Kamis, 27 Maret 2014

Be With you, my skycraper (chapter 2)

"Siapa gadis di sketsamu ini, Doku ? Cantik sekali dia…" tanya Lim.
Dokujin terus menggambar sketsa. “Namanya Mituna, dia satu-satunya temanku, Bu…”
"Mituna, anak kepala desa kita itu ?" Lim terkejut.
"Hmm… iya…"
"Dokujin, tidak seharusnya kamu berteman dengannya. Apalagi sampai jatuh cinta dengannya."
"Kenapa bu ?" Dokujin menghentikan sketsanya dan memandang heran kepada ibunya tersebut.
"Mituna memang anak yang baik, dia cantik, kaya, apapun yang dia inginkan pasti diwujudkan. Bukan ibu bermaksud menyakitimu, ibu hanya tidak ingin kamu terluka, nak… Karena orangtua Mituna pasti akan menjodohkan dia dengan orang yang lebih kaya dan sehat daripada kamu. Ibu tidak mau kamu terluka terlalu jauh, Dokujin…"
"Ya, aku memang tidak pantas untuk Mituna."
Dokujin mengambil semua peralatan sketsanya dan pergi ke kamarnya dengan gontai. Dia merebahkan tubuhnya dan memandang langit-langit kamarnya hampa. Lim memandang anaknya dari balik pintu dan tertunduk sedih.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, nak…"
* * *
Dokujin memasang maskernya dan berangkat ke sekolah. Jalan setapak yang dilaluinya sangat membutuhkan tenaga ekstra untuk pergi ke sekolah karena cuaca sedang tidak bersahabat. Dari kejauhan terlihat MItuna sedang mengayuh sepedanya pelan. Dia tersenyum dan menghentikan sepedanya di samping Dokujin yang terkejut dengan kehadirannya.
"Mituna…"
"Naik ke sepedaku, kita berangkat ke sekolah bersama. Mau kan ?"
"Tidak bisa, Mituna. Aku sedang sakit…" Dokujin mencari-cari alasan untuk menghindari Mituna dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Begitukah ? Ya sudah, aku duluan ya ? Sampai jumpa…" Mituna tersenyum dan mengayuh sepedanya dengan cepat.
Dunia memang kadang tak adil. Saat dia ingin menjauh, Mituna semakin dekat dengannya. Saat dia ingin mendekat, rasanya seribu jarak terbentang di depannya. Dokujin menghela napas dan merapatkan jaketnya.
Tiba-tiba dia melihat Mituna diganggu orang tak dikenal. Mitun menjerit dan meminta tolong. Dokujin pun berlari dengan cepat menyusulnya.
"Lepaskan temanku !"
"Anak bawang sepertimu mau apa ? Mau cepat mati ?"
"Lepaskan temanku ! Cepat !" bentak Dokujin. "Uhuk ! Uhuk ! Uhuk !"
"Lihat orang sakit seperti dia mau jadi pahlawan kesiangan ! Pulanglah, kembali pada ibumu dan diam di rumah sampai kau sembuh." orang itu mengibas-ngibaskan tangannya ke Dokujin.
Merasa tersinggung, Dokujin menatap ke kakinya dan melihat botol-botol berserakan. Dia pun memungut dan memukulkannya keras terhadap orang tersebut. Darah mengucur deras dari kepala orang tersebut, saat lengah, Dokujin pun menarik tangan Mituna yang ketakutan dan membawanya lari dari sana.
"Dokujin…"
"Hmm…"
"Terima kasih…"
"Ya…" jawab Dokujin pendek dan bergegas masuk ke kelas.
Mituna memandang Dokujin sambil tersenyum. Baru kali ini dia diselamatkan laki-laki yang kata teman-temannya mengidap penyakit TBC dan sangat berbahaya. Dia memutuskan, dia akan selalu berusaha menjadi teman yang baik untuk Dokujin.
Pelajaran telah dimulai, Dokujin yang duduk di dekat jendela menatap Mituna yang sedang berlari-lari di lapangan dengan gembira. Dia menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum. Tangannya pun tak henti menorehkan sketsa wajah Mituna di bukunya.
"Kau masih berani menyukai Mituna ?" ledek Khun.
"Apa maksudmu ?" Dokujin menutup buku sketsanya dan memandang tajam kepada Khun yang tersenyum tak bersahabat.
"Sebagai temanmu yang baik, aku hanya menyarankan kepadamu, seharusnya… kamu sadar, anak pengidap penyakit berbahaya dan anak seorang wanita penghibur itu tidak pantas bersanding dengan Mituna, apalagi berteman dengannya… satu lagi, apa kau tahu kalau kau itu bukan anak kandung ibumu ?"
"Ibuku seorang wanita penghibur ? Aku bukan anak kandung ibuku ? Apa maksudmu ? Tahu darimana kamu tentang berita tersebut ?"
"Kau tidak tahu ? kasihan sekali kau… lebih baik tanyakan kepastiannya dengan ibumu sendiri…" Khun tersenyum kembali dan menjauhi Dokujin.
Dokujin merapatkan maskernya dan memasukkan semua bukunya ke dalam tas. Dia berlari ke arah pintu. Dia terus berlari tanpa mempedulikan Mituna yang menyapanya. Dia kalut. Apa benar semua yang dikatakan Khun ? Apa dia bukan anak kandung ibunya ? Jika benar mengapa ibunya tidak pernah mengatakan hal tersebut ? Dia sudah besar, dia berhak tahu segala hal tentangnya.
Di rumahnya, Eric meminum teh hangatnya pelan. Lim terlihat gelisah di depannya. Dia pun meletakkan cangkir tehnya dan memandang Lim lekat-lekat.
"Benar. Benar kata semua orang, Dokujin memang bukan anak kandungku, dia ku temukan di tempat sampah saat aku pulang bekerja. Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti dari pekerjaan kotor seperti itu. Aku hanya ingin membuka lembaran baru hidupku bersama Dokujin, dia cahayaku. Dia membuat hidupku lebih berwarna lagi.  Aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri…"
"Aku tahu…"
"Jadi benar aku bukan anak kandung ibu ? Mengapa Ibu tidak mengatakannya dari dulu kepadaku ?" potong Dokujin terengah-engah.
"Dokujin !" Lim terkejut. "Ibu… bukan maksud ibu untuk…"
"Aku kecewa dengan ibu…" Dokujin berbalik dan berlari tak tentu arah.
"Dokujin ! Dokujin ! Tunggu ibu, nak ! Ibu mohon…" Lim menangis dan berusaha mengejarnya, akan tetapi dihalangi oleh Eric.
"Biarkan aku yang menjelaskannya, aku yakin dia pasti akan mengerti dengan keadaanmu, Lim. Tunggulah di sini…" Eric tersenyum tulus.
"Mohon bantuannya…bawa dia kembali untukku."
"Pasti…"
Eric berlari tak tentu arah dan bertanya kepada semua orang mengenai keberadaan Dokujin. Nihil. Tak ada yang tahu di mana sebenarnya Dokujin berada.
Dia menghentikan langkahnya di tepi danau. Sesosok bayangan terlihat  menatap lurus ke depan dan sesekali menyeka air matanya. Eric berjalan mendekat dan duduk di samping sosok yang tak lain adalah Dokujin.
Dokujin menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak seharusnya kau begitu dengan ibumu, Dokujin… Dia sangat menyayangimu, kau adalah harapan untuknya hidup selama ini. Kamu marah karena tahu tentang pekerjaan masa lalu ibumu atau tentang kau bukan anak kandung Lim ?"
"Aku tidak marah dengan ibu, paman… aku hanya kesal, mengapa aku begitu lemah saat tahu masa lalu ibu menjadi buah bibir. Aku… tidak merasa malu dengan pekerjaan ibu di masa lalu, aku juga tidak malu saat tahu aku hanya anak yang dipungut ibu di tempat sampah…"
"Begitu ya… baguslah kalau begitu…"
"Apa paman benar-benar menyukai ibuku ? Kalau jawabannya iya, aku sebagai anaknya sangat merestui paman dengan ibuku. Ungkapkanlah perasaanmu paman, menikahlah dengan ibuku. Bukannya paman sangat mencintai ibuku ?"
"Tidak semudah itu, Dokujin. Berjanjilah dengan paman, jika kau mencintai seseorang kau tidak boleh menyerah untuk mendapatkannya. Jangan seperti paman yang dulu menyerah mendapatkan ibumu dan membiarkannya pergi. Paman tidak mau kau mengalami hal yang sama seperti yang paman alami… Mau berjanji ?"
"Meskipun fisikku tidak seperti kebanyakan orang ? Oke, aku berjanji asalkan paman setelah ini langsung melamar ibuku. Dia juga sangat mencintai paman, aku tidak berbohong…"
"Baiklah. Ayo kita pulang." Eric tersenyum dan mengacak-acak rambut Dokujin.
Saat mereka berjalan kembali, seisi jalan sedang kacau. Barang-barang berbahaya dilemparkan. Aksi bakar-membakar terjadi dimana-mana. Dokujin yang melihatnya langsung memasang kembali maskernya. Tawuran antar kampung tak dapat dihindari.
Semua orang saling melempar botol dan kayu. Banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Eric yang panik pun berusaha melindungi Dokujin sebisa mungkin dari tawuran tersebut. Dia tidak ingin kehilangan Dokujin yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri hingga…
"Pamaaan !!!" teriak Dokujin.
Darah segar mengalir dari kepala Eric. Ternyata karena berusaha melindungi Dokujin, sebuah peluru menuju ke arahnya dan mengenai kepalanya. Eric pun jatuh tak sadarkan diri. Dokujin tertunduk lemas. Tangannya gemetar hebat. Darah membuat baju putihnya menjadi berwarna merah. Dia menghela napasnya dalam-dalam.
"Jaga ibumu baik-baik, Dokujin… Maaf paman tidak bisa membahagiakan ibumu, maaf.."
Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap dari bibir Eric. Tawuran telah berakhir dan menyisakan luka dalam bagi Dokujin. Hanya dia yang tersisa utuh dari peristiwa tersebut. Orang-orang yang menjadi korban tergeletak tak bernyawa lagi di sekelilingnya. Suasana sunyi senyap. Tak ada suara..
Dokujin menatap kosong kepada Eric.
Tak akan ada lagi yang dia anggap seperti ayah.
Tak akan ada lagi yang membuat ibunya tersenyum.
Tak akan ada lagi seseorang yang membuat keluarganya merasa utuh.
"Kau berjanji, paman…"
"Kau telah berjanji…"
                                              Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar