Ini
pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sekolah ini,di sebuah kota yang
bernama Lembang. Mungkin bagi semua orang kepindahanku disaat kelas 12 ini
sangat tanggung tetapi mau bagaimana lagi ? Aku tidak bisa membantah perintah
orangtuaku,lagipula disini udaranya segar dan baik untukku. Perhatianku pada
pemandangan teralihkan oleh seseorang yang memakai payung hitam tak jauh di
depanku.
“Cuaca
hari ini kan cerah ? Kenapa dia memakai payung ? Hitam lagi,seperti habis dari
pemakaman saja,” gumamku dan terus melangkah menuju kelas baruku.
Baru
saja aku masuk ke kelas itu,pandanganku langsung terpaku pada gadis itu. Yaa
dia adalah orang yang ku lihat memakai payung hitam tadi. Entah kenapa,aku
merasa pandangannya terhadapku itu seperti tatapan seorang anak yang berhadapan
dengan pembunuh berantai seperti Jack The Riper.
“Baiklah,ayo
perkenalkan dirimu..” kata Ibu Guru yang seketika memecahkan lamunanku.
“Selamat
pagi ! Perkenalkan nama saya Rizki Adipati,panggil saja Rizki. Mohon bantuannya
teman-teman,” kataku sambil membungkukkan badanku.
“Rizki
! Kamu pindahan darimana ??? Kok bisa pengen sekolah disini ? Tanggung lho,udah
mau lulusan nih. Apalagi ini kan sekolah yang agak terpencil ?” kata seorang
gadis yang ku dengar namanya Sasha dari kegaduhan kelas ini.
“Saya
pindahan dari Jakarta,saya pindah ke sini karena mengikuti orangtua saya yang
bertugas di daerah ini,”
Tiba-tiba
suasana kelas langsung riuh dan heboh,aku juga tidak tahu mengapa. Yang pasti
aku terus memperhatikan gadis itu. Dia tak mengucapkan sepatah katapun.
Tersenyum saja tidak,apalagi ikut riuh seperti teman-temannya. Ada apa
dengannya ?
“Biar
Ibu lihat dulu,kamu duduk dengan siapa... Hmm,kursi kosong yang tersisa hanya
ada di samping Maura. Apa kau mau duduk dengannya,Rizki ?” tanya Ibu sambil
memandang penuh kekhawatiran terhadapku dan gadis berpayung hitam yang bernama
Maura itu.
“Tentu
saja,saya mau,Bu...” kataku sambil tersenyum ke arah Maura yang langsung
memalingkan wajahnya ke buku.
“Baiklah,silahkan
duduk Rizki. Semoga kau betah sekolah disini ya,nak,”
“Iyaa,makasih
Bu,” kataku lagi dan melangkah ke arahnya. Aku pun duduk di sampingnya. Aku
bisa mendengar jelas bisik-bisik seisi kelas gara-gara aku duduk di samping
Maura. Mengapa ya ? Ada yang salah ?
“Hai,namamu
Maura ya ? Salam kenal ya ?” sapaku sambil tersenyum. Bukannya menjawab
sapaanku,dia malah mengambil jarak dan duduk menjauhiku. Aku terhenyak. Baru
kali ini ada yang menghindariku tanpa sebab. Apa jangan-jangan gadis ini tahu
sesuatu tentangku ? Semoga saja tidak.
Bel
istirahat telah berbunyi. Kontan saja,seisi kelas langsung menghampiriku dan menginterogasiku.
Aku bahagia sekali bisa diterima di sekolah ini tetapi gadis itu. Dia tanpa
berkata apapun langsung keluar kelas dan hilang dalam sekejab mata. Sepertinya
aku jadi mulai penasaran dengannya.
“Hei
Ki,kok kamu mau-mau aja sih duduk dengan gadis penyihir itu ? Kamu tidak takut
dengannya,” tanya temanku yang bernama Todi.
“Penyihir
? Apa maksud kalian ? Aku tidak mengerti sama sekali,” jawabku polos.
“Dia
itu misterius. Tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Berbicara juga jarang
sekali. Sekali berbicara,kata-katanya kasar sekali. Apalagi dia selalu membawa
payung hitam kemana-mana. Tatapannya kepada kita seperti tatapan ingin membunuh
atau mengutuk kita menjadi katak,” temanku,Anto menjelaskan.
“Huuuu,takuuuut...”
kata Todi. Aku hanya garuk-garuk kepala mendengar penjelasan mereka. Masa ada
orang seperti itu ? seperti manusia tanpa jiwa ? Seperti zombie ?
“Maka
dari itu,berhati-hatilah padanya. Jangan mendekatinya apalagi berteman
dengannya ! Bahaya ! Sayangi nyawamu,temaan,” tukas Anto sambil menepuk
pundakku. “Ayo ke kantin,kau pasti lapar.”
Aku
pun menganggukkan kepalaku dan mengikuti mereka ke kantin. Sekilas di lorong,aku
melihat gadis itu. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu memandang lurus ke danau.
Aku bisa merasakan betapa kelam hidupnya tapi aku tidak bisa memastikan itu.
Tatapannya ke danau itu sangat menyakitkan.
“Aduh,kenapa
harus lupa membawa cat air ? bagaimana aku bisa mengerjakan tugas praktikum ini
?!” gumamku tak jelas. Akan tetapi gumamanku terhenti,tatapanku terpaku dengan
sekotak cat air di depanku. Aku pun memandang Maura. Dia sedang asyik melukis
di kertas gambarnya dan tak memperdulikanku.
“Kau
mau meminjamkan ini padaku ? Makasih...Maura,” kataku sambil tersenyum. Dia
menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan gambarannya. Aku mencoba mengintip
apa yang digambarnya. Tapi apa yang ku lihat ? dia menggambar payung hitam.
“Maaf
jika aku lancang,tetapi mengapa kau suka sekali dengan payung hitam ? Ku lihat
kau kemana-mana selalu membawa payung hitam ? Kau menyukainya ? Wah,biar ku
tebak kau menyukai warna hitam ya ? apalagi sekarang kau menggambar payung
hitam. Maukah kau menceritakannya padaku.”
“Bukan
urusanmu,Rizki,” jawabnya pelan dan langsung pergi keluar kelas. Aku bengong.
Ini pertamakalinya aku mendengar suaranya. Hatiku sangat senang. Rasanya
seperti menjelajahi samudra pasifik dan terbang dengan paus akrobatik. Mungkin
ini akan menjadi awal dari pertemanan kami. Yah,semoga saja. Setidaknya aku
berharap.
* * *
Maura
meringkuk di kamarnya yang sangat kecil itu. Dia memandang foto keluarganya.
Ada ayah,Ibu,Kakak dan adiknya yang tersenyum di foto tersebut. Tak
disangka,air matanya menetes. Saat dia memandang fotonya dengan
sahabat-sahabatnya kala dia smp,dia menyeka airmatanya. Dan ketika pandangannya
terpaku dengan sebuah foto. Foto dia dengan orang yang disukainya. Mereka semua
meninggalkannya tanpa mengucapkan salam perpisahan lebih dahulu. Itu semua membuatnya
semakin perih.
“Mengapa
? Payung hitam ? Ada apa dengan orang itu ? Mengapa dia menanyakan hal itu. Hal
yang tak ada gunanya sekali untuk dipikirkan. Memangnya dia siapa ?
Mentang-mentang orang kaya jadi ingin tahu semua urusan orang,” batinnya.
~~~
“Bagaimana
sekolahmu,Adipati sayang ??? Sudah punya banyak teman,tidak ?” tanya Bu Wina
sambil membelai lembut rambut anaknya.
“Lumayan,aku
punya banyak teman. Semuanya baik-baik kok,ma...”
“Minggu
depan,harus kontrol ke dokter lagi,jangan lupa yaa,” kata Bu Wina lagi dengan
tegas.
“Baiklah,”
jawabnya sambil tersenyum.
Setelah
Ibunya keluar dari kamarnya,tak sengaja matanya tertuju ke luar jendela. Dia
melihat sosok yang dikenalnya itu berjalan sendirian sambil memakai payung
hitam.
“Apa
yang dia lakukan malam-malam begini ? Sendirian lagi. Apa aku ikutin ya ? Boleh
juga...” serunya sambil meraih jaket di mejanya dan berlari keluar rumah.
Tak
lama kemudian,dia pun sudah berjalan pelan di belakang Maura. Gadis itu sedang
menenteng belanjaan yang bisa dibilang hanya untuk sekali makan saja. Tiba-tiba
saja,gadis itu berbalik dan membuat Rizki terkejut dan jatuh.
“Mau
apa kau mengikutiku ?”
“Aku
tidak mengikutimu,aku habis jalan-jalan dengan temanku. Tidak sengaja aku
melihatmu ya jadi aku mengikutimu saja. Aku kan orang baru jadi tidak begitu
tahu jalan disini.”
Maura
mengerutkan keningnya lalu berbalik dan meneruskan langkahnya. Rizki pun
bangkit dan tiba-tiba terbatuk. Darah segar keluar dari mulutnya. Dia terkejut.
Matanya terbelalak tak percaya. Maura terus berjalan tanpa melihat ke arahnya
dan menghilang di persimpangan jalan.
“Maura...”
Sebuah
mobil tepat berhenti di sampingnya. Dia pun menoleh. Keluarlah Bu Wina dan
langsung menghampiri Rizki. Tepat saat beliau tiba di depannya,Rizki langsung
tak sadarkan diri. Bu Wina sangat panik dan langsung membawanya ke mobil.
Beberapa
jam kemudian,Rizki membuka matanya. Dia langsung bangkit dari tempat tidurnya
dan terkejut sudah ada ibunya di sana.
“Mama...”
“Kemana
saja kau tadi ? Mama khawatir sekali,kau tahu ? Apalagi saat melihat kau muntah
darah tadi di jalan. Mama takut kehilanganmu,sayaang... Jangan seperti ini
dengan mamamu,” kata Bu Wina terisak sambil memeluknya.
“Maafkan,Adipati...Ini
semua salah Adipati. Adipati tidak mematuhi aturan mama,dan sekarang malah membuat
mama khawatir. Maafkan Adipati,ma...” jawabnya lirih. “Adipati janji,ma !
Adipati tidak akan membuat mama sedih lagi. Adipati tidak akan berjalan
kemana-mana tanpa memberitahu mama lagi.”
“Makasih,sayang.”
Kata Bu Wina sambil terus menangis.
* *
*
Pagi
itu,Maura kembali berjalan ke sekolah dengan payung hitamnya. Hujan turun
sangat deras. Dia tak melihat ada sebuah kendaraan bermotor yang melaju ke
arahnya. Tiba-tiba tangannya ditarik
sehingga payungnya terlepas dan terjatuh di tepi jalan. Dia meringis. Dan
sangat terkejut saat melihat siapa yang menolongnya.
“Kamu...”
“Maura
? Kamu tidak apa-apa,kan ? Kamu baik-baik saja,kan ? Ada yang luka ?” tanya
Rizki beruntun.
Maura
menepis tangannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Rizki. Lalu dia
menatap payungnya yang rusak parah karena tersangkut di pohon. “Kau ! Kau tidak
tahu seberapa pentingnya payung hitam itu bagiku. Kau tidak tahu apa-apa
tentangku. Seharusnya kau tak menolongku tadi. Dasar bodoh ! Aku benci padamu.”
“Tapi
aku...”
Tanpa
mendengar kelanjutan kata-kata Rizki,Maura pun berlari sambil terisak dan terus
berlari meninggalkannya sendirian di tengah hujan.
“Gadis
berpayung hitam itu,kenapa aku selalu salah dimatanya ? Aku sungguh tidak mengerti
dengannya.”
“Mengapa
? Mengapa ? Mengapa ? Mengapa dia menolongku ? Seharusnya dia membiarkanku
meninggal. Harapanku untuk hidup sudah musnah. Apa gunanya aku hidup kembali !
Mengapaa !!!” kata Maura sambil terus menangis. “Kenapa dia harus peduli denganku
? Disaat hidupku yang selalu sendiri ini menyenangkan, kenapa dia harus muncul
dan menunjukkan kebaikannya padaku ?! Kenapa...”
Jam
pelajaran pertama sudah lama dimulai,tetapi Rizki tak juga muncul batang
hidungnya. Semua berbisik-bisik dan mengatakan bahwa Rizki menghilang karena
sihir gadis berpayung hitam yang tak lain adalah Maura. Saat Maura menoleh ke
mereka,secara otomatis suasana kelas langsung sunyi senyap. Tiba-tiba...
“Maaf,Bu
! Saya terlambat...”
Semua
orang terpana dengan kemunculan Rizki yang basah kuyup dengan sebuah payung
hitam baru di tangan kanannya. Dia pun heran dan menghampiri Maura.
“Maura,ini
ku ganti payungmu. Maafkan aku,yaa,” katanya sambil tersenyum dan menyodorkan
payung itu ke Maura. “Bu,saya izin ganti baju ke belakang,permisi.”
“Silahkan,Rizki.
Baiklah lanjutkan pekerjaan kalian,anak-anak.” Kata Ibu guru tegas. Maura
terdiam di tempat duduknya. Dia memandang Rizki dari belakang,matanya
berkaca-kaca. Apalagi bisik-bisik teman-temannya semakin menjadi-jadi saja.
Saking asyiknya melamun,dia tak sadar tiba-tiba sebuah headset terpasang di
kedua telinganya. Spontan dia pun menoleh.
“Rizki...”
“Jangan
dengarkan kata-kata mereka. Aku tahu kau lebih menyeramkan dari mereka. Maaf
cuma bercanda,aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya ingin melucu dan
membuatmu tertawa,” kata Rizki sambil ketawa kecil.
“Tidak
perlu...”
“Hah
? Apa ???”
“Berhentilah
bersikap baik padaku,kau hanya membuatku semakin benci terhadapmu. Hentikanlah
dari sekarang,aku mohon. Ini semua demi kebaikanmu...”
“Tapi...”
Maura
memalingkan wajahnya dan kembali tekun mengerjakan tugasnya. Rizki terdiam
seketika. Tak tahu harus berkata apa. Kepalanya sangat pusing saat itu. Yang
dia pikirkan sekarang adalah bagaimana bersikap di depan Maura. Dia tidak mau
Maura salah paham dengannya. “Ya Tuhan,jangan lagi,” gumamnya sambil memegang
dahinya.
Saat
pulang sekolah,hujan kembali turun dengan deras. Rizki terdiam memandangi
hujan. Dia terus kepikiran kata-kata Maura. Hingga tiba-tiba sebuah payung
hitam menaunginya. Dia terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya ke atas.
Lalu menoleh ke samping.
“Maura..”
“Anggap
saja ini balas budiku karena kamu telah menolongku. Aku tidak mau berhutang
budi lama-lama dengan orang sepertimu,” kata
Maura ketus.
“Bagaimana
kalau ku traktir makan ? mau ?” tanya Rizki hati-hati. Aku memandang Maura dengan was-was. Berharap Maura
tidak meninggalkanku lagi dan membenci kehadiranku. Dia mau bicara denganku saja,aku sudah bersyukur
sekali.
“Baiklah,”
“Tunggu
sebentar,aku pergi dulu,” kataku sambil berlari ke tempat penyewaan sepeda dan
secepatnya kembali di depannya. “Ayo naik,kita akan pergi dengan sepeda ini.”
Tanpa
pikir panjang,dia langsung naik di pedal boncengan sepedaku dan entah ini cuma
khayalanku belaka atau apa,aku melihatnya tersenyum. Tapi,mungkin ini hanya
mimpi atau harapanku belaka. Aku pun mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga.
“Kita
makan di sini ???”
“Kau
tidak suka ya ? ya udah,kita pergi ke tempat lain saja,” kataku sambil kembali
ke sepedaku.
“Jangan,disini
saja...”
Setelah
selesai makan,kami pun duduk-duduk di tepi sebuah danau kecil. Tak ku
sangka,dia sesenggukan di sampingku.
“Maura,aku
tidak bermaksud seperti itu,aku hanya ingin berteman denganmu, aku...aku..”
kataku gelagapan. “Ku mohon, jangan menangis seperti ini,apa aku menyakitimu ?
Apa salahku ? Ku mohon,katakanlah..”
“Mengapa
kau baik sekali padaku ? Kenapa kau tidak seperti teman-teman lainnya ?
Mengacuhkanku dan tidak menganggapku ada ? Kenapa ?! Apa yang sebenarnya kau
inginkan dariku ? Aku bukan siapa-siapa,aku hanya remaja yang memendam duka
bertahun-tahun. Terluka oleh semua orang. Kau tidak bisa membayangkan sakitnya kehilangan
orangtua di usia dini. Harus menjadi beban kakakmu hingga dia meninggal di
tahun berikutnya karena menderita kanker. Kami bangkrut dan semua orang bahkan
sahabatku mulai menjauhiku,” jelasnya sambil menangis.
Aku
hanya terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pun memandang lurus ke
danau dan terus mendengarkannya.
“Setelah
itu,aku bekerja membanting tulang di warung-warung sebagai pencuci piring.
Beberapa hari kemudian adikku sakit. Karena ketidaksediaan biaya,aku hanya
merawatnya di rumah. Tak ada satupun yang mau menolongku dan akhirnya...adikku
meninggal. Tak lama kemudian,aku dekat dengan seseorang. Dan aku menyukainya. Tapi...tak
lama kemudian dia dikabarkan meninggal karena suatu kecelakaan.
Menyedihkan,bukan ?”
“Setelah
itu,aku berpikir. Semua derita ini harus diakhiri. Sejak itu aku mulai memakai
payung hitam. Hidupku hampa. Hidupku berubah 180 derajat. Aku tidak mau berbicara
dengan siapapun,aku tidak percaya dengan semua orang. Aku tidak ingin
kehilangan orang-orang yang ku sayangi lagi. Mungkin dengan memakai payung
hitam itu dan bersikap dingin pada semua orang dapat membuat hidupku tenang. Jadi,lebih
baik biarkan aku hidup menyendiri seperti ini. Aku mohon...” katanya sambil
memandangku.
“Aku
tidak peduli,aku hanya ingin berteman denganmu. Tidak bisakah kau coba kembali
untuk bergembira seperti teman-teman lainnya. Kau harusnya bersyukur bisa hidup
lebih lama. Aku iri denganmu,” kataku sambil terbatuk.
“Rizki,itu
ada apa di bawah bibirmu ? Darah ?” tanyanya was-was.
Aku
pun menyeka bibirku. Ya Tuhan,kenapa lagi-lagi muncul. Aku harus bilang apa
dengan Maura. Dia tidak boleh tahu tentangku. Selamanya. Mungkin. “Oh ini,ini
gara-gara saos tomat. Aku makannya terlalu cepat tadi makanya sampai mengenai
bibir.”
“Jangan
berbohong,Rizki...” desahnya pelan.
“Maura,maukah
kau menerimaku sebagai temanmu ? Aku akan selalu ada untukmu. Kita bisa belajar
bersama bareng. Dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Maukah kau membuka
hatimu sedikit untukku ? Aku ingin menjadi sahabatmu...” tukasku cepat-cepat
mengalihkan pembicaraan.
“Aku
mau kok,tak ada salahnya,kan ? Kau juga sudah baik sekali padaku. Ku mohon
jangan kecewakan aku.”
“Tentu
saja ! Janji pramuka !” kataku bersemangat sambil tertawa kesenangan. Dia
tersenyum padaku. Dan kali ini aku benar-benar melihatnya. Bagiku,ini adalah
mukjizat terindah yang pernah diberikan Allah padaku. Setidaknya selama aku
hidup. Aku tidak akan pernah melupakan hal ini. Takkan pernah selamanya.
* * *
Besok
paginya,sekolah heboh. Semua sibuk berkumpul di depan papan pengumuman. Aku
yang baru datang pun mencoba mencari tahu. Tiba-tiba saja Maura menghampiriku
dan langsung menamparku. Aku mematung di tempat.
“Kau
! Ku pikir kau berbeda dengan yang lainnya. Ku pikir kau tulus mau berteman
denganku ! Nyatanya ?! Selama ini kau mendekatiku karena ingin tahu semua
rahasiaku lalu menyebarkannya ke semua orang ?! Kau tega sekali padaku !
Kau...”
“Maura,ini
bukan aku. Ini cuma salah paham...”
“Diam
! Aku tidak mau lagi mendengar semua kata-katamu ! Menjauhlah dariku ! Dan ku
peringati kau ya ! Tidak usah berlagak menjadi pahlawan kesiangan di mataku !
Aku tidak perlu orang sepertimu ! Enyahlah dari kehidupanku !” katanya lantang
dan langsung meninggalkanku dengan beribu tatapan tak menyenangkan dari semua
orang.
Sungguh,hatiku
perih. Serasa tertusuk ribuan paku yang terhampar di lautan. Seperti kertas
yang dipotong kecil-kecil hingga menjadi serpihan debu. Dan ini pertama kalinya
ada orang yang berkata kasar padaku. Yang lebih membuatku sakit,Maura yang
mengatakan semua itu langsung padaku.
Benar
saja,sejak kejadian itu. Dia menghindariku seperti aku ini wabah penyakit yang
menular. Dan dia masih suka memakai payung hitamnya. Aku hanya bisa melihatnya
dari kejauhan. Mungkin,ini memang takdirku.
“Riz,kamu
kan sudah UAN nih. Gimana kalau kamu ikut mama berobat ke Singapura ? Ini semua
demi kamu juga. Mau ya ?”
“Tapi,ma...”
“Mama
tidak mau tahu,mama beri kamu waktu 3 hari untuk mengucapkan salam perpisahan
untuk teman-temanmu,oke ?”
“Baiklah...”
kataku sambil tersenyum simpul. Mungkin,inilah saatnya untuk memperbaiki
semuanya. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maura. Dia harus tahu
yang sebenarnya. Aku pun berlari ke sekolah dan mendapati dia sedang melamun
dengan menenteng payung hitamnya. Lagi.
“Maura..”
Dia
menoleh dan buru-buru ingin pergi dari situ.
“Aku
tunggu kau besok jam 8 pagi di tepi danau tempo hari itu,aku akan menunggumu
sampai kapanpun. Jadi,ku mohon datanglah. Ada hal penting yang ingin ku
bicarakan denganmu,” kataku tegas. Tapi dia tak menghiraukannya dan terus
melangkah pergi. “Aku harap kau datang.”
Hujan
turun sangat deras. Sesekali Maura menengok ke luar jendela. Dia terlihat
gundah. Dia pun merebahkan badannya ke kasur. Dia memandang langi-langit
kamarnya.
“Apa
yang harus ku lakukan ? Apa dia masih menungguku sekarang ??? Tak mungkin,dia
pasti pulang ke rumah.”
Tapi
tak berapa lama kemudian,Maura mengambil mantelnya dan payung hitamnya lalu
berlari menerobos hujan. Dia tak peduli lagi. Dia ingin tahu apa yang ingin
dikatakan Rizki padanya. Setidaknya kali ini dia mencoba berharap.
Tapi
apa yang terjadi ? Setibanya di danau itu,tak ada seorangpun di sana. Dia terus
menunggu hingga malam pun tiba tetapi Rizki tidak muncul juga. Air matanya
kembali mengalir.
“Dia
membohongiku..”
Sepanjang
perjalanan pulang,dia melihat ke langit. Bintang-bintang menghiasi langit malam
itu dengan kecantikannya. Tapi tetap saja tidak bisa mengubah perasaannya yang
terlalu kecewa.
“Seharusnya
aku tidak mempercayainya,seharusnya aku tidak berharap banyak padanya,harusnya
aku...”
* * *
Besok
paginya,Maura tidak sengaja melewati sebuah kios. Di saat, air hujan menetes
dengan derasnya. Dia pun mampir dan mengambil sebuah koran lalu membacanya.
Tangannya bergetar. Dia sangat terpukul dan langsung menutup koran itu dan
mengembalikannya.
“Ternyata
aku salah selama ini...”
Dia
pun mengembangkan payung hitamnya. Lalu kembali melangkah sambil memakainya
walaupun saat itu sang mentari sedang bersinar dengan gagahnya. Langkahnya
pelan namun pasti. Namun pandangannya kosong. Dia terus melangkah hingga
menghilang di persimpangan jalan dan hingga yang dapat terlihat darinya,hanyalah
sebuah payung hitam dari kejauhan.
selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar