Kamis, 03 April 2014

kakak baru dari Cisadane



“Pokoknya aku tidak mau makan semeja dengan orang miskin seperti dia,ma !!!” bentak Karel.
“Karel ! Dia kakakmu bukan orang miskin !” tegur mama sambil memandang ke arah Maru yang tertunduk sedih.
“Pokoknya Karel tidak mau tahu,Karel tidak mau makan semeja dengan orang itu ! Dia bukan kakak Karel ! Karel makan di kamar aja deh..” kata Karel ketus.
“Ma...biar aku yang makan di tempat lain. Permisi...” kataku sambil pergi membawa piring dan segelas air putih ke halaman belakang. Aku masih mendengar mama memarahi Karel. Dia sebenarnya tidak salah. Aku berasal dari keluarga yang tinggal di bawah kolong jembatan Cisadane. Mereka mengangkatku karena aku pandai. Akan tetapi Karel tdak mau menerimaku sebagai kakak angkatnya. Ini sungguh menyakitkan.
Buuk ! “Aduuh,” kataku meringis. Aku melihat Karel yang berlari-lari naik ke mobil. Aku pun menyusulnya naik ke mobil. Di tengah perjalanan ke sekolah,tiba-tiba mobil berhenti. Pintu mobil pun terbuka. Tanpa sempat mengelak,Karel mendorongku ke jalanan. Aku terkejut.
“Aku tidak mau satu mobil denganmu,jadi kau ke sekolah jalan kaki saja ya ! Orang sepertimu tidak pantas menaiki mobil mewah seperti ini. Daah !” katanya sambil melambaikan tangannya padaku. Mobil itupun melaju. Meninggalkanku sendirian di tengah jalan.

“Apa salahku ? Apa aku memang tidak pantas tinggal bersama keluarga ini ? Mengapa Karel begitu membenciku...” batinku. Aku satu sekolah dengan Karel. Dia kelas 1 SMP sedangkan aku kelas 3 SMP di SMPN 1 Bogor. Saat tiba disana,aku bingung dengan semua orang. Mereka berbisik-bisik sambil memandang ke arahku seolah-olah aku adalah seorang teroris yang sedang diburu Densus 88.
“Hei lihaat !!! Itu dia orang yang ku maksud ! Dia orang miskin yang ingin memeras kekayaan orangtuaku dengan membujuk orangtuaku menjadi orangtua asuhnya. Kasihan sekali yaa,dia orang yang jahat. Berhati-hatilah teman-teman,” kata Karel lantang.
Aku memilih diam dan terus berjalan ke kelasku. Mungkin ini Ujian dari Tuhan untukku.  Aku menyabari diriku sendiri dan pura-pura membaca buku hingga menutupi wajahku.
Baru saja aku ingin memakan bekalku. Tiba-tiba ada seseorang yang melempar bola ke arahku. Kotak makananku pun jatuh. Aku menghela napas dan menatap lurus ke depan. “Karel...”
“Kenapa ??? Mau marah ???” tanya dia lantang.
“Tidak,ini bolanya...” kataku sambil menyodorkan bola itu ke arahnya. Bukannya menyambut,dia malah melempar bola itu ke tempat lain dan melap tangannya. Aku hanya bisa mengelus dada.
“Aku tidak sudi memegang bola bekas tanganmu,Maru... Nanti tanganku terkontaminasi,iya tidak teman-teman ???” katanya sambil diringi riuh teman-temannya. Daripada menanggapi mereka,aku pun pergi menjauh dari sana.


Di rumah,aku memandang kosong ke arah halaman belakang yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang cantik. Baru tinggal beberapa hari disini,aku sudah merasa tidak betah. Aku mengutuki sikapku sendiri yang mau-mau saja menerima tawaran mamanya Karel untuk menjadi anak angkatnya.
“Hei ! Sedang apa kau ???” tanya Karel yang mengagetkanku hingga bukuku terlempar.
“Karel ??? Ada apa ???” tanyaku pelan.
Dia duduk di sampingku dan ikut memandang ke arah halaman belakang. “Aku tidak ingin kau jadi kakakku. Kau orang miskin. Aku malu. Kau tidak pantas jadi kakakku. Dan jangan pernah berani berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak,mengerti ???”
“Memangnya kenapa ??? Apa kita tidak bisa bersaudara ???” tanyaku lagi. Seketika matanya melotot dan bangkit dari duduknya.
“Jangan mimpi !!!” katanya sambil membanting pintu di belakangku.
“Begitu yaa...” gumamku sambil tertunduk lemas.
Setiap hari,aku harus makan di dalam kamarku. Karel sama sekali tidak mau makan semeja denganku. Walaupun mama dan papa sudah memarahinya,dia tetap seperti itu. Ini semua salahku. Aku pun membereskan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam ransel. Diam-diam aku melangkah keluar.
“Maru ! Mau kemana kau malam-malam begini ???” tanya mama lembut. Aku pun menoleh ke belakang dengan gugup. Beliau pun menghampiriku. “Mau kemana,sayang ???”
“Aku mau pulang,ma...”
“Pulang kemana ??? Di sini kan rumahmu juga ???” kata mama sambil mengelus lembut rambutku. Aku mengepalkan tanganku,berusaha menahan tangis. Mama Karel sungguh terlalu baik padaku.
“Maru ingin pulang ke rumah Maru,Ma... Maru ingin kembali menjadi pemulung seperti dulu,Maru tidak kerasan disini,mohon mengertilah...” kataku sambil membungkukkan badanku.
 “Biarkan aku pergi,ma..”
“Tidaak ! Mama tidak mau ! Mama sudah terlanjur sayang dengan Maru. Mama sudah menganggap Maru sebagai anak mama sendiri,jangan tinggalkan mama ya ??? Mama mohon maaf dengan semua perlakuan kasar Karel. Mau ya ???” tawar mama lagi.
“Tapi...”
“Sudah,ayo kembali ke kamarmu ya ? Tinggallah disini,demi mama ya ? Mama mohon. Maru ingin ya melihat mama sedih ? Tidak,kan ???” kata mama sambil tersenyum. Aku pun menganggukkan kepalaku dan memeluk mama. Rasanya hatiku sangat tenang. Aku sangat bahagia mama menyayangiku.
Aku pun memasukkan baju-bajuku ke lemari. Wajahku berseri-seri. Sudah lama aku ingin merasakan bagaimana dipeluk oleh seorang ibu.
“Seharusnya kau meneruskan saja niatmu,kau harus pulang ke tempat asalmu. Itu jauh lebih baik untuk ketenanganku di rumah ini,” kata Karel ketus.
“Sejak kapan kau ada di depan pintu kamarku ???”


“Kamarmu ??? Jangan sombong,seandainya saja kau pergi dari rumah ini. aku akan menjadi orang pertama yang akan berterima kasih padamu. Lihat saja nanti...” katanya lagi sambil keluar dari kamarku. Aku menghela napas dan merebahkan diriku di kasur yang empuk itu.
“Maru sabarlah...sabarlah...kamu pasti bisa melewati semua ini. dia pasti mau menerimamu sebagai kakaknya....”
* * *
Beberapa hari kemudian,saat sepulang sekolah. Seperti biasa,aku pulang sambil berjalan kaki. Tiba-tiba aku melihat Karel di ujung jalan sana. Dia bersama teman-temannya sedang asyik bercanda ria di tepi jalan. Aku pun meneruskan perjalananku.
“Hei anak miskin ! Hati-hati yaa !” kata Karel lantang yang diikuti teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku menutup telingaku rapat-rapat dan terus melewati mereka. Baru beberapa langkah aku berjalan,terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu. Aku pun menoleh ke belakang dan terkejut.
“Karel !!!” teriakku sambil menghampiri Karel yang bersimbah darah dan terkapar di jalanan. Aku merogoh sakuku. Kosong. Aku yang panik pun meminta bantuan kepada orang-orang untuk menaikkan Karel ke punggungku. Aku pun berlari kencang menuju rumah sakit sambil menggendong Karel.
“Kau...” kata Karel lirih.
“Tenang saja,aku akan menolongmu,oke ? Bersabarlah sedikit...” kataku sambil tersenyum kepadanya.

‘Kenapa ? Kenapa ?  Kenapa kau menolongku ? Kau-bisa-sajakan meninggalkanku... terkapar... di jalanan...hingga kehabisan...darah ???” katanya terbata-bata.
“Kau kan adikku...” kataku lantang dan terus berlari. Karena kehabisan darah,dia pun pingsan. Aku menarik napas dan menghembuskannya.
“Ya Tuhan,selamatkan adikku...”
Setiba di rumah sakit,Karel langsung dibawa ke ruang UGD. Aku pun menunggunya dengan was-was. Mama dan Ayah juga sudah datang ke rumah sakit. Tiba-tiba Dokter keluar dan menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan anak saya,Dok ??? Baik-baik saja,kan ???” tanya mama panik.
“Dia kehabisan banyak darah. Dan kebetulan stok darah AB rhesus negatif sedang tidak ada. Apa ada diantara kalian yang memiliki golongan darah sama dengannya ???”
“Darah saya dan istri saya berbeda. Bagaimana ini ???” kata Ayah bingung.
“Bagaimana dengan darah saya,Dok ???” kataku.
“Berapa umurmu,nak ???” tanya Dokter itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
“15 tahun,pak...”
“Tidak bisa,kamu terlalu muda,nak...” kata Dokter itu. Aku pun segera berlutut di hadapan pak Dokter itu dan menangis.

“Dokter,saya mohon...biarkan saya mendonorkan darah saya...saya akan tanggung resikonya walaupun nyawa saya sebagai imbalannya. Tolong selamatkan adik saya,Dok... saya mohon...”
“Baiklah,ikuti saya,” kata Dokter itu. Aku pun mengikuti beliau dan ternyata darah kami sama. Ini sungguh ajaib !
* * *
“Bagaimana keadaan Karel,ma ???” tanyaku.
“Dia belum siuman tetapi kondisinya mulai stabil kok,”
“Ma,setelah memikirkannya berhari-hari. Maru ingin pergi dan pulang ke rumah Maru di kolong jembatan itu,” kataku hati-hati.
“Lhoo ??? Kenapa lagi,Maru ???”
“Maru tinggal disini hanya nyusahin mama dan ayah. Dan Karel tidak pernah menyukai keberadaan Maru. Dulu,Maru ingin sekali punya adik dan dipanggil dengan sebutan kakak. Tapi sejak kejadian ini Maru sadar. Maru tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang melimpah ini dari mama dan ayah. Tolong kali ini mengertilah keputusan Maru,Ma...” kataku sambil menunduk.
“Tapi,Maru...”
“Terima kasih karena Mama telah menyayangiku. Dan membuatku seperti anak-anak yang lain serta diperlakukan dengan baik disini. Maru tidak akan sanggup membayar semua kebaikan mama.”
“Maru,jangan begini terhadap mama...” kata mama sambil menangis.
“Maru ! Ada apa ini ??? Kenapa kau membawa ranselmu ???” kata Ayah tiba-tiba.

“Maru ingin pergi,Ayah....” kata mama sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku,Ma ? Yah ? Maru pergi dulu...” kataku sambil melangkahkan kakiku keluar rumah. Ini memang sungguh pemandangan yang menyakitkan bagiku. Tapi ini demi kebaikan semua orang. Sebelum pergi,aku menjenguk Karel di rumah sakit. dia masih belum siuman.
“Karel,kakak pergi dulu ya ? Sesuai permintaan kamu,kakak Maru akan pergi jauuh dari kehidupan Karel. Tenang, kehidupan Karel akan kembali seperti sedia kala lagi kok. Jaga kesehatanmu,jangan sampai sakit dan membuat mama dan ayah khawatir lagi ya ??? Daah Karel...” kataku dan keluar dari ruangan sambil menahan tangis.
Tiba-tiba mata Karel terbuka. Tanpa pikir panjang lagi,dia pun melepas semua infus  di badannya dan bergegas lari keluar rumah sakit. Dia menoleh kesana kemari tapi nihil. Orang yang dicarinya tidak ada di manapun.
“Ini semua salahku...salahku....” katanya sambil menangis.
Dan akhirnya matanya tertuju pada sebuah halte tak jauh dari sana. Dia melihat orang yang dicari-carinya sedang duduk membelakanginya. Dia bernapas lega.
“KAKAAAAK !!! KAK MARUUU !!! JANGAAAN PERGIIII !!!” teriaknya keras.
Spontan aku menoleh. Aku melihat Karel dengan baju pasiennya berteriak ke arahku dn memanggilku “kakak”. Aku mengucek-ngucek mataku. Aku tidak berani bermimpi setinggi ini. Sungguh. Dia pun berlari menghampiriku dan memelukku sambil menangis.


“Kak Maru,maafkan Karel yaa. Karel sudah jahat sekali dengan kakak. Karel selalu menyusahkan kakak. Karel....” katanya sesenggukan.
“Sudahlah,aku sudah memaafkanmu. Jangan cengeng seperti itulah,” kataku sambil tertawa dan mengacak-ngacak rambutnya. “Dan yang lebih membuat aku senang,kamu sudah baikan.”
“Kakak jangan pergi ! Ku mohooooon,mulai hari ini aku akan jadi adik yang baik untuk Kak Maru,mau ya ? mau ya ???” kata Karel dengan tatapan memelas. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan terharu. Setelah itu,dia pun melompat-lompat kegirangan.
Beberapa hari setelah kejadian itu,kami siap-siap sarapan seperti biasa untuk ke sekolah. Seperti biasa,aku pun ingin membawa nampanku ke halaman belakang lagi.
“Kak Maru,aku mau kok makan semeja dengan kakak,” katanya sambil tersenyum.
“Serius niih ???” kataku tak percaya.
“Tentu saja,aku kan adik kaka...” katanya sambil tersenyum lagi.
“Waah,baiklah kalau seperti itu...” kataku dan duduk di sampingnya sambil memakan sarapanku. Mama dan Ayah tersenyum melihat kami sudah rukun kembali. Aku juga senang bisa diterima sepenuhnya di keluarga ini. Terima Kasih,Tuhan. Terima kasih telah mempertemukanku dengan keluarga ini. Terima kasih untuk semuanya. :)

                                          selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar