Selasa, 08 Juli 2014

Tale of the Rainbow Rose - #1

Aku membuka mata. Menoleh ke kanan dan kiriku. Sama saja. Aku masih berada di rumah, di sebuah negeri yang mewajibkan seluruh warganya untuk memakai gaun (untuk cewek). Ya, inilah negeri Rosetalia, negeri yang ditumbuhi dengan bunga-bunga mawar dengan bermacam warna yang indah. Aku meloncat dari ranjang dan langsung memakai bajuku, berlari menuruni tangga, berharap orangtuaku telah pulang dari pekerjaannya.

Namaku Susan Princessa Lipton. Orangtuaku bekerja sebagai pemburu penyihir. Pada zaman dahulu kala, negeri kami dikuasai oleh sebuah sihir hitam yang sangat jahat. Akan tetapi, berkat keahlian orangtuaku dan seluruh warga yang membantunya, para penyihir itu pun dapat ditangkap dan dilenyapkan. Sejak saat itu, orangtuaku menjadi sangat terkenal begitupula kakakku, Iskandar. Dia juga memiliki keahlian untuk memburu para penyihir jahat itu. Sedangkan aku ? Aku hanyalah gadis biasa, yang juga hobi berburu… bukan, bukan berburu penyihir seperti mereka, aku hanya berburu hewan untuk makanan kami sehari-hari.

“Mama, apa kalian berhasil memburu penyihir itu ?”

“Tidak, sayang.” Marie membelai lembut rambut anak kesayangannya itu dan tersenyum. “Para penyihir itu kemungkinan sudah melarikan diri dan sedang bersembunyi. Asalkan mereka tidak menyerang negeri kita lagi, tidak ada perburuan penyihir lagi dan keluarga kita bisa berkumpul lagi.”

Aku tersenyum. Aku melirik ayah dan kakakku yang sedang terlelap kelelahan. Aku mengambil wadah anak panah dan busur, menggantungkannya di bahuku, siap untuk berburu hari ini.

“Aku pergi sebentar, ma…”

“Hati-hati, Susan…” Marie tersenyum lembut.

Aku menepuk dadaku tiga kali dan tersenyum. Ya, itu merupakan kebiasaan dalam keluarga kami yang mengartikan bahwa kami akan baik-baik saja. Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Bersiul merdu kepada burung-burung yang hinggap di dahan pohon beringin kami. Saat aku siap untuk membidikkan panahku ke salah satu ranting pohon tersebut, aku tidak mahir memanjat pohon apel, jadi lebih baik memanahnya.

“Hai, Susan…”

Aku terkejut, membalikkan badanku dan siap untuk membidik siapa saja yang berada di belakangku. Orang itu tersenyum geli. Aku pun menurunkan busurku dan cemberut. “Leo, jangan membuatku terkejut lagi…”

Laki-laki yang bernama Leo itu pun menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menggaruk kepalanya. Dia memang orang yang aneh. Dia selalu mengimpikan untuk menemukan balon udara, entah apa yang membuatnya begitu tergila-gila pada sebuah balon. Dia tidak pernah sekolah seperti kami, orangtua angkatnya tidak pernah bersikap baik padanya dan menganggapnya hanya sebagai pelayan. Semua orang meremehkannya, mengucilkannya, bahkan sering melemparinya dengan apa saja karena keanehannya. Aku juga mungkin tidak akan mau berteman dengannya jika saja dia tidak menolong dan mengobatiku saat aku digigit beruang 7 tahun yang lalu.

Pernah dulu saat kami sekolah, dia mengintip dari balik jendela dan ikut belajar. Seperti itu terus setiap hari, hingga dia ketahuan dan langsung diusir dari sekolah tersebut. Dia memandangku sekilas dan berlari menuju pohon kesayangannya, memanjat pohon tersebut dan tidur seharian di sana. Aku sering merasa bersalah dengannya tapi aku memang tidak bisa membantunya, aku juga hanyalah rakyat biasa.

“Mau berburu lagi ?” tanya Leo dengan polosnya.

“Kau lihat aku membawa apa, kan ? Sudah pasti aku berburu…” jawabku sambil merengut kesal.
“Boleh aku ikut ? Mungkin aku bisa melihat balon udara atau aku bisa membuat balon dari tanaman gelembung. Boleh kan ? Aku mohon, Susan…” mohon Leo dengan tatapan memelasnya.

Aku menghembuskan napas dan menganggukkan kepalaku. Dia melompat gembira dan segera saja mengambil tas kecilnya dan berjalan di belakangku. Kadang aku merasa tidak seusia dengannya, aku merasa berjalan dengan seorang anak kecil yang tergila-gila pada sebuah balon. Tapi dia tidak peduli, dia terus mengagumi keindahan mawar-mawar yang sedang mekar dan mengatakan hal-hal yang tidak ku mengerti.

“Beri jalan kepada pangeran Glen !”

Aku terkesiap dan segera menarik Leo untuk menyingkir. Pangeran Glen dengan kudanya melenggang gagah melewati kami. Aku tersenyum walaupun dia tidak menoleh kepadaku. Dia selalu tampan dan membuat jantungku berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tapi aku sadar, aku hanyalah warga biasa, dia adalah seorang pangeran. Cinta kami tidak akan pernah bisa bersatu. Setidaknya perasaanku kepadanya tidak akan pernah terbalas, dia pasti sudah ditunangkan dengan putri kerajaan lain yang sangat cantik dan lemah lembut, tidak sepertiku.

“Kau tahu ? Aku mungkin jauh lebih tampan dari pangeran itu…”

“Diamlah kau…”

“Mengapa semua gadis di negeri kita begitu tergila-gila pada pangeran pesolek itu ?” tanya Leo sambil memetik setangkai mawar biru dan memandanginya.

“Kau ingin tahu ? Itu sama saja dengan mengapa kau bisa begitu tergila-gila pada sebuah balon. Jelas ?” jawabku ketus.

“Balon ? Dimana balon ? Kau melihatnya ? Dimana, Susan ?” tanyanya histeris dan berlari tak tentu arah.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mencoba tetap tenang menghadapi tingkah laku Leo. Aku seringkali merasa risih harus menghadapi tatapan orang-orang terhadapku yang mau berteman dengan anak balon tersebut, jika saja mereka semua tahu aku terpaksa. Aku merasa ikut aneh. Andaikan saja aku tidak berhutang nyawa padanya, mungkin aku tidak akan merasa seperti ini.

“Dengarkan aku, anak balon. Diamlah… aku tidak berkonsentrasi untuk berburu sementara kau terus membicarakan hal yang tidak jelas tentang balonmu itu. Aku akan mencarikanmu balon, tapi tidak sekarang, oke ?”

“Jika itu lebih baik…” Leo tersenyum. Dia memanjat pohon yang berada tidak jauh dariku dan bergelantungan dengan gembira. Kadang aku kagum juga dengannya, saat dia mulai bernyanyi dan dikelilingi semua burung yang cantik. Seolah ada sebuah kekuatan yang membuatnya terlihat begitu istimewa.

“Balon, dimanakah dikau berada ? Tidak tahukah dikau bahwa daku sangat merindukan dikau ? Daku sangat ingin bertemu denganmu, apa yang harus daku lakukan ? Dikau meninggalkan daku bersama gadis aneh yang bisanya hanya cemberut dan berburu, daku merasa tidak betah…”

“Kau bicara dengan siapa ? Dengan kumpulan burung ini ? Mereka tidak bisa berbicara…” kataku kesal.

“Apa maksudmu ? Aku bisa berbicara, nona membosankan…” jawab salah satu burung berparuh biru menoleh ke arahku.

“Apa-apaan itu !” Aku terlonjak dan mundur ke belakang dengan tanganku yang siap siaga untuk membidikkan panahku ke arah burung itu. Mana mungkin burung itu bisa berbicara, aku pun memejamkan mataku. Berharap semua ini hanyalah mimpi. Aku pun membuka mataku kembali. Leo dan sekumpulan burung itu masih berada di tempatnya semula.

“Susan, kau baik-baik saja ?” tanya Leo cemas. “Tuan Flicker hanya bermaksud menyapamu, dia tidak beniat jahat padamu. Turunkan busurmu itu…”

“Tuan Flicker ? Maksudmu nama burung biru yang berbicara padaku ini adalah Flicker ? Kau gila, Leo ! Aku gila !”

“Tenanglah nona, jika aku ingin, mungkin aku akan menggigit tanganmu itu atau mematahkan busurmu itu jika saja…”

“Tuan Flicker !” potong Leo.

“Baiklah…”

Aku menurunkan busurku dan menenangkan diriku. Ini pertama kalinya aku melihat burung bisa bebicara, bersama Leo. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Well, walaupun dia selalu melakukan hal-hal yang aneh tapi bukan dia kan yang membuat burung ini bisa berbicara ? Leo hanyalah remaja laki-laki biasa dengan matanya yang coklat dan sayu serta rambut yang selalu berantakan. Siapa dia sebenarnya ?

“Susan…aku merasa sangat mengantuk, jika kau ingin berburu, pergilah… Aku mau tidur di sini saja, jangan khawatirkan aku. Tidak akan ada yang menyakitiku, bahkan pangeran itu…”

“Leo…” gumamku datar.

“Tidak, aku sudah lelah. Aku akan duduk di sini untuk melihat matahari terbenam. Aku akan melindungimu…”

"Terserah kau saja, anak balon..." jawabku heran dengan perkataannya.

Leo sudah terlelap dalam tidurnya. Aku tersenyum. Dia memang terkadang menyebalkan tapi dia juga satu-satunya teman yang bisa mengerti aku. Aku masih ingat 7 tahun yang lalu, saat aku masih berusia 9 tahun dan mencoba untuk berburu pertama kalinya. Itu adalah pertama kalinya aku ditinggalkan orangtuaku untuk bekerja. Dan aku merasa, sebentar lagi hidupku tidak akan sedamai ini lagi. Perang mungkin akan segera dimulai, antara kami dan para penyihir itu. Tidak akan lama lagi…

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar