noheun deut nae ibeun
Ne apeseo omuljjomul an yeollyeo
Nae bureume dwireul doraboneun
Ne du nuneul boni
(I said)
See you tomorrow

Oh baby it can’t be over like this
Some one help me
Nae mameul jeonhal su idamyeon
Sasireun na neol(oh please)
Johahaneunde(i’m sure)
Modeun geol dameun i nunbicci geugeol jeungmyeonghae

It must be L.O.V.E
200 percent, sure of that
I want you really
I mean really
Jeongmal iya neol johahaneunde
Ppalgahge igeun nae eolguri geugeol jeungmyeonghae
It must be L.O.V.E

Translate English 

Uh look at me, look at me, look at me
Look at me, look at me, look at me

When I look at you, the love and instinct in my heart
Tells me to hurry and confess to you
All of the competitors that surround you
Yes I’m a soldier for you
Before I release my sweet ment
Gentlemen, have you warmed up your lips? (Yes completely)
Kanjang kongjang kongjangjang equals kan kongjangjang (yeah I’m ready)

The sound of the wind that wakes me up in the morning makes harmony
The darkening moonlight let it go, the ripening romance dreams (good night)
Hey baby it’s comin new day, this is a new feeling
Hey, what’s wrong, it’s common lovesick, this is, this is

It must be L.O.V.E 200 percent sure of that
I want you really I mean really
Really, I like you and my reddening face proves that

Look at me, look at me, look at me
Look at me, look at me, look at me
Like a strawberry (very very) I’m very fresh (don’t worry worry)
You’re so innocent and everyone around you is selfish
Rather than me, who will protect you day and night
They only show off their cars, bad guy
But even when I wake up, I look for you in my sleep talk

The sound of the wind that wakes me up in the morning makes harmony
The darkening moonlight let it go, the ripening romance dreams
Hello, where are you going (where you) I’ll be there, where you are (that way)
Even if we’re not that close, I still have to try, at least I do

It must be L.O.V.E 200 percent sure of that
I want you really I mean really
Really, I like you and my reddening face proves that

I’ve never felt this way before, I can’t stop, it overflows
As if someone locked it up, my lips won’t open in front of you
When I called you and I saw your eyes as you turned around (I said) see you tomorrow

Oh baby it can’t be over like this
Someone help me, if only I could tell you how I feel
Actually I (oh please) like you (I’m sure)
These eyes that contain everything prove that

It must be L.O.V.E 200 percent sure of that
I want you really I mean really
Really, I like you and my reddening face proves that

It must be L.O.V.E



Akdong Musician (AKMU) - Give Love Lyrics + Translate English


niga nal silheohae haneun geol ara
naneun seounhae geureon nal wae neoneun mos ihaehae
You don't understand nan neoleul johahandago
naega mwol jalmoshaessneunde naege wae geureoneunde
geureolsurog nan doege seobseobhae Oh I'm so sad
geureonikka seulseul Let me come into your maeum
jungyohan geon maeum
gyeolko ne eolgulman bogo johahaneun geo (ani aniya)
nal miwohaneun neoui nari seon maltukkajido
saranghage doen geo ige nae (mamiya)
neoe daehan geon sasohan geosdo gieoghae nan mania
amuri nappi gureodo neon naege i sungan manhwaya
sunjeongmanhwaya juingongeun maennal maennal ileohge bammada gidohae
Give Love sarangeul jom juseyo
Give Love sarangi mojarayo
maeilmaeil jaraneun sarangeul geunyeoege juneundedo badjil anheuni
Give Love sarangeul jom juseyo
Give Love sarangi mojarayo
maeilmaeil jaraneun sarangeul geunyeoege juneundedo badjil anheuni
Give Love
Give Love
jalmoshan geosdo eobsneunde wae
mujagjeong silheohago boneun neo
Why can't you understand me
nan neoreul johahandago
nega nal silheohae haneun geol an hu
buteo saemsosdeon uiyogi da sideulgo
seolledeon nae mamdo kkeutigessguna
haessneunde ttodasi seulgeumseulgeum
dagagado doelkka
baraboneun geosjocha silheohalkka bwa
nan mollae dwieseo ‘geunggeungjeonjeon’hae
jeomjeom haega jimyeon dalbich jeongjeone
yonggiga na nae mameul jeonbu jeonhae
hajiman geunyeowa nae sai geori neomu meoreo
jugo tto juneun sarangi gilbadage da beolyeojyeo nagyeobcheoreom ssahine
bomi doemyeon heulgeuro nama hogsi gidaehae ssagi doelkka
Give Love sarangeul jom juseyo
Give Love sarangi mojarayo
maeilmaeil jaraneun sarangeul geunyeoege juneundedo badjil anheuni
Give Love sarangeul jom juseyo
Give Love sarangi mojarayo
maeilmaeil jaraneun sarangeul geunyeoege juneundedo badjil anheuni
Give Love
Give Love
 
Translate English

I know that you hate me
I’m sad, why can’t you understand me?
You don’t understand, I like you

What did I do wrong? Why are you doing this to me?
The more you do that, the sadder I get, oh I’m so sad
So let me slowly come into your heart

The important thing is the heart
I’m not liking you just for your face (no no)
Even your sharp words that hate on me
I came to love them, this is my (heart)
If it’s about you, no matter how small it is, I remember it, I’m a mania
No matter how badly you treat me, you’re like a comic book
Like a romantic comic book, every night I pray like this

Give love, give me some love
Give love, there’s not enough love
I give the love that grows every day to her but she doesn’t accept
Give love, give me some love
Give love, there’s not enough love
I give the love that grows every day to her but she doesn’t accept

Give Love
Give Love

I didn’t do anything wrong
But why do you hate me for no reason?
Why can’t you understand me
I like you

After I found out you hated me
You made my strong motivation wither away
I thought my heart racing days would be over
But once again, slowly

Can I get closer?

In case you would hate me even looking at you
I secretly hide behind and tremble with fear
When the sun sets and the moonlight rises
I get courageous and I tell her my heart
But she and I grow too far apart
The love that gives and gives gets thrown away on the street, stacking up like dead leaves
When spring comes, it turns into dirt but I put my hopes up for a new sprout

Give love, give me some love
Give love, there’s not enough love
I give the love that grows every day to her but she doesn’t accept
Give love, give me some love
Give love, there’s not enough love
I give the love that grows every day to her but she doesn’t accept

Give Love
Give Love


Infinite - The Last Romeo Lyrics


dokbaera haedo gwaenchanha gikkeoi naega badeuri
eotteon yuhokdo neobodan dalkomhago gangnyeolhaji motae
sesang eodumeun nunbusin niga modu samkigo nal geu biche nun meolge hae
eotteon eodumdo ni apeseon geu himeul irchanha nan neoman isseumyeon dwae
 
gireul barkhyeojwo ije wonteun maldeun seontaegeun kkeutnasseo naui jeonbureul da geolgesseo
jikyeo nael geoya eotteon eoryeoun yeojeongi doenda haedo
nan neo bakken an boinda
 
teureojin teuri naeneun eumak bigeuk sangmakhame nal mireobutyeo
ppigeogineun sarangui seomak I’m Gonna Lose Myself
That Was Sweet Start
meomchul jul molla kkeut dadareun nae gamjeongmani olla
hwaksini doen chakgak neowa nan Got The Top Of The Emotion
 
kkochi sideureo nalligo dareun giureo sarajyeo gado
byeonhaji anheul nae maeum saranghanda saranghanda
 
neoui ipsuri joe manheun nae ipsureul gamssago nal hyanggie chwihage hae
eotteon bosangdo iboda ganghal suneun eobtjanha nan neoman isseumyeon dwae
 
gireul barkhyeojwo ije wonteun maldeun seontaegeun kkeutnasseo naui jeonbureul da geolgesseo
jikyeo nael geoya eotteon eoryeoun yeojeongi doenda haedo
 
sesanga bogeora igige haedao taeyanga tteugeora naege himeul dao
unmyeonga deutgeora gireul makji mao geunyeoreul kkok jikilge
 
sarang hanae sesanggwa gyeoruryeoneun majimak geu namjaga dwaejugesseo
eotteon wihyeopdo neol wihaeseon matseol su itjanha nan neoman isseumyeon dwae
 
gireul barkhyeojwo ije wonteun maldeun seontaegeun kkeutnasseo naui jeonbureul da geolgesseo
jikyeo nael geoya eotteon eoryeoun yeojeongi doenda haedo
nan neo bakken an boinda
neo bakken an boinda
neo bakken an boinda
 
neon machi mirogachi bokjaphae wae jakkuman mireonae nal mideo neoui Romeo
naegen neo bakken eopda
 
Source : KPOP Lyrics
 

 

Girls Generation - Mr Mr Lyrics + Translate English




Let’s go!
Mwol geokjeonghaneunde neon, dwaetgo
mwoga tto duryeounde?
Jaego tto jaeda neujeobeoryeo
Oh oh ooh woh oh oh ooh woh

Maeil haruga dareuge buranhaejyeo ga

Apseo ga jugil barae geu nugungaga
Neon moreun cheok nuneul gamneun
You bad bad bad boy, you so bad (bad bad bad)

Deo dangdanghage neon Mr. Mr. (Yuri nal bwa)
Mr. Mr. (Yuri geurae baro neo neo neo)
Nal gaseum ttwige han Mr. Mr. (choegoui namja)
Mr. Mr. (geuge baro neo)

Sangcheoro kkaejin yurijogakdo
Byeori doeneun neo Mr. Mr. Mr. Mr.
Nareul bitnaejul seontaek badeun ja!
Geuge baro neo Mr. Mr.

Wae neon ajikdo mitji motae?
Jinjja!Bimireul allyeojulge
Neon wae teukbyeolhan Mr.Inji
Oh oh ooh woh oh oh ooh woh

Mirael yeoneun yeolsoe baro niga gajin geol
Sonyeonboda deo keun kkumeul kkeureoana
Bitnan nun sok nal damgoseo
My mi, mi, mister, rock this world

[All] Deo dangdanghage neon Mr. Mr. ( nal bwa)
Mr. Mr. (geurae baro neo neo neo)
Nal gaseum ttwige han Mr. Mr. ( choegoui namja)
Mr. Mr. (geuge baro neo)
Sangcheoro kkaejin yurijogakdo
Byeori doeneun neo Mr. Mr. Mr. Mr.
Nareul bitnaejul,  seontaek badeun ja!
Geuge baro neo Mr. Mr.

(1. 2. 3. 4)
(Hey Hey Hey)
(Mr. Mr. Mr. Mr.)
(Hey Hey Hey)
Wooh!

( Jigeum sesang ane) [Jessica] oh, ne ape
( Nuguboda meonjeo) neol deonjyeo
( Deo chiyeolhage) deo chiyeolhage (Mr. Mr.) mister
(Ojik geudaemani)  irwonael
(Dan hana) naeil apui neo
(Geu ane sara gal neowa na) mister~ oh~

Deo dangdanghage neon Mr. Mr. (nal bwa)
Mr. Mr. ( geurae baro neo neo neo)
Nal gaseum ttwige han Mr. Mr. ( choegoui namja)
Mr. Mr. (geuge baro neo)

Sangcheoro kkaejin yurijogakdo
Byeori doeneun neo Mr. Mr. Mr. Mr.
Nareul bitnaejul choegoui namja!
Geuge baro neo Mr. Mr.

Translate English

 Let’s go!
What are you worried about,
What are you afraid of?
If you keep measuring things out, it’ll be too late
Oh oh ooh woh oh oh ooh woh

 Every day brings a different kind of nervousness
I want someone to take the lead
But you ignore it and close your eyes
You bad bad bad boy, you so bad

 Be stronger Mr. Mr. (look at me)
Mr. Mr. (yes you, you, you)
You made my heart race Mr. Mr. (the best man)
Mr. Mr. (that’s you)
You make broken glass from scars turn into stars Mr. Mr. Mr. Mr.
The chosen one to make me shine
That is you Mr. Mr.

 Why can’t you believe it yet? I’ll tell you the real secret
Of why you are a special Mr.
Oh oh ooh woh oh oh ooh woh

 You have the key to open the future
So have a dream that is bigger than a little boy’s
Place me in your shining eyes
My Mi, Mi, Mister, Rock this world

 Be stronger Mr. Mr. (look at me)
Mr. Mr. (yes you, you, you)
You made my heart race Mr. Mr. (the best man)
Mr. Mr. (that’s you)
You make broken glass from scars turn into stars Mr. Mr. Mr. Mr.
The chosen one to make me shine
That is you Mr. Mr.


(1. 2. 3. 4)
(Hey Hey Hey)
(Mr. Mr. Mr. Mr.)
(Hey Hey Hey)
Wooh!

(In this world) in front of you
(Before anyone else) throw yourself
(More intensely) more intensely (Mr. Mr.) Mister
(Only you) can fulfill
(Just one thing) for the tomorrow
(That you and I will live inside) Mister~ oh~
 
Be stronger Mr. Mr. (look at me)
Mr. Mr. (yes you, you, you)
You made my heart race Mr. Mr. (the best man)
Mr. Mr. (that’s you)
You make broken glass from scars turn into stars Mr. Mr. Mr. Mr.
The chosen one to make me shine
That is you Mr. Mr.



Sabtu, 31 Mei 2014

Segeraaaa !!! Cerbung baruuu !!! xD

okee okeee, akhirnya novel aku yang berjudul "Be With You, My Skyscraper" udah selesaaaai ! Senangnyaa dan juga udah ku upload ke Nulisbuku.com dan Bulan-narasi.com hohoho tinggal tunggu pengumumannya niih :3

Naaah, gara2 nyelesain novel tersebut, hari-hari aku jadi hampa tanpa menulis haha jadii, mungkin sudah saatnya aku menulis cerbung baruu di blooog ini dan judulnyaaaa....
Eng Ing Eng !!! Tadaaaaaaa !!!


Cerbung baruku ini menceritakan seorang gadis bernama Susan yang duduk sebangku dengan seorang laki-laki bernama Leo, yang berkebangsaan Italia dan sangat misterius. Yaa, cerbung ini tidak hanya menceritakan tentang cinta, tapi juga menceritakan tentang pentingnya persahabatan dan keluarga, serta pencarian jati diri. Begitu pula dengan rahasia keluarga masing2 yang justru harus mengorbankan pertemanan mereka. Mengapa ku beri judul Tawanan 6H2C70C ? Ya, cerbung ini juga bercerita tentang penawanan sekolah SMA Merah Putih *jika kalian pernah membaca novel Lupus karya Hilman & Boim pasti tahu* Aku memang suka bangeeet dengan kisah lupus, makanya aku juga mengambil setting di SMA Merah putih hohohoho...

Susan yang tidak sengaja menjadi saksi sebuah perampokan dan pembunuhan sadis di rumah samping sekolahnya menjadikan seisi kelasnya, kelas Glen dan sekelompok ekskul cheerleader ditawan oleh kawanan perampok. Dengan bantuan Leo, Lena dan Tom serta Pak Rama, mereka pun bahu-membahu menyelamatkan sekolah mereka dari para perampok kejam tersebut. Mampukah mereka menyelamatkan sekolah mereka ? Mampukah mereka semua bekerjasama untuk melawan perampok tersebut ? Siapakah Pak Rama, guru baru mereka sebenarnya ? Apa yang membuat Leo begitu diincar oleh para pembunuh bayaran ? Apakah rahasia di antara Susan dan Leo akan terungkap ? Tunggu cerbungnyaa yaaa !
Segeraaaa !!! xD

Jumat, 30 Mei 2014

(OST Doctor Stranger) Bobby Kim - Stranger lyrics


Romanization

Nowanan modu weroun inseng
Geugon urisaraganeun sukmyong
Sarangeun swipge kkejigo
Sigando swipge heureugo
 
Yongwonhan dajimeun opneun-goya
Uri barabomyo soksagidon maldeuldo
Haneureul dopneun monjiwado gatci busojyo
Urin otgallyotji like strangers
 
Jukdorok noreul machige noreul
Saranghe saranghe yongwonhadorok
Nohji an-gesso nolchajeul goya
I’m just a stranger without you my love~ 
Yongwonhan dajimeun opneun-goya
Uri barabomyo soksagindon maldeuldo
Haneureul dopneun monjiwado gatci busojyo
Urin otgallyotji like strangers
Jukdorok noreul machige noreul
Saranghe saranghe yongwonhadorok
Noji an-gesso nolchajeul goya
I’m just a stranger without you my love~ 
Noopneun nan~

English

You and I both have lonely lives
That is the life we have to live
Love easily breaks, time easily flows
There’s no such thing as an eternal promise
Even the words we whispered as we looked at each other
They scatter like the dust that covers the sky
We went awry like strangers
I love you to death, I love you like crazy
Forever
I won’t let you go, I will find you
I’m just the stranger without you, my love
There’s no such thing as an eternal promise
Even the words we whispered as we looked at each other
They scatter like the dust that covers the sky
We went awry like strangers
I love you to death, I love you like crazy
Forever
I won’t let you go, I will find you
I’m just the stranger without you, my love
I love you to death, I love you like crazy
Forever
I won’t let you go, I will find you
I’m just the stranger without you, my love
 
Source : Korean44

Senin, 26 Mei 2014

Reply 1997's Quote

Oke, hari ini aku akan membagi quote-quote dama korea Reply 1997 dulu yaa xD Soalna aku sukaa bangeeet sama itu draama haha Check this Out !

When you like someone, you have eyes for her in the sides and the back of your head. And that if you don’t knock, there will be no answer. Standing in place will not get you what you want. There’s no such thing as fair play anymore.” – Yoon-jae


“The easiest thing we can do for the person we love is to throw ourselves away. The strength to do things that aren’t in our nature — that’s love.” — Yoon-jae

“Go Stop, a game where you have to match the same shapes to get points. There was a time when we struggled to be the same. But in one moment, we began to be different. That we were becoming different types of people — why was that so hard to acknowledge back then? People are all different; that’s the law of the universe, the law of human growth. Eighteen. We were maturing into different people, and having to accept those differences meant we were faced with yet another consequence of growing up.” – Yoon Jae

“Anyone’s secret tells a truth that I could not have known. And then when what I knew is no longer real… secrets have more power. How much of what I know is actually true?” – Shi Won

“A person’s heart has countless levels. Its depth cannot be known. Its limit can’t be known. You could fight to the death, and then exchange affection as if nothing ever happened. A red-blooded male could turn into an imbecile in front of the opposite sex. Yes, the truth is uncomfortable. But if we don’t embrace that discomfort, then we must live the rest of our lives believing what’s fake to be real. Even uncomfortable truths must be embraced. What you see is not everything.” – Shi Won

“Bumping into someone on the street, reaching for the same book at the library, or running under someone’s umbrella… I thought that falling in love would be special. I couldn’t imagine… that I’d fall because of something like this. Spring of 1996. My first love began that suddenly.” – Yoon Jae

“This life that might leap anywhere — there’s no use avoiding or ignoring it. There’s just facing it and getting beaten to a bloody pulp. But at times life can surprise us with gifts that make our hearts flutter. And if we endure sadness, we are rewarded with happiness.” – Yoon Jae

“You have to be content with a dream that’s close. If you chase after one that’s far away, your heart will hurt and your insides will burn. A futile passion only leaves heartache. That’s why life’s stupidest thing is a one-sided love. But the reason that stupid one-sided love is worth trying is… that passion can sometimes make miracles happen… sometimes go the long way around to help you fulfill a dream… and even if it doesn’t allow you to realize that dream, it allows you to linger near it and find happiness.” – Tae Woong

“They say that people are born with a red string that they can’t see, tied to their pinky fingers, and the end is tied to the one you’re fated to be with. But the thread is twisted this way and that, making it hard to find the other end.” – Yoon Jae

“People’s countless threads, all tangled together. But when I start to unravel it, I end up face to face with my fate, without even knowing it. If the red thread of fate really exists, then who is the one tied to my red thread?” – Yoon Jae

“The reason I like you? Because you’re that person. Because you’re you. Is there another reason besides that one? I’d rather know the reason if there was one. Then I could find a way to not like you. If I can’t avoid it, then there’s only one thing I want: to remain by your side, unchanged, for long time. Here’s to our love, that chills our hearts.” – Joon Hee

“Liking someone isn’t a choice. It comes from your heart.” – Joon Hee

“Why are you sorry? It’s not like you can choose who you like.” – Joon Hee

“Since the day of that accident, I lived having completely forgotten the fact that I was someone’s son. A relationship determined before I was born, a relationship that ends against my will – that’s family. And now I only have one family relationship left.” – Tae Woong

“There are relationships of differing levels of difficulty. To me, Yoon-jae was the easiest of them, to explain or to maintain: that of childhood playmates. But on this day, contrary to everything I knew, I discovered… that there might be the possibility that we’d be the most difficult kind of relationship in the world. The relationship with the highest level of difficulty: that of a man and a woman.” – Shi Won

“Each expecting different things, each looking at different places, each dreaming different dreams… everything that happens between one man and one woman, is just continuous love and war. You sulk, you pacify, you fight, you make up, you hurt, you embrace. A relationship like a manic-depressive patient who can’t make up his mind. But the hardest thing about the relationship between a man and a woman is the timing — if the love doesn’t begin at the same time, it’s unlikely to ever begin at all.” – Yoon Jae

“The one benefit to that top-degree-of-difficulty relationship between a man and a woman is… one word can overturn its mood at any time.” – Hak Chan

“What should I do? There are two people I love the most in the entire world. One is my hyung, who gave up everything because of me. And the other is you. It’s you… and hyung says he likes you. A lot. Like I do.” – Yoon Jae

“The reason my teen years are like a rushing wind is because I don’t yet know the answers: what it is I really want, who really loves me, who is it that I love. The time of life when I tumble here and there, searching for the answers. And then in the end, the moment when I figure out the answers to everything like a miracle… we had already become adults, and been doing big and small things. And like that, that winter was full of goodbyes.” – Shi Won

“My body remembered my ’90s. The moment I saw the person I had once been crazy about, I immediately returned to that ’90s fangirl, and my ’90s, which I thought were over, began all over again…” – Shi Won

“Oppa, I like you a lot… but my heart doesn’t race or flutter. I’m still young so I don’t know exactly how it feels to like somebody, but my heart now… is beating in a different direction. I’m sorry, oppa.” – Shi Won

“I’m not expecting anything right now. I’ll wait. Until you like me a lot… I’ll be your daddy long legs. Like now, always… next to you.” – Tae Woong

“I had forgotten. That if she liked something right now, she expressed the fire of that moment directly, and without hesitation. I could’ve just said: I like you. Be mine. I could say it like that right now. Back then, and even in this moment… I was just hesitating.” – Yoon Jae

“There is nothing more urgent than now. Because later might never come. Life isn’t long enough to speak of the next opportunity, rather than the now that’s before our eyes.” – Yoon Jae

“If you give up on now because of laziness or a lack of courage, there is no hope of another opportunity. If you love now, the best timing is now. You have to go before it’s too late, and you have to confess now. Because you never know what’ll happen later. The next opportunity might never come.” – Yoon Jae

“I’m sorry. You must’ve had a hard time too. But I only thought of myself. And I’m the only one you told everything to, because you thought of me as a friend. I don’t even know what I’m doing to you right now. I’m sorry.” – Shi Won

“She could have not known. There are times in life when you don’t know… that someone likes you.” – Joon Hee

“Then the game’s already over. No matter how much you think it over, there’s no answer. You already like her. So what choice is there? What decision to make? Don’t regret it later. Don’t use Hyung as an excuse. Do as your heart tells you.” – Joon Hee

“A person’s heart can’t be turned on and off like a switch. Once it’s turned on… it won’t turn off.” – Yoon Jae

“First love. The reason everyone’s first love is beautiful is not only because the love was pretty. At the time of first love, there was a youthfulness that didn’t know how to be wise, a me who was pure to the point of cruelty, and a you whose fire I couldn’t handle. It’s because I already know that I can never go back to that youthful, innocent, passionate time.” – Yoon Jae

“First love is reckless. Without calculating, it throws everything in with pure passion, and inevitably fails. But that’s why it’s dramatic — the reckless tales wrapped up in experiences or feelings that you can never have again.” – Yoon Jae

“First love is a time. Once it passes, it’s gone. Now you have to give a new love and a new time a chance. It might not be the experience or the purity of first love, but out of that scar is a love that grows and becomes a little more mature — you have to wait for an adult love. Only those who wait can dream of love.” – Yoon Jae

“When romance passes, life comes. Purity gets dirtied, passion freezes over, and youth turns to shrewdness as you age. That innocent era’s first love becomes fatigued and exhausted daily routine… and is why first love appears to be something that can’t be realized. Because those who succeed at realizing their first love… don’t tell you.” – Yoon Jae

“Succeeding at first love is nice too. There’s comfort that’s even better than your favorite sweater, but also an excitement that you can find when you’re tired of that comfort. As childhood playmates, as first loves, as lovers, and as husband and wife, we live through the same times, share the same memories, and grow old together. A familiar excitement. It’s nice.” – Yoon Jae

“If Tony and I both fell into the water, who whould you save first?” – Yoon Jae








 


Selasa, 29 April 2014

vakum duluu yaa xD

haloo temaan-temaaaan !
rasanya udah lama banget ga nulis di sini hihihihii
kayaknya selama bulan mei ga bisa update tulisan dulu di sini yaa, apalagi kalian yang suka baca dan penasaran dengan cerbung aku "Be With You, My Skyscraper" hehe
aku ga bakal ngelanjutin cerbungnya soalnyaa... *jeng jeeng !
cerbung itu bakal aku lanjutin ke bentuk novel, naaaah cerbungnya itu bakal aku selesain ceritanya dan ikutin #LombaNarasi so...
mohon doanyaa, moga aku bisa nyelesain ceritanya dalam 1 bulan, makasih semuanyaa !
lovee youu muaah muaah <3 <3 <3

semangaaaat ! semangaaaaat !!! xD


Kamis, 03 April 2014

kakak baru dari Cisadane



“Pokoknya aku tidak mau makan semeja dengan orang miskin seperti dia,ma !!!” bentak Karel.
“Karel ! Dia kakakmu bukan orang miskin !” tegur mama sambil memandang ke arah Maru yang tertunduk sedih.
“Pokoknya Karel tidak mau tahu,Karel tidak mau makan semeja dengan orang itu ! Dia bukan kakak Karel ! Karel makan di kamar aja deh..” kata Karel ketus.
“Ma...biar aku yang makan di tempat lain. Permisi...” kataku sambil pergi membawa piring dan segelas air putih ke halaman belakang. Aku masih mendengar mama memarahi Karel. Dia sebenarnya tidak salah. Aku berasal dari keluarga yang tinggal di bawah kolong jembatan Cisadane. Mereka mengangkatku karena aku pandai. Akan tetapi Karel tdak mau menerimaku sebagai kakak angkatnya. Ini sungguh menyakitkan.
Buuk ! “Aduuh,” kataku meringis. Aku melihat Karel yang berlari-lari naik ke mobil. Aku pun menyusulnya naik ke mobil. Di tengah perjalanan ke sekolah,tiba-tiba mobil berhenti. Pintu mobil pun terbuka. Tanpa sempat mengelak,Karel mendorongku ke jalanan. Aku terkejut.
“Aku tidak mau satu mobil denganmu,jadi kau ke sekolah jalan kaki saja ya ! Orang sepertimu tidak pantas menaiki mobil mewah seperti ini. Daah !” katanya sambil melambaikan tangannya padaku. Mobil itupun melaju. Meninggalkanku sendirian di tengah jalan.

“Apa salahku ? Apa aku memang tidak pantas tinggal bersama keluarga ini ? Mengapa Karel begitu membenciku...” batinku. Aku satu sekolah dengan Karel. Dia kelas 1 SMP sedangkan aku kelas 3 SMP di SMPN 1 Bogor. Saat tiba disana,aku bingung dengan semua orang. Mereka berbisik-bisik sambil memandang ke arahku seolah-olah aku adalah seorang teroris yang sedang diburu Densus 88.
“Hei lihaat !!! Itu dia orang yang ku maksud ! Dia orang miskin yang ingin memeras kekayaan orangtuaku dengan membujuk orangtuaku menjadi orangtua asuhnya. Kasihan sekali yaa,dia orang yang jahat. Berhati-hatilah teman-teman,” kata Karel lantang.
Aku memilih diam dan terus berjalan ke kelasku. Mungkin ini Ujian dari Tuhan untukku.  Aku menyabari diriku sendiri dan pura-pura membaca buku hingga menutupi wajahku.
Baru saja aku ingin memakan bekalku. Tiba-tiba ada seseorang yang melempar bola ke arahku. Kotak makananku pun jatuh. Aku menghela napas dan menatap lurus ke depan. “Karel...”
“Kenapa ??? Mau marah ???” tanya dia lantang.
“Tidak,ini bolanya...” kataku sambil menyodorkan bola itu ke arahnya. Bukannya menyambut,dia malah melempar bola itu ke tempat lain dan melap tangannya. Aku hanya bisa mengelus dada.
“Aku tidak sudi memegang bola bekas tanganmu,Maru... Nanti tanganku terkontaminasi,iya tidak teman-teman ???” katanya sambil diringi riuh teman-temannya. Daripada menanggapi mereka,aku pun pergi menjauh dari sana.


Di rumah,aku memandang kosong ke arah halaman belakang yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang cantik. Baru tinggal beberapa hari disini,aku sudah merasa tidak betah. Aku mengutuki sikapku sendiri yang mau-mau saja menerima tawaran mamanya Karel untuk menjadi anak angkatnya.
“Hei ! Sedang apa kau ???” tanya Karel yang mengagetkanku hingga bukuku terlempar.
“Karel ??? Ada apa ???” tanyaku pelan.
Dia duduk di sampingku dan ikut memandang ke arah halaman belakang. “Aku tidak ingin kau jadi kakakku. Kau orang miskin. Aku malu. Kau tidak pantas jadi kakakku. Dan jangan pernah berani berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak,mengerti ???”
“Memangnya kenapa ??? Apa kita tidak bisa bersaudara ???” tanyaku lagi. Seketika matanya melotot dan bangkit dari duduknya.
“Jangan mimpi !!!” katanya sambil membanting pintu di belakangku.
“Begitu yaa...” gumamku sambil tertunduk lemas.
Setiap hari,aku harus makan di dalam kamarku. Karel sama sekali tidak mau makan semeja denganku. Walaupun mama dan papa sudah memarahinya,dia tetap seperti itu. Ini semua salahku. Aku pun membereskan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam ransel. Diam-diam aku melangkah keluar.
“Maru ! Mau kemana kau malam-malam begini ???” tanya mama lembut. Aku pun menoleh ke belakang dengan gugup. Beliau pun menghampiriku. “Mau kemana,sayang ???”
“Aku mau pulang,ma...”
“Pulang kemana ??? Di sini kan rumahmu juga ???” kata mama sambil mengelus lembut rambutku. Aku mengepalkan tanganku,berusaha menahan tangis. Mama Karel sungguh terlalu baik padaku.
“Maru ingin pulang ke rumah Maru,Ma... Maru ingin kembali menjadi pemulung seperti dulu,Maru tidak kerasan disini,mohon mengertilah...” kataku sambil membungkukkan badanku.
 “Biarkan aku pergi,ma..”
“Tidaak ! Mama tidak mau ! Mama sudah terlanjur sayang dengan Maru. Mama sudah menganggap Maru sebagai anak mama sendiri,jangan tinggalkan mama ya ??? Mama mohon maaf dengan semua perlakuan kasar Karel. Mau ya ???” tawar mama lagi.
“Tapi...”
“Sudah,ayo kembali ke kamarmu ya ? Tinggallah disini,demi mama ya ? Mama mohon. Maru ingin ya melihat mama sedih ? Tidak,kan ???” kata mama sambil tersenyum. Aku pun menganggukkan kepalaku dan memeluk mama. Rasanya hatiku sangat tenang. Aku sangat bahagia mama menyayangiku.
Aku pun memasukkan baju-bajuku ke lemari. Wajahku berseri-seri. Sudah lama aku ingin merasakan bagaimana dipeluk oleh seorang ibu.
“Seharusnya kau meneruskan saja niatmu,kau harus pulang ke tempat asalmu. Itu jauh lebih baik untuk ketenanganku di rumah ini,” kata Karel ketus.
“Sejak kapan kau ada di depan pintu kamarku ???”


“Kamarmu ??? Jangan sombong,seandainya saja kau pergi dari rumah ini. aku akan menjadi orang pertama yang akan berterima kasih padamu. Lihat saja nanti...” katanya lagi sambil keluar dari kamarku. Aku menghela napas dan merebahkan diriku di kasur yang empuk itu.
“Maru sabarlah...sabarlah...kamu pasti bisa melewati semua ini. dia pasti mau menerimamu sebagai kakaknya....”
* * *
Beberapa hari kemudian,saat sepulang sekolah. Seperti biasa,aku pulang sambil berjalan kaki. Tiba-tiba aku melihat Karel di ujung jalan sana. Dia bersama teman-temannya sedang asyik bercanda ria di tepi jalan. Aku pun meneruskan perjalananku.
“Hei anak miskin ! Hati-hati yaa !” kata Karel lantang yang diikuti teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku menutup telingaku rapat-rapat dan terus melewati mereka. Baru beberapa langkah aku berjalan,terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu. Aku pun menoleh ke belakang dan terkejut.
“Karel !!!” teriakku sambil menghampiri Karel yang bersimbah darah dan terkapar di jalanan. Aku merogoh sakuku. Kosong. Aku yang panik pun meminta bantuan kepada orang-orang untuk menaikkan Karel ke punggungku. Aku pun berlari kencang menuju rumah sakit sambil menggendong Karel.
“Kau...” kata Karel lirih.
“Tenang saja,aku akan menolongmu,oke ? Bersabarlah sedikit...” kataku sambil tersenyum kepadanya.

‘Kenapa ? Kenapa ?  Kenapa kau menolongku ? Kau-bisa-sajakan meninggalkanku... terkapar... di jalanan...hingga kehabisan...darah ???” katanya terbata-bata.
“Kau kan adikku...” kataku lantang dan terus berlari. Karena kehabisan darah,dia pun pingsan. Aku menarik napas dan menghembuskannya.
“Ya Tuhan,selamatkan adikku...”
Setiba di rumah sakit,Karel langsung dibawa ke ruang UGD. Aku pun menunggunya dengan was-was. Mama dan Ayah juga sudah datang ke rumah sakit. Tiba-tiba Dokter keluar dan menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan anak saya,Dok ??? Baik-baik saja,kan ???” tanya mama panik.
“Dia kehabisan banyak darah. Dan kebetulan stok darah AB rhesus negatif sedang tidak ada. Apa ada diantara kalian yang memiliki golongan darah sama dengannya ???”
“Darah saya dan istri saya berbeda. Bagaimana ini ???” kata Ayah bingung.
“Bagaimana dengan darah saya,Dok ???” kataku.
“Berapa umurmu,nak ???” tanya Dokter itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
“15 tahun,pak...”
“Tidak bisa,kamu terlalu muda,nak...” kata Dokter itu. Aku pun segera berlutut di hadapan pak Dokter itu dan menangis.

“Dokter,saya mohon...biarkan saya mendonorkan darah saya...saya akan tanggung resikonya walaupun nyawa saya sebagai imbalannya. Tolong selamatkan adik saya,Dok... saya mohon...”
“Baiklah,ikuti saya,” kata Dokter itu. Aku pun mengikuti beliau dan ternyata darah kami sama. Ini sungguh ajaib !
* * *
“Bagaimana keadaan Karel,ma ???” tanyaku.
“Dia belum siuman tetapi kondisinya mulai stabil kok,”
“Ma,setelah memikirkannya berhari-hari. Maru ingin pergi dan pulang ke rumah Maru di kolong jembatan itu,” kataku hati-hati.
“Lhoo ??? Kenapa lagi,Maru ???”
“Maru tinggal disini hanya nyusahin mama dan ayah. Dan Karel tidak pernah menyukai keberadaan Maru. Dulu,Maru ingin sekali punya adik dan dipanggil dengan sebutan kakak. Tapi sejak kejadian ini Maru sadar. Maru tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang melimpah ini dari mama dan ayah. Tolong kali ini mengertilah keputusan Maru,Ma...” kataku sambil menunduk.
“Tapi,Maru...”
“Terima kasih karena Mama telah menyayangiku. Dan membuatku seperti anak-anak yang lain serta diperlakukan dengan baik disini. Maru tidak akan sanggup membayar semua kebaikan mama.”
“Maru,jangan begini terhadap mama...” kata mama sambil menangis.
“Maru ! Ada apa ini ??? Kenapa kau membawa ranselmu ???” kata Ayah tiba-tiba.

“Maru ingin pergi,Ayah....” kata mama sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku,Ma ? Yah ? Maru pergi dulu...” kataku sambil melangkahkan kakiku keluar rumah. Ini memang sungguh pemandangan yang menyakitkan bagiku. Tapi ini demi kebaikan semua orang. Sebelum pergi,aku menjenguk Karel di rumah sakit. dia masih belum siuman.
“Karel,kakak pergi dulu ya ? Sesuai permintaan kamu,kakak Maru akan pergi jauuh dari kehidupan Karel. Tenang, kehidupan Karel akan kembali seperti sedia kala lagi kok. Jaga kesehatanmu,jangan sampai sakit dan membuat mama dan ayah khawatir lagi ya ??? Daah Karel...” kataku dan keluar dari ruangan sambil menahan tangis.
Tiba-tiba mata Karel terbuka. Tanpa pikir panjang lagi,dia pun melepas semua infus  di badannya dan bergegas lari keluar rumah sakit. Dia menoleh kesana kemari tapi nihil. Orang yang dicarinya tidak ada di manapun.
“Ini semua salahku...salahku....” katanya sambil menangis.
Dan akhirnya matanya tertuju pada sebuah halte tak jauh dari sana. Dia melihat orang yang dicari-carinya sedang duduk membelakanginya. Dia bernapas lega.
“KAKAAAAK !!! KAK MARUUU !!! JANGAAAN PERGIIII !!!” teriaknya keras.
Spontan aku menoleh. Aku melihat Karel dengan baju pasiennya berteriak ke arahku dn memanggilku “kakak”. Aku mengucek-ngucek mataku. Aku tidak berani bermimpi setinggi ini. Sungguh. Dia pun berlari menghampiriku dan memelukku sambil menangis.


“Kak Maru,maafkan Karel yaa. Karel sudah jahat sekali dengan kakak. Karel selalu menyusahkan kakak. Karel....” katanya sesenggukan.
“Sudahlah,aku sudah memaafkanmu. Jangan cengeng seperti itulah,” kataku sambil tertawa dan mengacak-ngacak rambutnya. “Dan yang lebih membuat aku senang,kamu sudah baikan.”
“Kakak jangan pergi ! Ku mohooooon,mulai hari ini aku akan jadi adik yang baik untuk Kak Maru,mau ya ? mau ya ???” kata Karel dengan tatapan memelas. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan terharu. Setelah itu,dia pun melompat-lompat kegirangan.
Beberapa hari setelah kejadian itu,kami siap-siap sarapan seperti biasa untuk ke sekolah. Seperti biasa,aku pun ingin membawa nampanku ke halaman belakang lagi.
“Kak Maru,aku mau kok makan semeja dengan kakak,” katanya sambil tersenyum.
“Serius niih ???” kataku tak percaya.
“Tentu saja,aku kan adik kaka...” katanya sambil tersenyum lagi.
“Waah,baiklah kalau seperti itu...” kataku dan duduk di sampingnya sambil memakan sarapanku. Mama dan Ayah tersenyum melihat kami sudah rukun kembali. Aku juga senang bisa diterima sepenuhnya di keluarga ini. Terima Kasih,Tuhan. Terima kasih telah mempertemukanku dengan keluarga ini. Terima kasih untuk semuanya. :)

                                          selesai