"Siapa gadis di sketsamu ini, Doku ? Cantik sekali dia…" tanya Lim.
Dokujin terus menggambar sketsa. “Namanya Mituna, dia satu-satunya temanku, Bu…”
"Mituna, anak kepala desa kita itu ?" Lim terkejut.
"Hmm… iya…"
"Dokujin, tidak seharusnya kamu berteman dengannya. Apalagi sampai jatuh cinta dengannya."
"Kenapa bu ?" Dokujin menghentikan sketsanya dan memandang heran kepada ibunya tersebut.
"Mituna memang anak yang baik, dia cantik, kaya, apapun yang dia
inginkan pasti diwujudkan. Bukan ibu bermaksud menyakitimu, ibu hanya
tidak ingin kamu terluka, nak… Karena orangtua Mituna pasti akan
menjodohkan dia dengan orang yang lebih kaya dan sehat daripada kamu.
Ibu tidak mau kamu terluka terlalu jauh, Dokujin…"
"Ya, aku memang tidak pantas untuk Mituna."
Dokujin mengambil semua peralatan sketsanya dan pergi ke kamarnya
dengan gontai. Dia merebahkan tubuhnya dan memandang langit-langit
kamarnya hampa. Lim memandang anaknya dari balik pintu dan tertunduk
sedih.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, nak…"
* * *
Dokujin memasang maskernya dan berangkat ke sekolah. Jalan setapak
yang dilaluinya sangat membutuhkan tenaga ekstra untuk pergi ke sekolah
karena cuaca sedang tidak bersahabat. Dari kejauhan terlihat MItuna
sedang mengayuh sepedanya pelan. Dia tersenyum dan menghentikan
sepedanya di samping Dokujin yang terkejut dengan kehadirannya.
"Mituna…"
"Naik ke sepedaku, kita berangkat ke sekolah bersama. Mau kan ?"
"Tidak bisa, Mituna. Aku sedang sakit…" Dokujin mencari-cari alasan
untuk menghindari Mituna dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Begitukah ? Ya sudah, aku duluan ya ? Sampai jumpa…" Mituna tersenyum dan mengayuh sepedanya dengan cepat.
Dunia memang kadang tak adil. Saat dia ingin menjauh, Mituna semakin
dekat dengannya. Saat dia ingin mendekat, rasanya seribu jarak
terbentang di depannya. Dokujin menghela napas dan merapatkan jaketnya.
Tiba-tiba dia melihat Mituna diganggu orang tak dikenal. Mitun
menjerit dan meminta tolong. Dokujin pun berlari dengan cepat
menyusulnya.
"Lepaskan temanku !"
"Anak bawang sepertimu mau apa ? Mau cepat mati ?"
"Lepaskan temanku ! Cepat !" bentak Dokujin. "Uhuk ! Uhuk ! Uhuk !"
"Lihat orang sakit seperti dia mau jadi pahlawan kesiangan !
Pulanglah, kembali pada ibumu dan diam di rumah sampai kau sembuh."
orang itu mengibas-ngibaskan tangannya ke Dokujin.
Merasa tersinggung, Dokujin menatap ke kakinya dan melihat
botol-botol berserakan. Dia pun memungut dan memukulkannya keras
terhadap orang tersebut. Darah mengucur deras dari kepala orang
tersebut, saat lengah, Dokujin pun menarik tangan Mituna yang ketakutan
dan membawanya lari dari sana.
"Dokujin…"
"Hmm…"
"Terima kasih…"
"Ya…" jawab Dokujin pendek dan bergegas masuk ke kelas.
Mituna memandang Dokujin sambil tersenyum. Baru kali ini dia
diselamatkan laki-laki yang kata teman-temannya mengidap penyakit TBC
dan sangat berbahaya. Dia memutuskan, dia akan selalu berusaha menjadi
teman yang baik untuk Dokujin.
Pelajaran telah dimulai, Dokujin yang duduk di dekat jendela menatap
Mituna yang sedang berlari-lari di lapangan dengan gembira. Dia
menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum. Tangannya pun tak henti
menorehkan sketsa wajah Mituna di bukunya.
"Kau masih berani menyukai Mituna ?" ledek Khun.
"Apa maksudmu ?" Dokujin menutup buku sketsanya dan memandang tajam kepada Khun yang tersenyum tak bersahabat.
"Sebagai temanmu yang baik, aku hanya menyarankan kepadamu,
seharusnya… kamu sadar, anak pengidap penyakit berbahaya dan anak
seorang wanita penghibur itu tidak pantas bersanding dengan Mituna,
apalagi berteman dengannya… satu lagi, apa kau tahu kalau kau itu bukan
anak kandung ibumu ?"
"Ibuku seorang wanita penghibur ? Aku bukan anak kandung ibuku ? Apa maksudmu ? Tahu darimana kamu tentang berita tersebut ?"
"Kau tidak tahu ? kasihan sekali kau… lebih baik tanyakan
kepastiannya dengan ibumu sendiri…" Khun tersenyum kembali dan menjauhi
Dokujin.
Dokujin merapatkan maskernya dan memasukkan semua bukunya ke dalam
tas. Dia berlari ke arah pintu. Dia terus berlari tanpa mempedulikan
Mituna yang menyapanya. Dia kalut. Apa benar semua yang dikatakan Khun ?
Apa dia bukan anak kandung ibunya ? Jika benar mengapa ibunya tidak
pernah mengatakan hal tersebut ? Dia sudah besar, dia berhak tahu segala
hal tentangnya.
Di rumahnya, Eric meminum teh hangatnya pelan. Lim terlihat gelisah
di depannya. Dia pun meletakkan cangkir tehnya dan memandang Lim
lekat-lekat.
"Benar. Benar kata semua orang, Dokujin memang bukan anak kandungku,
dia ku temukan di tempat sampah saat aku pulang bekerja. Sejak saat itu,
aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti dari pekerjaan kotor
seperti itu. Aku hanya ingin membuka lembaran baru hidupku bersama
Dokujin, dia cahayaku. Dia membuat hidupku lebih berwarna lagi. Aku
sangat menyayanginya seperti anakku sendiri…"
"Aku tahu…"
"Jadi benar aku bukan anak kandung ibu ? Mengapa Ibu tidak mengatakannya dari dulu kepadaku ?" potong Dokujin terengah-engah.
"Dokujin !" Lim terkejut. "Ibu… bukan maksud ibu untuk…"
"Aku kecewa dengan ibu…" Dokujin berbalik dan berlari tak tentu arah.
"Dokujin ! Dokujin ! Tunggu ibu, nak ! Ibu mohon…" Lim menangis dan berusaha mengejarnya, akan tetapi dihalangi oleh Eric.
"Biarkan aku yang menjelaskannya, aku yakin dia pasti akan mengerti
dengan keadaanmu, Lim. Tunggulah di sini…" Eric tersenyum tulus.
"Mohon bantuannya…bawa dia kembali untukku."
"Pasti…"
Eric berlari tak tentu arah dan bertanya kepada semua orang mengenai
keberadaan Dokujin. Nihil. Tak ada yang tahu di mana sebenarnya Dokujin
berada.
Dia menghentikan langkahnya di tepi danau. Sesosok bayangan terlihat
menatap lurus ke depan dan sesekali menyeka air matanya. Eric berjalan
mendekat dan duduk di samping sosok yang tak lain adalah Dokujin.
Dokujin menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak seharusnya kau begitu dengan ibumu, Dokujin… Dia sangat
menyayangimu, kau adalah harapan untuknya hidup selama ini. Kamu marah
karena tahu tentang pekerjaan masa lalu ibumu atau tentang kau bukan
anak kandung Lim ?"
"Aku tidak marah dengan ibu, paman… aku hanya kesal, mengapa aku
begitu lemah saat tahu masa lalu ibu menjadi buah bibir. Aku… tidak
merasa malu dengan pekerjaan ibu di masa lalu, aku juga tidak malu saat
tahu aku hanya anak yang dipungut ibu di tempat sampah…"
"Begitu ya… baguslah kalau begitu…"
"Apa paman benar-benar menyukai ibuku ? Kalau jawabannya iya, aku
sebagai anaknya sangat merestui paman dengan ibuku. Ungkapkanlah
perasaanmu paman, menikahlah dengan ibuku. Bukannya paman sangat
mencintai ibuku ?"
"Tidak semudah itu, Dokujin. Berjanjilah dengan paman, jika kau
mencintai seseorang kau tidak boleh menyerah untuk mendapatkannya.
Jangan seperti paman yang dulu menyerah mendapatkan ibumu dan
membiarkannya pergi. Paman tidak mau kau mengalami hal yang sama seperti
yang paman alami… Mau berjanji ?"
"Meskipun fisikku tidak seperti kebanyakan orang ? Oke, aku berjanji
asalkan paman setelah ini langsung melamar ibuku. Dia juga sangat
mencintai paman, aku tidak berbohong…"
"Baiklah. Ayo kita pulang." Eric tersenyum dan mengacak-acak rambut Dokujin.
Saat mereka berjalan kembali, seisi jalan sedang kacau. Barang-barang
berbahaya dilemparkan. Aksi bakar-membakar terjadi dimana-mana. Dokujin
yang melihatnya langsung memasang kembali maskernya. Tawuran antar
kampung tak dapat dihindari.
Semua orang saling melempar botol dan kayu. Banyak orang tak bersalah
yang menjadi korban. Eric yang panik pun berusaha melindungi Dokujin
sebisa mungkin dari tawuran tersebut. Dia tidak ingin kehilangan Dokujin
yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri hingga…
"Pamaaan !!!" teriak Dokujin.
Darah segar mengalir dari kepala Eric. Ternyata karena berusaha
melindungi Dokujin, sebuah peluru menuju ke arahnya dan mengenai
kepalanya. Eric pun jatuh tak sadarkan diri. Dokujin tertunduk lemas.
Tangannya gemetar hebat. Darah membuat baju putihnya menjadi berwarna
merah. Dia menghela napasnya dalam-dalam.
"Jaga ibumu baik-baik, Dokujin… Maaf paman tidak bisa membahagiakan ibumu, maaf.."
Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap dari bibir Eric. Tawuran
telah berakhir dan menyisakan luka dalam bagi Dokujin. Hanya dia yang
tersisa utuh dari peristiwa tersebut. Orang-orang yang menjadi korban
tergeletak tak bernyawa lagi di sekelilingnya. Suasana sunyi senyap. Tak
ada suara..
Dokujin menatap kosong kepada Eric.
Tak akan ada lagi yang dia anggap seperti ayah.
Tak akan ada lagi yang membuat ibunya tersenyum.
Tak akan ada lagi seseorang yang membuat keluarganya merasa utuh.
"Kau berjanji, paman…"
"Kau telah berjanji…"
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar