“Pokoknya aku tidak mau makan semeja
dengan orang miskin seperti dia,ma !!!” bentak Karel.
“Karel ! Dia kakakmu bukan orang miskin
!” tegur mama sambil memandang ke arah Maru yang tertunduk sedih.
“Pokoknya Karel tidak mau tahu,Karel
tidak mau makan semeja dengan orang itu ! Dia bukan kakak Karel ! Karel makan
di kamar aja deh..” kata Karel ketus.
“Ma...biar aku yang makan di tempat
lain. Permisi...” kataku sambil pergi membawa piring dan segelas air putih ke
halaman belakang. Aku masih mendengar mama memarahi Karel. Dia sebenarnya tidak
salah. Aku berasal dari keluarga yang tinggal di bawah kolong jembatan Cisadane. Mereka
mengangkatku karena aku pandai. Akan tetapi Karel tdak mau menerimaku sebagai
kakak angkatnya. Ini sungguh menyakitkan.
Buuk ! “Aduuh,” kataku meringis. Aku
melihat Karel yang berlari-lari naik ke mobil. Aku pun menyusulnya naik ke
mobil. Di tengah perjalanan ke sekolah,tiba-tiba mobil berhenti. Pintu mobil
pun terbuka. Tanpa sempat mengelak,Karel mendorongku ke jalanan. Aku terkejut.
“Aku tidak mau satu mobil denganmu,jadi
kau ke sekolah jalan kaki saja ya ! Orang sepertimu tidak pantas menaiki mobil
mewah seperti ini. Daah !” katanya sambil melambaikan tangannya padaku. Mobil
itupun melaju. Meninggalkanku sendirian di tengah jalan.
“Apa salahku ? Apa aku memang tidak
pantas tinggal bersama keluarga ini ? Mengapa Karel begitu membenciku...”
batinku. Aku satu sekolah dengan Karel. Dia kelas 1 SMP sedangkan aku kelas 3
SMP di SMPN 1 Bogor. Saat tiba disana,aku bingung dengan semua orang. Mereka
berbisik-bisik sambil memandang ke arahku seolah-olah aku adalah seorang
teroris yang sedang diburu Densus 88.
“Hei lihaat !!! Itu dia orang yang ku
maksud ! Dia orang miskin yang ingin memeras kekayaan orangtuaku dengan
membujuk orangtuaku menjadi orangtua asuhnya. Kasihan sekali yaa,dia orang yang
jahat. Berhati-hatilah teman-teman,” kata Karel lantang.
Aku memilih diam dan terus berjalan ke
kelasku. Mungkin ini Ujian dari Tuhan untukku.
Aku menyabari diriku sendiri dan pura-pura membaca buku hingga menutupi
wajahku.
Baru saja aku ingin memakan bekalku.
Tiba-tiba ada seseorang yang melempar bola ke arahku. Kotak makananku pun
jatuh. Aku menghela napas dan menatap lurus ke depan. “Karel...”
“Kenapa ??? Mau marah ???” tanya dia
lantang.
“Tidak,ini bolanya...” kataku sambil
menyodorkan bola itu ke arahnya. Bukannya menyambut,dia malah melempar bola itu
ke tempat lain dan melap tangannya. Aku hanya bisa mengelus dada.
“Aku tidak sudi memegang bola bekas
tanganmu,Maru... Nanti tanganku terkontaminasi,iya tidak teman-teman ???”
katanya sambil diringi riuh teman-temannya. Daripada menanggapi mereka,aku pun
pergi menjauh dari sana.
Di rumah,aku memandang kosong ke arah
halaman belakang yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang cantik. Baru tinggal
beberapa hari disini,aku sudah merasa tidak betah. Aku mengutuki sikapku
sendiri yang mau-mau saja menerima tawaran mamanya Karel untuk menjadi anak
angkatnya.
“Hei ! Sedang apa kau ???” tanya Karel
yang mengagetkanku hingga bukuku terlempar.
“Karel ??? Ada apa ???” tanyaku pelan.
Dia duduk di sampingku dan ikut
memandang ke arah halaman belakang. “Aku tidak ingin kau jadi kakakku. Kau
orang miskin. Aku malu. Kau tidak pantas jadi kakakku. Dan jangan pernah berani
berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak,mengerti ???”
“Memangnya kenapa ??? Apa kita tidak
bisa bersaudara ???” tanyaku lagi. Seketika matanya melotot dan bangkit dari
duduknya.
“Jangan mimpi !!!” katanya sambil
membanting pintu di belakangku.
“Begitu yaa...” gumamku sambil tertunduk
lemas.
Setiap hari,aku harus makan di dalam
kamarku. Karel sama sekali tidak mau makan semeja denganku. Walaupun mama dan
papa sudah memarahinya,dia tetap seperti itu. Ini semua salahku. Aku pun
membereskan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam ransel. Diam-diam aku
melangkah keluar.
“Maru ! Mau kemana kau malam-malam
begini ???” tanya mama lembut. Aku pun menoleh ke belakang dengan gugup. Beliau
pun menghampiriku. “Mau kemana,sayang ???”
“Aku mau pulang,ma...”
“Pulang kemana ??? Di sini kan rumahmu
juga ???” kata mama sambil mengelus lembut rambutku. Aku mengepalkan
tanganku,berusaha menahan tangis. Mama Karel sungguh terlalu baik padaku.
“Maru ingin pulang ke rumah Maru,Ma...
Maru ingin kembali menjadi pemulung seperti dulu,Maru tidak kerasan
disini,mohon mengertilah...” kataku sambil membungkukkan badanku.
“Biarkan aku pergi,ma..”
“Tidaak ! Mama tidak mau ! Mama sudah
terlanjur sayang dengan Maru. Mama sudah menganggap Maru sebagai anak mama
sendiri,jangan tinggalkan mama ya ??? Mama mohon maaf dengan semua perlakuan
kasar Karel. Mau ya ???” tawar mama lagi.
“Tapi...”
“Sudah,ayo kembali ke kamarmu ya ?
Tinggallah disini,demi mama ya ? Mama mohon. Maru ingin ya melihat mama sedih ?
Tidak,kan ???” kata mama sambil tersenyum. Aku pun menganggukkan kepalaku dan
memeluk mama. Rasanya hatiku sangat tenang. Aku sangat bahagia mama
menyayangiku.
Aku pun memasukkan baju-bajuku ke
lemari. Wajahku berseri-seri. Sudah lama aku ingin merasakan bagaimana dipeluk
oleh seorang ibu.
“Seharusnya kau meneruskan saja
niatmu,kau harus pulang ke tempat asalmu. Itu jauh lebih baik untuk
ketenanganku di rumah ini,” kata Karel ketus.
“Sejak kapan kau ada di depan pintu
kamarku ???”
“Kamarmu ??? Jangan sombong,seandainya
saja kau pergi dari rumah ini. aku akan menjadi orang pertama yang akan
berterima kasih padamu. Lihat saja nanti...” katanya lagi sambil keluar dari
kamarku. Aku menghela napas dan merebahkan diriku di kasur yang empuk itu.
“Maru sabarlah...sabarlah...kamu pasti
bisa melewati semua ini. dia pasti mau menerimamu sebagai kakaknya....”
* * *
Beberapa hari kemudian,saat sepulang
sekolah. Seperti biasa,aku pulang sambil berjalan kaki. Tiba-tiba aku melihat
Karel di ujung jalan sana. Dia bersama teman-temannya sedang asyik bercanda ria
di tepi jalan. Aku pun meneruskan perjalananku.
“Hei anak miskin ! Hati-hati yaa !” kata
Karel lantang yang diikuti teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku
menutup telingaku rapat-rapat dan terus melewati mereka. Baru beberapa langkah
aku berjalan,terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu. Aku pun menoleh ke
belakang dan terkejut.
“Karel !!!” teriakku sambil menghampiri
Karel yang bersimbah darah dan terkapar di jalanan. Aku merogoh sakuku. Kosong.
Aku yang panik pun meminta bantuan kepada orang-orang untuk menaikkan Karel ke
punggungku. Aku pun berlari kencang menuju rumah sakit sambil menggendong
Karel.
“Kau...” kata Karel lirih.
“Tenang saja,aku akan menolongmu,oke ?
Bersabarlah sedikit...” kataku sambil tersenyum kepadanya.
‘Kenapa ? Kenapa ? Kenapa kau menolongku ? Kau-bisa-sajakan
meninggalkanku... terkapar... di jalanan...hingga kehabisan...darah ???”
katanya terbata-bata.
“Kau kan adikku...” kataku lantang dan
terus berlari. Karena kehabisan darah,dia pun pingsan. Aku menarik napas dan
menghembuskannya.
“Ya Tuhan,selamatkan adikku...”
Setiba di rumah sakit,Karel langsung
dibawa ke ruang UGD. Aku pun menunggunya dengan was-was. Mama dan Ayah juga
sudah datang ke rumah sakit. Tiba-tiba Dokter keluar dan menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan anak saya,Dok ???
Baik-baik saja,kan ???” tanya mama panik.
“Dia kehabisan banyak darah. Dan
kebetulan stok darah AB rhesus negatif sedang tidak ada. Apa ada diantara
kalian yang memiliki golongan darah sama dengannya ???”
“Darah saya dan istri saya berbeda.
Bagaimana ini ???” kata Ayah bingung.
“Bagaimana dengan darah saya,Dok ???”
kataku.
“Berapa umurmu,nak ???” tanya Dokter itu
sambil membetulkan letak kacamatanya.
“15 tahun,pak...”
“Tidak bisa,kamu terlalu muda,nak...”
kata Dokter itu. Aku pun segera berlutut di hadapan pak Dokter itu dan
menangis.
“Dokter,saya mohon...biarkan saya
mendonorkan darah saya...saya akan tanggung resikonya walaupun nyawa saya
sebagai imbalannya. Tolong selamatkan adik saya,Dok... saya mohon...”
“Baiklah,ikuti saya,” kata Dokter itu.
Aku pun mengikuti beliau dan ternyata darah kami sama. Ini sungguh ajaib !
* * *
“Bagaimana keadaan Karel,ma ???”
tanyaku.
“Dia belum siuman tetapi kondisinya
mulai stabil kok,”
“Ma,setelah memikirkannya berhari-hari.
Maru ingin pergi dan pulang ke rumah Maru di kolong jembatan itu,” kataku
hati-hati.
“Lhoo ??? Kenapa lagi,Maru ???”
“Maru tinggal disini hanya nyusahin mama
dan ayah. Dan Karel tidak pernah menyukai keberadaan Maru. Dulu,Maru ingin
sekali punya adik dan dipanggil dengan sebutan kakak. Tapi sejak kejadian ini
Maru sadar. Maru tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang melimpah ini dari
mama dan ayah. Tolong kali ini mengertilah keputusan Maru,Ma...” kataku sambil
menunduk.
“Tapi,Maru...”
“Terima kasih karena Mama telah
menyayangiku. Dan membuatku seperti anak-anak yang lain serta diperlakukan
dengan baik disini. Maru tidak akan sanggup membayar semua kebaikan mama.”
“Maru,jangan begini terhadap mama...”
kata mama sambil menangis.
“Maru ! Ada apa ini ??? Kenapa kau
membawa ranselmu ???” kata Ayah tiba-tiba.
“Maru ingin pergi,Ayah....” kata mama
sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku,Ma ? Yah ? Maru pergi
dulu...” kataku sambil melangkahkan kakiku keluar rumah. Ini memang sungguh
pemandangan yang menyakitkan bagiku. Tapi ini demi kebaikan semua orang.
Sebelum pergi,aku menjenguk Karel di rumah sakit. dia masih belum siuman.
“Karel,kakak pergi dulu ya ? Sesuai
permintaan kamu,kakak Maru akan pergi jauuh dari kehidupan Karel. Tenang,
kehidupan Karel akan kembali seperti sedia kala lagi kok. Jaga
kesehatanmu,jangan sampai sakit dan membuat mama dan ayah khawatir lagi ya ???
Daah Karel...” kataku dan keluar dari ruangan sambil menahan tangis.
Tiba-tiba mata Karel terbuka. Tanpa
pikir panjang lagi,dia pun melepas semua infus di badannya dan bergegas lari keluar rumah
sakit. Dia menoleh kesana kemari tapi nihil. Orang yang dicarinya tidak ada di manapun.
“Ini semua salahku...salahku....”
katanya sambil menangis.
Dan akhirnya matanya tertuju pada sebuah
halte tak jauh dari sana. Dia melihat orang yang dicari-carinya sedang duduk
membelakanginya. Dia bernapas lega.
“KAKAAAAK !!! KAK MARUUU !!! JANGAAAN
PERGIIII !!!” teriaknya keras.
Spontan aku menoleh. Aku melihat Karel
dengan baju pasiennya berteriak ke arahku dn memanggilku “kakak”. Aku
mengucek-ngucek mataku. Aku tidak berani bermimpi setinggi ini. Sungguh. Dia
pun berlari menghampiriku dan memelukku sambil menangis.
“Kak Maru,maafkan Karel yaa. Karel sudah
jahat sekali dengan kakak. Karel selalu menyusahkan kakak. Karel....” katanya
sesenggukan.
“Sudahlah,aku sudah memaafkanmu. Jangan
cengeng seperti itulah,” kataku sambil tertawa dan mengacak-ngacak rambutnya. “Dan
yang lebih membuat aku senang,kamu sudah baikan.”
“Kakak jangan pergi ! Ku mohooooon,mulai
hari ini aku akan jadi adik yang baik untuk Kak Maru,mau ya ? mau ya ???” kata
Karel dengan tatapan memelas. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan terharu.
Setelah itu,dia pun melompat-lompat kegirangan.
Beberapa hari setelah kejadian itu,kami
siap-siap sarapan seperti biasa untuk ke sekolah. Seperti biasa,aku pun ingin
membawa nampanku ke halaman belakang lagi.
“Kak Maru,aku mau kok makan semeja
dengan kakak,” katanya sambil tersenyum.
“Serius niih ???” kataku tak percaya.
“Tentu saja,aku kan adik kaka...”
katanya sambil tersenyum lagi.
“Waah,baiklah kalau seperti itu...”
kataku dan duduk di sampingnya sambil memakan sarapanku. Mama dan Ayah
tersenyum melihat kami sudah rukun kembali. Aku juga senang bisa diterima
sepenuhnya di keluarga ini. Terima Kasih,Tuhan. Terima kasih telah mempertemukanku
dengan keluarga ini. Terima kasih untuk semuanya. :)
selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar