Selasa, 01 April 2014

Setetes Hujan di Lembang (my hidden collection)



Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sekolah ini,di sebuah kota yang bernama Lembang. Mungkin bagi semua orang kepindahanku disaat kelas 12 ini sangat tanggung tetapi mau bagaimana lagi ? Aku tidak bisa membantah perintah orangtuaku,lagipula disini udaranya segar dan baik untukku. Perhatianku pada pemandangan teralihkan oleh seseorang yang memakai payung hitam tak jauh di depanku.
“Cuaca hari ini kan cerah ? Kenapa dia memakai payung ? Hitam lagi,seperti habis dari pemakaman saja,” gumamku dan terus melangkah menuju kelas baruku.
Baru saja aku masuk ke kelas itu,pandanganku langsung terpaku pada gadis itu. Yaa dia adalah orang yang ku lihat memakai payung hitam tadi. Entah kenapa,aku merasa pandangannya terhadapku itu seperti tatapan seorang anak yang berhadapan dengan pembunuh berantai seperti Jack The Riper.
“Baiklah,ayo perkenalkan dirimu..” kata Ibu Guru yang seketika memecahkan lamunanku.
“Selamat pagi ! Perkenalkan nama saya Rizki Adipati,panggil saja Rizki. Mohon bantuannya teman-teman,” kataku sambil membungkukkan badanku.
“Rizki ! Kamu pindahan darimana ??? Kok bisa pengen sekolah disini ? Tanggung lho,udah mau lulusan nih. Apalagi ini kan sekolah yang agak terpencil ?” kata seorang gadis yang ku dengar namanya Sasha dari kegaduhan kelas ini.
“Saya pindahan dari Jakarta,saya pindah ke sini karena mengikuti orangtua saya yang bertugas di daerah ini,”
Tiba-tiba suasana kelas langsung riuh dan heboh,aku juga tidak tahu mengapa. Yang pasti aku terus memperhatikan gadis itu. Dia tak mengucapkan sepatah katapun. Tersenyum saja tidak,apalagi ikut riuh seperti teman-temannya. Ada apa dengannya ?
“Biar Ibu lihat dulu,kamu duduk dengan siapa... Hmm,kursi kosong yang tersisa hanya ada di samping Maura. Apa kau mau duduk dengannya,Rizki ?” tanya Ibu sambil memandang penuh kekhawatiran terhadapku dan gadis berpayung hitam yang bernama Maura itu.
“Tentu saja,saya mau,Bu...” kataku sambil tersenyum ke arah Maura yang langsung memalingkan wajahnya ke buku.
“Baiklah,silahkan duduk Rizki. Semoga kau betah sekolah disini ya,nak,”
“Iyaa,makasih Bu,” kataku lagi dan melangkah ke arahnya. Aku pun duduk di sampingnya. Aku bisa mendengar jelas bisik-bisik seisi kelas gara-gara aku duduk di samping Maura. Mengapa ya ? Ada yang salah ?
“Hai,namamu Maura ya ? Salam kenal ya ?” sapaku sambil tersenyum. Bukannya menjawab sapaanku,dia malah mengambil jarak dan duduk menjauhiku. Aku terhenyak. Baru kali ini ada yang menghindariku tanpa sebab. Apa jangan-jangan gadis ini tahu sesuatu tentangku ? Semoga saja tidak.
Bel istirahat telah berbunyi. Kontan saja,seisi kelas langsung menghampiriku dan menginterogasiku. Aku bahagia sekali bisa diterima di sekolah ini tetapi gadis itu. Dia tanpa berkata apapun langsung keluar kelas dan hilang dalam sekejab mata. Sepertinya aku jadi mulai penasaran dengannya.
“Hei Ki,kok kamu mau-mau aja sih duduk dengan gadis penyihir itu ? Kamu tidak takut dengannya,” tanya temanku yang bernama Todi.
“Penyihir ? Apa maksud kalian ? Aku tidak mengerti sama sekali,” jawabku polos.
“Dia itu misterius. Tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Berbicara juga jarang sekali. Sekali berbicara,kata-katanya kasar sekali. Apalagi dia selalu membawa payung hitam kemana-mana. Tatapannya kepada kita seperti tatapan ingin membunuh atau mengutuk kita menjadi katak,” temanku,Anto menjelaskan.
“Huuuu,takuuuut...” kata Todi. Aku hanya garuk-garuk kepala mendengar penjelasan mereka. Masa ada orang seperti itu ? seperti manusia tanpa jiwa ? Seperti zombie ?
“Maka dari itu,berhati-hatilah padanya. Jangan mendekatinya apalagi berteman dengannya ! Bahaya ! Sayangi nyawamu,temaan,” tukas Anto sambil menepuk pundakku. “Ayo ke kantin,kau pasti lapar.”
Aku pun menganggukkan kepalaku dan mengikuti mereka ke kantin. Sekilas di lorong,aku melihat gadis itu. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu memandang lurus ke danau. Aku bisa merasakan betapa kelam hidupnya tapi aku tidak bisa memastikan itu. Tatapannya ke danau itu sangat menyakitkan.
“Aduh,kenapa harus lupa membawa cat air ? bagaimana aku bisa mengerjakan tugas praktikum ini ?!” gumamku tak jelas. Akan tetapi gumamanku terhenti,tatapanku terpaku dengan sekotak cat air di depanku. Aku pun memandang Maura. Dia sedang asyik melukis di kertas gambarnya dan tak memperdulikanku.
“Kau mau meminjamkan ini padaku ? Makasih...Maura,” kataku sambil tersenyum. Dia menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan gambarannya. Aku mencoba mengintip apa yang digambarnya. Tapi apa yang ku lihat ? dia menggambar payung hitam.
“Maaf jika aku lancang,tetapi mengapa kau suka sekali dengan payung hitam ? Ku lihat kau kemana-mana selalu membawa payung hitam ? Kau menyukainya ? Wah,biar ku tebak kau menyukai warna hitam ya ? apalagi sekarang kau menggambar payung hitam. Maukah kau menceritakannya padaku.”
“Bukan urusanmu,Rizki,” jawabnya pelan dan langsung pergi keluar kelas. Aku bengong. Ini pertamakalinya aku mendengar suaranya. Hatiku sangat senang. Rasanya seperti menjelajahi samudra pasifik dan terbang dengan paus akrobatik. Mungkin ini akan menjadi awal dari pertemanan kami. Yah,semoga saja. Setidaknya aku berharap.
* * *
Maura meringkuk di kamarnya yang sangat kecil itu. Dia memandang foto keluarganya. Ada ayah,Ibu,Kakak dan adiknya yang tersenyum di foto tersebut. Tak disangka,air matanya menetes. Saat dia memandang fotonya dengan sahabat-sahabatnya kala dia smp,dia menyeka airmatanya. Dan ketika pandangannya terpaku dengan sebuah foto. Foto dia dengan orang yang disukainya. Mereka semua meninggalkannya tanpa mengucapkan salam perpisahan lebih dahulu. Itu semua membuatnya semakin perih.
“Mengapa ? Payung hitam ? Ada apa dengan orang itu ? Mengapa dia menanyakan hal itu. Hal yang tak ada gunanya sekali untuk dipikirkan. Memangnya dia siapa ? Mentang-mentang orang kaya jadi ingin tahu semua urusan orang,” batinnya.
~~~
“Bagaimana sekolahmu,Adipati sayang ??? Sudah punya banyak teman,tidak ?” tanya Bu Wina sambil membelai lembut rambut anaknya.
“Lumayan,aku punya banyak teman. Semuanya baik-baik kok,ma...”
“Minggu depan,harus kontrol ke dokter lagi,jangan lupa yaa,” kata Bu Wina lagi dengan tegas.
“Baiklah,” jawabnya sambil tersenyum.
Setelah Ibunya keluar dari kamarnya,tak sengaja matanya tertuju ke luar jendela. Dia melihat sosok yang dikenalnya itu berjalan sendirian sambil memakai payung hitam.
“Apa yang dia lakukan malam-malam begini ? Sendirian lagi. Apa aku ikutin ya ? Boleh juga...” serunya sambil meraih jaket di mejanya dan berlari keluar rumah.
Tak lama kemudian,dia pun sudah berjalan pelan di belakang Maura. Gadis itu sedang menenteng belanjaan yang bisa dibilang hanya untuk sekali makan saja. Tiba-tiba saja,gadis itu berbalik dan membuat Rizki terkejut dan jatuh.
“Mau apa kau mengikutiku ?”
“Aku tidak mengikutimu,aku habis jalan-jalan dengan temanku. Tidak sengaja aku melihatmu ya jadi aku mengikutimu saja. Aku kan orang baru jadi tidak begitu tahu jalan disini.”
Maura mengerutkan keningnya lalu berbalik dan meneruskan langkahnya. Rizki pun bangkit dan tiba-tiba terbatuk. Darah segar keluar dari mulutnya. Dia terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Maura terus berjalan tanpa melihat ke arahnya dan menghilang di persimpangan jalan.
“Maura...”
Sebuah mobil tepat berhenti di sampingnya. Dia pun menoleh. Keluarlah Bu Wina dan langsung menghampiri Rizki. Tepat saat beliau tiba di depannya,Rizki langsung tak sadarkan diri. Bu Wina sangat panik dan langsung membawanya ke mobil.
Beberapa jam kemudian,Rizki membuka matanya. Dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan terkejut sudah ada ibunya di sana.
“Mama...”
“Kemana saja kau tadi ? Mama khawatir sekali,kau tahu ? Apalagi saat melihat kau muntah darah tadi di jalan. Mama takut kehilanganmu,sayaang... Jangan seperti ini dengan mamamu,” kata Bu Wina terisak sambil memeluknya.
“Maafkan,Adipati...Ini semua salah Adipati. Adipati tidak mematuhi aturan mama,dan sekarang malah membuat mama khawatir. Maafkan Adipati,ma...” jawabnya lirih. “Adipati janji,ma ! Adipati tidak akan membuat mama sedih lagi. Adipati tidak akan berjalan kemana-mana tanpa memberitahu mama lagi.”
“Makasih,sayang.” Kata Bu Wina sambil terus menangis.
* * *
Pagi itu,Maura kembali berjalan ke sekolah dengan payung hitamnya. Hujan turun sangat deras. Dia tak melihat ada sebuah kendaraan bermotor yang melaju ke arahnya. Tiba-tiba  tangannya ditarik sehingga payungnya terlepas dan terjatuh di tepi jalan. Dia meringis. Dan sangat terkejut saat melihat siapa yang menolongnya.
“Kamu...”
“Maura ? Kamu tidak apa-apa,kan ? Kamu baik-baik saja,kan ? Ada yang luka ?” tanya Rizki beruntun.
Maura menepis tangannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Rizki. Lalu dia menatap payungnya yang rusak parah karena tersangkut di pohon. “Kau ! Kau tidak tahu seberapa pentingnya payung hitam itu bagiku. Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Seharusnya kau tak menolongku tadi. Dasar bodoh ! Aku benci padamu.”
“Tapi aku...”
Tanpa mendengar kelanjutan kata-kata Rizki,Maura pun berlari sambil terisak dan terus berlari meninggalkannya sendirian di tengah hujan.
“Gadis berpayung hitam itu,kenapa aku selalu salah dimatanya ? Aku sungguh tidak mengerti dengannya.”
“Mengapa ? Mengapa ? Mengapa ? Mengapa dia menolongku ? Seharusnya dia membiarkanku meninggal. Harapanku untuk hidup sudah musnah. Apa gunanya aku hidup kembali ! Mengapaa !!!” kata Maura sambil terus menangis. “Kenapa dia harus peduli denganku ? Disaat hidupku yang selalu sendiri ini menyenangkan, kenapa dia harus muncul dan menunjukkan kebaikannya padaku ?! Kenapa...”
Jam pelajaran pertama sudah lama dimulai,tetapi Rizki tak juga muncul batang hidungnya. Semua berbisik-bisik dan mengatakan bahwa Rizki menghilang karena sihir gadis berpayung hitam yang tak lain adalah Maura. Saat Maura menoleh ke mereka,secara otomatis suasana kelas langsung sunyi senyap. Tiba-tiba...
“Maaf,Bu ! Saya terlambat...”
Semua orang terpana dengan kemunculan Rizki yang basah kuyup dengan sebuah payung hitam baru di tangan kanannya. Dia pun heran dan menghampiri Maura.
“Maura,ini ku ganti payungmu. Maafkan aku,yaa,” katanya sambil tersenyum dan menyodorkan payung itu ke Maura. “Bu,saya izin ganti baju ke belakang,permisi.”
“Silahkan,Rizki. Baiklah lanjutkan pekerjaan kalian,anak-anak.” Kata Ibu guru tegas. Maura terdiam di tempat duduknya. Dia memandang Rizki dari belakang,matanya berkaca-kaca. Apalagi bisik-bisik teman-temannya semakin menjadi-jadi saja. Saking asyiknya melamun,dia tak sadar tiba-tiba sebuah headset terpasang di kedua telinganya. Spontan dia pun menoleh.
“Rizki...”
“Jangan dengarkan kata-kata mereka. Aku tahu kau lebih menyeramkan dari mereka. Maaf cuma bercanda,aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya ingin melucu dan membuatmu tertawa,” kata Rizki sambil ketawa kecil.
“Tidak perlu...”
“Hah ? Apa ???”
“Berhentilah bersikap baik padaku,kau hanya membuatku semakin benci terhadapmu. Hentikanlah dari sekarang,aku mohon. Ini semua demi kebaikanmu...”
“Tapi...”
Maura memalingkan wajahnya dan kembali tekun mengerjakan tugasnya. Rizki terdiam seketika. Tak tahu harus berkata apa. Kepalanya sangat pusing saat itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana bersikap di depan Maura. Dia tidak mau Maura salah paham dengannya. “Ya Tuhan,jangan lagi,” gumamnya sambil memegang dahinya.
Saat pulang sekolah,hujan kembali turun dengan deras. Rizki terdiam memandangi hujan. Dia terus kepikiran kata-kata Maura. Hingga tiba-tiba sebuah payung hitam menaunginya. Dia terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Lalu menoleh ke samping.
“Maura..”
“Anggap saja ini balas budiku karena kamu telah menolongku. Aku tidak mau berhutang budi lama-lama dengan orang sepertimu,”  kata Maura ketus.
“Bagaimana kalau ku traktir makan ? mau ?” tanya Rizki hati-hati. Aku  memandang Maura dengan was-was. Berharap Maura tidak meninggalkanku lagi dan membenci kehadiranku. Dia  mau bicara denganku saja,aku sudah bersyukur sekali.
“Baiklah,”
“Tunggu sebentar,aku pergi dulu,” kataku sambil berlari ke tempat penyewaan sepeda dan secepatnya kembali di depannya. “Ayo naik,kita akan pergi dengan sepeda ini.”
Tanpa pikir panjang,dia langsung naik di pedal boncengan sepedaku dan entah ini cuma khayalanku belaka atau apa,aku melihatnya tersenyum. Tapi,mungkin ini hanya mimpi atau harapanku belaka. Aku pun mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga.
“Kita makan di sini ???”
“Kau tidak suka ya ? ya udah,kita pergi ke tempat lain saja,” kataku sambil kembali ke sepedaku.
“Jangan,disini saja...”
Setelah selesai makan,kami pun duduk-duduk di tepi sebuah danau kecil. Tak ku sangka,dia sesenggukan di sampingku.
“Maura,aku tidak bermaksud seperti itu,aku hanya ingin berteman denganmu, aku...aku..” kataku gelagapan. “Ku mohon, jangan menangis seperti ini,apa aku menyakitimu ? Apa salahku ? Ku mohon,katakanlah..”

“Mengapa kau baik sekali padaku ? Kenapa kau tidak seperti teman-teman lainnya ? Mengacuhkanku dan tidak menganggapku ada ? Kenapa ?! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku ? Aku bukan siapa-siapa,aku hanya remaja yang memendam duka bertahun-tahun. Terluka oleh semua orang. Kau tidak bisa membayangkan sakitnya kehilangan orangtua di usia dini. Harus menjadi beban kakakmu hingga dia meninggal di tahun berikutnya karena menderita kanker. Kami bangkrut dan semua orang bahkan sahabatku mulai menjauhiku,” jelasnya sambil menangis.
Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pun memandang lurus ke danau dan terus mendengarkannya.
“Setelah itu,aku bekerja membanting tulang di warung-warung sebagai pencuci piring. Beberapa hari kemudian adikku sakit. Karena ketidaksediaan biaya,aku hanya merawatnya di rumah. Tak ada satupun yang mau menolongku dan akhirnya...adikku meninggal. Tak lama kemudian,aku dekat dengan seseorang. Dan aku menyukainya. Tapi...tak lama kemudian dia dikabarkan meninggal karena suatu kecelakaan. Menyedihkan,bukan ?”
“Setelah itu,aku berpikir. Semua derita ini harus diakhiri. Sejak itu aku mulai memakai payung hitam. Hidupku hampa. Hidupku berubah 180 derajat. Aku tidak mau berbicara dengan siapapun,aku tidak percaya dengan semua orang. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang ku sayangi lagi. Mungkin dengan memakai payung hitam itu dan bersikap dingin pada semua orang dapat membuat hidupku tenang. Jadi,lebih baik biarkan aku hidup menyendiri seperti ini. Aku mohon...” katanya sambil memandangku.
“Aku tidak peduli,aku hanya ingin berteman denganmu. Tidak bisakah kau coba kembali untuk bergembira seperti teman-teman lainnya. Kau harusnya bersyukur bisa hidup lebih lama. Aku iri denganmu,” kataku sambil terbatuk.
“Rizki,itu ada apa di bawah bibirmu ? Darah ?” tanyanya was-was.
Aku pun menyeka bibirku. Ya Tuhan,kenapa lagi-lagi muncul. Aku harus bilang apa dengan Maura. Dia tidak boleh tahu tentangku. Selamanya. Mungkin. “Oh ini,ini gara-gara saos tomat. Aku makannya terlalu cepat tadi makanya sampai mengenai bibir.”
“Jangan berbohong,Rizki...” desahnya pelan.
“Maura,maukah kau menerimaku sebagai temanmu ? Aku akan selalu ada untukmu. Kita bisa belajar bersama bareng. Dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Maukah kau membuka hatimu sedikit untukku ? Aku ingin menjadi sahabatmu...” tukasku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Aku mau kok,tak ada salahnya,kan ? Kau juga sudah baik sekali padaku. Ku mohon jangan kecewakan aku.”
“Tentu saja ! Janji pramuka !” kataku bersemangat sambil tertawa kesenangan. Dia tersenyum padaku. Dan kali ini aku benar-benar melihatnya. Bagiku,ini adalah mukjizat terindah yang pernah diberikan Allah padaku. Setidaknya selama aku hidup. Aku tidak akan pernah melupakan hal ini. Takkan pernah selamanya.
* * *
Besok paginya,sekolah heboh. Semua sibuk berkumpul di depan papan pengumuman. Aku yang baru datang pun mencoba mencari tahu. Tiba-tiba saja Maura menghampiriku dan langsung menamparku. Aku mematung di tempat.
“Kau ! Ku pikir kau berbeda dengan yang lainnya. Ku pikir kau tulus mau berteman denganku ! Nyatanya ?! Selama ini kau mendekatiku karena ingin tahu semua rahasiaku lalu menyebarkannya ke semua orang ?! Kau tega sekali padaku ! Kau...”
“Maura,ini bukan aku. Ini cuma salah paham...”
“Diam ! Aku tidak mau lagi mendengar semua kata-katamu ! Menjauhlah dariku ! Dan ku peringati kau ya ! Tidak usah berlagak menjadi pahlawan kesiangan di mataku ! Aku tidak perlu orang sepertimu ! Enyahlah dari kehidupanku !” katanya lantang dan langsung meninggalkanku dengan beribu tatapan tak menyenangkan dari semua orang.
Sungguh,hatiku perih. Serasa tertusuk ribuan paku yang terhampar di lautan. Seperti kertas yang dipotong kecil-kecil hingga menjadi serpihan debu. Dan ini pertama kalinya ada orang yang berkata kasar padaku. Yang lebih membuatku sakit,Maura yang mengatakan semua itu langsung padaku.
Benar saja,sejak kejadian itu. Dia menghindariku seperti aku ini wabah penyakit yang menular. Dan dia masih suka memakai payung hitamnya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Mungkin,ini memang takdirku.
“Riz,kamu kan sudah UAN nih. Gimana kalau kamu ikut mama berobat ke Singapura ? Ini semua demi kamu juga. Mau ya ?”
“Tapi,ma...”
“Mama tidak mau tahu,mama beri kamu waktu 3 hari untuk mengucapkan salam perpisahan untuk teman-temanmu,oke ?”
“Baiklah...” kataku sambil tersenyum simpul. Mungkin,inilah saatnya untuk memperbaiki semuanya. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maura. Dia harus tahu yang sebenarnya. Aku pun berlari ke sekolah dan mendapati dia sedang melamun dengan menenteng payung hitamnya. Lagi.
“Maura..”
Dia menoleh dan buru-buru ingin pergi dari situ.
“Aku tunggu kau besok jam 8 pagi di tepi danau tempo hari itu,aku akan menunggumu sampai kapanpun. Jadi,ku mohon datanglah. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu,” kataku tegas. Tapi dia tak menghiraukannya dan terus melangkah pergi. “Aku harap kau datang.”
Hujan turun sangat deras. Sesekali Maura menengok ke luar jendela. Dia terlihat gundah. Dia pun merebahkan badannya ke kasur. Dia memandang langi-langit kamarnya.
“Apa yang harus ku lakukan ? Apa dia masih menungguku sekarang ??? Tak mungkin,dia pasti pulang ke rumah.”
Tapi tak berapa lama kemudian,Maura mengambil mantelnya dan payung hitamnya lalu berlari menerobos hujan. Dia tak peduli lagi. Dia ingin tahu apa yang ingin dikatakan Rizki padanya. Setidaknya kali ini dia mencoba berharap.
Tapi apa yang terjadi ? Setibanya di danau itu,tak ada seorangpun di sana. Dia terus menunggu hingga malam pun tiba tetapi Rizki tidak muncul juga. Air matanya kembali mengalir.
“Dia membohongiku..”
Sepanjang perjalanan pulang,dia melihat ke langit. Bintang-bintang menghiasi langit malam itu dengan kecantikannya. Tapi tetap saja tidak bisa mengubah perasaannya yang terlalu kecewa.
“Seharusnya aku tidak mempercayainya,seharusnya aku tidak berharap banyak padanya,harusnya aku...”
* * *
Besok paginya,Maura tidak sengaja melewati sebuah kios. Di saat, air hujan menetes dengan derasnya. Dia pun mampir dan mengambil sebuah koran lalu membacanya. Tangannya bergetar. Dia sangat terpukul dan langsung menutup koran itu dan mengembalikannya.
“Ternyata aku salah selama ini...”
Dia pun mengembangkan payung hitamnya. Lalu kembali melangkah sambil memakainya walaupun saat itu sang mentari sedang bersinar dengan gagahnya. Langkahnya pelan namun pasti. Namun pandangannya kosong. Dia terus melangkah hingga menghilang di persimpangan jalan dan hingga yang dapat terlihat darinya,hanyalah sebuah payung hitam dari kejauhan.
selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar